Darah Syahid Seorang Penjaga Mushaf

Darah Syahid Seorang Penjaga Mushaf
Darah Syahid Seorang Penjaga Mushaf
Darah Syahid Seorang Penjaga Mushaf
Darah Syahid Seorang Penjaga Mushaf

Darah Syahid Seorang Penjaga Mushaf – Langit Madinah pada hari itu tampak lebih sendu dari biasanya. Angin gurun berhembus lembut, membawa partikel debu yang mengambang pelan di udara, seolah turut berkabung.

Di balik dinding sebuah rumah yang dikepung kebencian dan hasutan, seorang lelaki tua duduk bersandar, matanya menatap langit-langit rumah dengan penuh ketenangan. Tubuhnya ringkih, rambut dan janggutnya telah memutih. Tapi dari wajahnya terpancar cahaya yang tidak pernah pudar.

Lelaki itu adalah Utsman bin Affan رضي الله عنه, menantu Rasulullah ﷺ, pemilik dua cahaya (Dzun Nurain), dan Khalifah ketiga kaum Muslimin. Beliau adalah sahabat pilihan, pemimpin yang lembut, dan dermawan yang tak pernah letih menyumbangkan hartanya demi Islam.

Hari-hari senjanya dihabiskan bukan dalam istana megah atau perjalanan berburu, melainkan dalam tadabbur ayat-ayat Allah di dalam rumahnya yang sederhana.

Satu Mushaf

Utsman duduk tenang, mushaf Al-Qur’an terbuka di pangkuannya. Ayat-ayat suci yang pernah ia bantu kodifikasikan kini terpatri dalam dadanya, mengalir dari lisannya dalam bisikan pelan yang nyaris seperti hembusan angin malam.

Ia tahu, jam-jamnya telah mendekat. Ia tahu bahwa rumahnya dikepung oleh para pemberontak. Tapi yang ia pegang bukan pedang, melainkan mushaf.

Baca Juga:

Tangannya yang lemah menggenggam lembaran wahyu seperti menggenggam janji Tuhan, dan lisannya melantunkan ayat-ayat yang menenteramkan jiwa:

“Cukuplah Allah (yang menjadi pelindungmu) terhadap mereka, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 137)

Ayat inilah yang terus beliau ulang-ulang, seolah hendak menjadikannya pelindung terakhir ketika dunia manusia telah memburuk dan luka fitnah menyelimuti umat.

Jeritan dari Luar Dinding

Jeritan itu datang tidak dari kaum kafir, bukan dari tentara Romawi atau Persia, tapi dari mereka yang mengaku Muslim. Mereka datang dari Kufah, Basrah, dan Mesir. Mereka bukan penakluk, tetapi pembawa fitnah.

Mata mereka menyala oleh amarah palsu, dan hati mereka telah membeku oleh bisikan Abdullah bin Saba’, seorang munafik yang menyusupkan api dalam rumah Islam.

Utsman tahu. Beliau menyadari bahwa ini bukan sekadar kritik kebijakan, tapi badai fitnah yang sedang ditakdirkan menimpa umat. Dan di tengah badai itu, ia memilih diam, dan pasrah kepada Allah.

Para sahabat besar datang—Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair, Hasan, dan Husain—semuanya menawarkan perlindungan dan pertahanan.

Namun Utsman menolak. Dengan suara lirih namun tegas, ia berkata:

“Aku tidak ingin satu tetes darah pun tertumpah demi menyelamatkanku. Biarkan aku bertemu Rabb-ku dalam keadaan aku tidak menumpahkan darah seorang Muslim pun.”

Inilah luhurnya jiwa seorang pemimpin sejati: memilih syahid daripada menumpahkan darah sesama Muslim, walau dirinya dizalimi.

Mimpi Langit

Beberapa malam sebelum wafatnya, Utsman bermimpi. Dalam tidurnya yang tenang di tengah kepungan, ia melihat Rasulullah ﷺ datang menghampirinya. Di sisi Nabi ﷺ ada Abu Bakar dan Umar.

