Sabilulhuda, Yogyakarta – Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat iklan sabun atau produk kesehatan yang menampilkan anak-anak bermain di luar rumah, lalu ketika masuk ke rumah mereka diminta untuk mencuci tangan dan kaki.
Begitu juga orang tua yang menyuruh anaknya untuk membersihkan diri sebelum makan, sebelum tidur, atau sebelum melakukan kegiatan lainnya. Semua itu tentu baik, karena menjaga kebersihan juga bagian dari kebaikan.
Namun jika kita perhatikan lebih dalam, kebiasaan bersih-bersih seperti ini sebenarnya hanya memberi manfaat secara duniawi saja. Kita menjadi bersih, sehat, dan terhindar dari penyakit. Tetapi apakah kebiasaan tersebut memberi nilai di sisi Allah? Belum tentu.
Karena niatnya semata-mata hanya untuk membersihkan diri, bukan ibadah. Inilah mengapa menarik untuk membahas bagaimana kebiasaan bersih dalam Islam bisa diubah menjadi amalan yang bernilai dunia sekaligus akhirat.
Belajar dari Mereka yang Menjaga Wudhu
Suatu waktu, saya pernah bertemu dengan seorang sahabat dari Timur Tengah. Setiap kali masuk waktu shalat, ia langsung shalat, bahkan masih memakai kaos kakinya. Awalnya saya heran, bagaimana mungkin ia berwudhu tanpa melepas kaos kaki?
Baca Juga:
Dalam kebiasaan kita di Indonesia, wudhu biasanya dilakukan di tempat wudhu dengan air yang berlimpah, sehingga kita pasti melepas kaos kaki sebelum wudhu.
Ketika saya bertanya, ia hanya tersenyum dan berkata, “Saya sudah berwudhu sejak tadi.”
Baru saya paham bahwa ia sudah berwudhu sebelumnya dan menjaga wudhunya agar tetap sah. Kemungkinan besar karena di daerahnya akses air tidak selalu mudah, sehingga ketika mendapatkan air, mereka langsung berwudhu dan berusaha menjaganya hingga batal.
Kebiasaan itu terbawa sampai ke Indonesia. Banyak dari mereka bisa tetap berada dalam keadaan suci hampir sepanjang hari. Dan itu terasa sangat indah. Setiap aktivitas menjadi ringan, hati terasa tenang, dan langkah terasa lebih berarah. Inilah salah satu keutamaan menjaga wudhu yang seringkali kita lewatkan.
Mengapa Tidak Mengubah Kebiasaan Bersih Kita Menjadi Wudhu?
Kalau kita kembali pada kebiasaan bersih-bersih yang diajarkan orang tua seperti mencuci tangan, membasuh kaki, membasuh wajah. Sebenarnya aktivitas itu mirip dengan sebagian dari rukun wudhu. Kita hanya perlu menyempurnakannya dengan niat dan urutan yang benar agar menjadi ibadah.
Allah telah memerintahkan wudhu sebagai syarat shalat dalam QS. Al-Maidah 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu, tanganmu sampai siku, sapulah kepalamu, dan basuhlah kakimu sampai kedua mata kaki…”
Dari ayat ini, kita bisa melihat bahwa wudhu bukan sekadar bersih-bersih. Ia adalah bentuk ibadah. Dan jika kita membiasakan wudhu dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan sederhana ini akan berubah menjadi amal yang bernilai.
Setidaknya ada enam rukun wudhu:
- Niat wudhu
- Membasuh wajah
- Membasuh tangan hingga siku
- Mengusap sebagian kepala
- Membasuh kaki hingga mata kaki
- Tertib dan berurutan
Menariknya, tiga dari enam rukun wudhu sudah sering kita lakukan dalam aktivitas bersih-bersih. Maka mengapa tidak sekalian kita sempurnakan saja?
Baca Juga:
Manfaat Wudhu yang Lebih Luas dari Sekedar Kebersihan
Jika kita berbicara tentang manfaat wudhu, sesungguhnya wudhu bukan hanya menyucikan tubuh dari kotoran, tetapi juga menyegarkan hati dan jiwa. Nabi SAW. menjelaskan bahwa wudhu mampu melepaskan “ikatan-ikatan” yang membuat seseorang malas, berat, dan kusut hatinya.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW. bersabda bahwa setan mengikat orang yang tidur dengan tiga ikatan. Ketika seseorang bangun lalu menyebut nama Allah, satu ikatan terlepas. Kemudian ia berwudhu, ikatan kedua terlepas. Ketika melanjutkan dengan salat, ikatan ketiga pun terlepas. Setelah itu, orang tersebut akan bersemangat dan berhati jernih.
Masya Allah… betapa besar dampak wudhu untuk hidup kita: bukan hanya tubuh yang bersih, tetapi hati pun ikut terang.
Mulailah dari Hal Sederhana, Ganti Kebiasaan Bersih-Bersih dengan Wudhu
Kita bisa membiasakan diri dan keluarga untuk berwudhu saat:
- masuk rumah,
- sebelum tidur,
- bangun tidur,
- sebelum bepergian,
- setelah pulang beraktivitas,
- atau saat ingin merasa segar kembali.
Perlahan-lahan, tubuh akan terbiasa berada dalam keadaan suci. Anak-anak pun akan tumbuh dengan kebiasaan yang baik. Mereka tidak hanya bersih secara fisik, tetapi juga terbiasa menjaga hubungan dengan Allah.
Kebiasaan yang kecil seperti ini, tetapi akan berdampak besar.
Islam telah mengajarkan banyak hal, termasuk bagaimana bersih-bersih yang tidak hanya menyehatkan bagi tubuhnya saja, tetapi juga dapat menenangkan jiwa. Dan wudhu adalah salah satu anugerah yang Allah berikan agar kita selalu terhubung kepada-Nya.
Maka mari kita mulai membiasakan diri untuk berwudhu, bukan hanya ketika hendak shalat, tetapi sebagai bagian dari keseharian. Semoga kita menjadi hamba yang senantiasa suci, dekat kepada Allah, dan selalu berada dalam rahmat-Nya.
Ya Allah, ampunilah kami…
Baca Juga: 20 Menit Menag Antri di Kamar Mandi Mina















