Diceritakan ada seorang wanita yang taat beribadah. Sebut saja Rinda. Setiap harinya, ia selalu melakukan kebaikan kepada siapapun. Hanya saja ia belum mau untuk mengenakan hijab untuk menutupi auratnya.
Suatu hari tatkala adzan dzuhur mulai berkumandang, Rinda bergegas untuk menuju ke masjid. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan salah satu tetangganya. Sebut saja Bu Irma. Terjadilah perbincangan diantara mereka.
Bu Irma: ” Wah! Mbak Rinda ini yaa, udah, cantik, sukses, sholihah lagi.”
Rinda : “Bu Irma ini bisa aja.” (Rinda tersenyum dan tersipu malu)
Bu Irma : “Lha ngomong-ngomong, apa Mbak Rinda ngga ada niatan buat pakai kerudung?”
Rinda : “InsyaAllah suatu saat bu, yang penting hatinya dulu yang dihijabi hehehe.”
Tidak terasa matahari digantikan oleh bulan dan bintang. Rinda yang sedang mengerjakan tugas kantornya mulai capek dan ingin segera tidur. Jarum jam menunjukkan pukul 22.45, mata Rinda kemerahan karena menahan kantuk. Beberapa saat kemudian ia terlelap diatas kasurnya.
Dalam lelapnya, Rinda bermimpi sedang berada di sebuah taman yang sangat indah. Bunga bermekaran, air jernih mengalir, rumput-rumputan hijau membentang. Bahkan ia dapat merasakan apa yang sedang dimimpikannya.
Adzan shubuh berkumandang, Rinda terbangun dari tidurnya. Ia sempat tersenyum mengingat mimpinya tadi malam. Dinginnya air wudhu tidak ia rasakan, dengan cepat ia berjalan ke masjid. Sholat shubuh pun telah usai, ia menyempatkan beberapa menit untuk baca Al-Qur’an. Setelah itu, ia kembali ke rumahnya.
Pukul 7.30 Rinda bersiap untuk berangkat ke kantornya. Sesampainya di jalan, ia melihat seorang wanita yang mengenakan kerudung syar’i dan mengenakan cadar. Ia sempat terkagum dengan wanita tersebut ‘MasyaAllah! Betapa indahnya wanita itu’. Rinda masih terngiang-ngiang dengan wanita tersebut, dalam hati ia sebenarnya ingin mengenakan jilbab tapi entah apa yang membuatnya ragu untuk mengenakannya.
Setengah hari penuh Rinda lewati di kantornya, tidak terasa waktu pulang pun tiba. Setibanya sampai dirumah, ia langsung mandi lalu bersiap untuk menjalankan sholat maghrib. Beberapa menit kemudian, sholat maghrib telah dikerjakannya. Dalam waktu senggang antara maghrib dan isya’, terkadang ia membantu ustadzah untuk mengajar anak-anak mengaji. Anak-anak pulang membawa buku iqro’, Rinda pun mengiringi sambil bercerita tentang ilmu agama.
Sampai sudah Rinda di rumahnya. Tiba-tiba ia merasakan hatinya gelisah. ‘Astaghfirullah…astaghfirullah…astaghfirullah…’ walau Rinda sudah beristighfar beberapa kali, namun rasa gelisah dihatinya tak kunjung pergi. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur.
Dalam tidurnya ia bermimpi, kali ini mimpinya berbeda dengan hari kemarin, tetapi bersambung dengan mimpi kemarin. Saat itu, Rinda bermimpi jika di taman yang ia mimpikan kemarin ada beberapa wanita yang juga menikmati pemandangan di taman tersebut. Wajah mereka sangat bersih seakan-akan memancarkan cahaya kelembutan. Rinda menghampiri salah satu diantaranya.
Rinda : “assalamu’alaikum saudariku”
Saudari: “Wa’alaikumussalam selamat datang wahai saudariku” (Disertai senyum penuh perdamaian)
Rinda : “Terimakasih, apa ini surga?”
Saudari: “Tentu saja bukan saudariku, ini hanyalah tempat menunggu sebelum
ke surga” (Dengan senyum terpancar dari wajannya)
Rinda : “Benarkah? MasyaAllah tak bisa kubayangkan betapa indahnya surga jika tempat sebelumnya saja seindah ini.”
Saudari: “Amalan apa yang bisa membawa engkaui kemari wahai saudariku?”
Rinda : “Aku selalu menjaga sholatku dan menambah dengan ibadah-ibadah sunnah.” (Tiba-tiba pintu di ujung taman terbuka dan Rinda melihat wanita-wanita yang lain masuk kedalam pintu tersebut)
Saudari: “Ayo kita ikut mereka” (Sambil berlari-lari kecil)
Rinda : “Ada apa dibalik pintu itu wahai saudariku?”
Saudari: “Tentu saja surga”
Rinda :”Tunggu! Tunggu aku! (Ia sudah berlari sekencang-kencangnya namun tetap tertinggal)
Saudari : “Apakah dirimu tidak membedakan apa yang membuat dirimu berbeda dengan saudari yang lain?”
Rinda : “Astaghfirullahalazim!”
Saudari: “Apakah engkau mengira Rabb-mu akan mengizinkan engkau masuk ke surga-Nya tanpa jilbab penutup aurat? Sungguh disayangkan, amalanmu tak mampu membuatmu mengikuti masuk ke surga ini. Cukuplah surgamu hanya sampai dihatimu karena niatmu menghijabi hati.”
Rinda tertegun, lalu terbangun dari tidurnya. Ia beristighfar lalu mengambil air wudhuwudhu. Ia tunaikan sholat malam, menangis dan menyesali perkataannya dahulu. Dan sekarang ia berjanji akan mengenakan jilbab untuk menutup auratnya. ***
(Nisa)