“Wahai Utsman,” kata Nabi ﷺ, “mereka akan mengepungmu. Bersabarlah. Sebentar lagi engkau akan berbuka puasa bersama kami.”

Maka pagi itu, pada 18 Dzulhijjah tahun 35 Hijriah, Utsman memulai harinya dengan berpuasa, bukan sebagai bentuk pelarian, tetapi bentuk keteguhan: ia ingin wafat dalam keadaan suci, dalam ibadah, dalam keheningan doa.

Darah yang Menetes di Mushaf

Ketika matahari masih menggantung rendah di langit Madinah, pintu rumahnya di dobrak. Para pemberontak masuk dengan amarah, namun mereka di hadapkan pada pemandangan yang membungkam: seorang lelaki tua, duduk tenang, membaca Al-Qur’an.

Lalu satu tebasan mengoyak tubuhnya.

Darah memercik.

Namun dunia berhenti bukan karena kematiannya, tapi karena ke mana darah itu jatuh: tepat ke atas mushaf yang di bacanya, mengenai ayat:

فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Cukuplah Allah (yang menjadi pelindungmu) terhadap mereka, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 137)

Seakan ayat itu bukan hanya dibaca, tetapi di saksikan oleh darahnya. Satu saksi abadi bahwa ia syahid bukan karena politik, tapi karena Al-Qur’an yang ia jaga dengan jiwa dan raga.

Pemakaman yang Diam

Utsman wafat pada usia 82 tahun, dalam keadaan berpuasa dan membaca Al-Qur’an.

Namun jasadnya tidak langsung di kuburkan. Para pemberontak bahkan menghalangi pemakamannya di kompleks Baqi’. Maka, dengan tangis tertahan, para sahabat membawa jenazahnya ke Hasy Kaukab, sebuah area pekuburan Yahudi di sebelah Baqi’.

Pemakaman dilakukan diam-diam pada malam hari, tanpa iringan pasukan, tanpa upacara, tanpa keramaian. Tapi langit Madinah menjadi saksi, bahwa malam itu bumi menerima jasad seorang penjaga wahyu.

Di kemudian hari, wilayah Hasy Kaukab di gabungkan ke dalam kompleks Baqi’, dan makam beliau kini berada di sana, di antara para penghuni surga.

Warisan yang Lebih Tajam dari Pedang

Utsman bin Affan adalah seorang mujahid, ahli ibadah, dan seorang pemimpin. Tapi jika dunia ingin mengenangnya dalam satu kalimat, maka biarlah itu disebut:

“Penjaga Mushaf.”

Dialah yang memerintahkan pengumpulan Al-Qur’an dalam satu mushaf baku, agar umat Islam tidak berselisih dalam bacaan dan riwayat. Ia mengirimkan mushaf itu ke berbagai wilayah Islam—sebuah langkah monumental yang menjaga kesatuan teks Al-Qur’an hingga hari ini.

Bayangkan: dari Indonesia hingga Afrika, dari Bosnia hingga Uyghur, dari Mekkah hingga Amerika, setiap Muslim membaca mushaf yang di wariskan Utsman bin Affan.

Satu teks. Satu lafaz. Satu ummat.

Rekening Abadi Utsman bin Affan

Utsman bin Affan رضي الله عنه di kenal bukan hanya karena kelembutan dan syahidnya, tapi juga karena sedekahnya yang tak pernah mati. Salah satu kisah luar biasa yang masih hidup hingga hari ini adalah tentang sumur dan tanah wakaf yang terus mengalirkan pahala bahkan lebih dari 1400 tahun setelah wafatnya.

Pada masa awal Hijrah, kaum Muslimin di Madinah kesulitan air bersih. Satu-satunya sumur yang layak adalah Sumur Rumah, yang di miliki oleh seorang Yahudi. Ia menjual air dengan harga tinggi. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

“Siapa yang membeli sumur Rumah, lalu menjadikannya sedekah bagi kaum Muslimin, maka baginya surga.”

