Cokelat dari Sendang

Cokelat dari Sendang
Cokelat dari Sendang
Cokelat dari Sendang
Cokelat dari Sendang

Cokelat dari Sendang – Di sebuah dusun yang tenang di Lereng Merapi bernama Sukunan, berdirilah sebuah panti asuhan kecil bernama Sabiluhuda. Panti itu tak besar, hanya bangunan sederhana, tapi di dalamnya penuh tawa, doa, dan semangat anak-anak yang hidup dalam kesederhanaan.

Disitulah banyak hadir kemewahan dan kemegahan cinta kasih yang hari demi hari mengharu biru perasaan  Bu Murni pengasuh yang telaten.

Di antara mereka, ada dua bersaudara yang tak pernah lepas satu sama lain: Lana, kakak laki-laki berusia 6 tahun yang tangguh dan suka membantu Bu Murni, dan Arum, adiknya yang baru 4 tahun, manis dan ceria walau sering menangis saat malam tiba.

Lana dititipkan di panti sejak usia 1,5 tahun dan Arum sejak 2 bulan, kini mereka tumbuh sehat dan Lana telah berusia 6 tahun.

Sudah 4 tahun ibu mereka, Bu Sarti, pergi merantau sebagai buruh cuci di kota jauh demi bisa mengirimkan sedikit uang untuk biaya hidup mereka. Sejak itu, Lana dan Arum  tinggal di panti. Tak ada telepon, tak ada surat.

Hanya sepotong harapan bahwa suatu hari Ibu akan pulang membawa pelukan yang mereka rindukan setiap malam.

Kenangan Kolak Di Bulan Ramadhan

“Mas, kalau bulan puasa begini, Ibu biasanya bikin kolak pisang ya?” bisik Arum suatu malam.

Lana menoleh dan menahan air matanya. “Iya, Arum… Nanti kalau Ibu pulang, kita minta bikinin kolak banyak, terus kita makan bareng di bawah pohon jambu itu.”

Baca Dongeng:

 Kancil! Sarang Tawon Dan Harimau Bonyok

 Kancil! Sarang Tawon Dan Harimau Bonyok https://sabilulhuda.org/kancil-sarang-tawon-dan-harimau-bonyok/

Hari itu adalah hari ke-23 bulan Ramadan. Di panti, anak-anak sedang bersiap menyambut acara buka bersama yang akan di hadiri tamu-tamu dari luar. Ada hiasan kertas warna-warni yang di tempel di dinding, dan makanan sederhana yang di masak bersama oleh Bu Murni dan para anak panti: nasi, tempe goreng, sambal, dan teh manis hangat.

Salah satu tamu yang datang adalah seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun bernama Sendang, putra dari seorang pengusaha kaya dari sebuah kota. Ia datang bersama ibunya yang elegan, dan membawa kotak besar penuh makanan dan bingkisan untuk anak-anak panti.

Alangkah gembiranya anak-anak ternyata ada mobil catering menyajikan makanan prasmanan mewah, ooo itu ternyata Ibunya mas Sendang yang memberikan kejutan untuk anak Panti.

Saat semua berkumpul di aula kecil panti, Sendang melihat seorang anak laki-laki duduk tenang di pojok, memegang tangan adik perempuannya.

“Kamu nggak main sama yang lain?” tanya Sendang sambil mendekat.

Lana mengangguk sopan. “Kami di sini saja. Arum belum buka puasa, takut haus kalau lari-lari.”

Sendang terkesan. “Aku Sendang. Kamu?”

“Lana. Ini adikku, Arum.”

Sendang duduk di sebelah mereka, lalu membuka ranselnya dan mengeluarkan sekotak kecil yang di bungkus emas. Ia membukanya pelan, dan memperlihatkan cokelat Belgia yang sudah di potong kotak kotak.

“Ibuku baru pulang dari luar negeri. Beliau belikan cokelat ini. Katanya mahal banget… Tapi aku mau kalian coba,” ucap Sendang tulus.

Cokelat Dan Persahabatan Baru

Lana terkejut. Ia menatap adiknya yang matanya sudah berbinar. Tapi ia ragu. “Itu oleh-olehmu. Jangan-jangan kamu nanti di marahi…”

Sendang tersenyum. “Enggak kok. Ibu bilang, makanan paling enak itu yang kita bagi.”

Perlahan, Lana dan Arum mencicipi sepotong kecil cokelat itu. Wajah Arum langsung berbinar, dan ia berbisik, “Mas, rasanya kayak pelukan Ibu…”

Lana menunduk. Dadanya hangat. Entah karena cokelat itu, atau karena perasaan bahwa seseorang yang asing… bisa terasa seperti sahabat lama.

Setelah buka puasa bersama, para tamu bersalaman dan berpamitan. Tapi sebelum pergi, Ibu Sendang menghampiri Bu Murni.

“Saya bisa tahu lebih banyak tentang anak-anak di sini? Terutama Lana dan Arum. Anak saya tadi cerita… mereka sangat mengesankan.”

Bu Murni tersenyum. “Tentu, Bu. Mereka anak yang sangat baik. Ibunya merantau ke luar kota. Sudah lama tidak pulang.”

Keputusan Ibu Sendang Yang Mengubah Takdir

Ibu Sendang terdiam. Lalu, sambil menggenggam tangan Bu Murni, ia berkata, “Insya Allah, Ramadan ini kami bisa bantu lebih banyak.” Ini titip sedikit untuk membahagiakan anak-anak” betapa kagetnya bu murni ternyata Ibu Sendang memberikan dana yang cukup besar.

Sehingga bisa untuk memberikan ongkos bagi orang tua anak panti untuk menjenguk anak mereka.

Seminggu kemudian, di malam takbiran yang meriah, ketika anak-anak sedang menyusun ketupat dari janur dan menyanyi di serambi, sebuah mobil berhenti di depan panti.

Pintu terbuka.

Dan dari sana, keluar seorang perempuan berselendang cokelat lusuh, matanya sembab tapi penuh cahaya harapan.

“Lana… Arum…”

Suara itu menghentikan dunia mereka. Lana menoleh cepat. Arum berdiri kaku.

“Ibu…?”

Dalam sekejap, pelukan itu menyatukan luka, rindu, dan cinta yang tertahan bertahun-tahun. Mereka bertiga menangis di bawah bulan Syawal yang baru naik.

Di kejauhan, Sendang dan ibunya menyaksikan diam-diam.

“Ibu…” bisik Sendang, “Terima kasih sudah bantu Ibu mereka pulang.”

Ibunya memeluk Sendang erat. “Dan terima kasih karena kamu sudah belajar memberi dengan hati.”

Baca JugaBuku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud

Cinta bisa datang dalam wujud sekotak kecil cokelat.

Tapi kebaikan hati, keikhlasan memberi, dan rasa rindu yang tulus… bisa menghadirkan keajaiban yang menggetarkan perasaan.

Oleh: Izzayumna