Tanpa ragu, Utsman bin Affan membeli sumur itu dengan harga mahal, lalu melewakkannya untuk umat. Tapi ia tidak berhenti di situ.

Ia juga membeli sebidang tanah luas di sekitar sumur itu, dan mewakafkannya untuk perkebunan kurma yang hasilnya di gunakan untuk fakir miskin, pejuang Islam, dan umat di Madinah.

Hebatnya, wakaf itu masih ada hingga hari ini di Arab Saudi. Pohon-pohon kurma yang di tanam dari dulu tetap hidup dan terus menghasilkan. Pemerintah Saudi bahkan membuatkan rekening bank atas nama Wakaf Utsman bin Affan.

Dan dari hasil kebun itu di bangun hotel mewah di Madinah, di mana semua keuntungannya kembali ke rekening wakaf tersebut untuk kepentingan umat Islam.

Inilah yang di sebut oleh para ulama sebagai rekening abadi, sedekah jariyah yang tak pernah putus. Bahkan setelah tubuhnya di kubur di Baqi’, Utsman masih memberi makan orang miskin, menyediakan air untuk para musafir, dan membiayai amal hingga akhir zaman.

Kesabaran yang Menggetarkan Langit

Utsman bukan hanya pemimpin yang adil, ia adalah simbol kesabaran total. Ia menahan diri ketika di fitnah. Ia tidak melawan ketika di zalimi. Ia tidak membalas ketika di benci. Dan bahkan dalam detik-detik terakhirnya, ia lebih memilih Al-Qur’an daripada pedang.

Kesabaran seperti ini tidak lahir dari politik, tetapi dari iman yang mengakar dalam. Sebuah iman yang berkata:

“Tak ada musuh yang lebih aku takuti selain mengecewakan Allah.”

Ia Masih Hidup dalam Ayat

Utsman bin Affan telah pergi.

Tapi ia tidak pernah benar-benar mati.

Ia hidup dalam setiap ayat yang kita baca. Dalam setiap mushaf yang kita genggam. Dalam setiap shalat yang kita lafalkan dengan huruf yang ia jaga.

Jika sejarah adalah tinta, maka darah Utsman adalah tinta yang paling suci.

Jika mushaf adalah cahaya, maka jiwanya adalah pelita abadi di dalamnya.

Dan jika Islam adalah taman, maka Utsman adalah penjaga gerbangnya—yang rela mati, asalkan taman itu tetap suci.

Baca Juga: Kisah Sya’ban, Sahabat Nabi yang Menyesal Saat Sakaratul Maut

Doa dari Umat yang Berterima Kasih

اللَّهُمَّ اجْزِ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ عَنَّا وَعَنِ الْإِسْلَامِ خَيْرَ الْجَزَاءِ،

وَارْزُقْنَا صَبْرَهُ وَإِيمَانَهُ وَوَفَاءَهُ،

وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَكَ كَمَا كَانَ يَتْلُوهُ فِي آخِرِ أَيَّامِهِ،

وَارْزُقْنَا مَوْتَةً حَسَنَةً كَمَوْتِهِ،

فِي حَالِ صِيَامٍ وَذِكْرٍ، عَلَى كَلِمَاتِكَ الْمُبَارَكَةِ.

“Ya Allah, balaslah Utsman bin Affan dengan balasan terbaik atas pengorbanannya bagi Islam dan umat ini. Anugerahkan kami kesabaran, keimanan, dan kesetiaan seperti yang ia miliki.

Jadikan kami termasuk orang-orang yang membaca kitab-Mu sebagaimana ia membacanya di hari terakhir hidupnya. Karuniakan kepada kami kematian yang baik seperti kematiannya: dalam puasa, dzikir, dan ayat-ayat-Mu yang penuh berkah.”

Oleh: Ki Pekathik