Cita-cita dan Keinginan Ku

Waktu menunjukan pukul 04.03,aku pun terbangun untuk shalat subuh berjamaah di masjid. Selesai shalat subuh, aku mulai beraktivitas seperti biasa. Namun hari ini,berbeda dengan hari biasanya. Sebab aku harus mengikuti ujian di sekolah. Aku pun mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian. Aku harap, semua dapat berjalan dengan lancar dan aku bisa mendapatkan hasil yang memuaskan.

Sesampainya di sekolah, aku bergegas masuk kelas dan membuka buku untuk sedikit mengulang hafalan belajarku semalam. Tak lama kemudian, bel masuk sudah terdengar. Guru pengawas ujian memasuki kelas sembari meminta para siswa mengumpulkan tas di depan kelas. Diawali dengan doa bersama, yang setelahnya kami lanjut dengan mengerjakan soal ujian. Kelas begitu hening karena semua serius mengerjakan soal. Aku pun juga terus berusaha memahami soal dan mengingat materi yang sudah kuhafal. Ujian berlangsung lumayan lama, kurang lebih sekitar satu jam. Ujian tersebut dilaksanakan untuk menilai kemampuan para siswa dalam memahami pelajaran.

Keesokan harinya, aku mendapatkan informasi bahwa aku dinyatakan lulus ujian dengan nilai baik. Mendengar informasi tersebut,aku merasa bangga dan terkejut oleh nilai yang kudapatkan. . Mulai hari itu, aku pun berusaha belajar lebih giat lagi untuk meraih keinginanku. Karena aku tahu, bahwa tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Biarpun usahaku diawal sudah lumayan baik, hal itu tidak akan membuatku terlena dan berbangga diri hingga melupakan semua keinginanku. Keinginanku adalah menjadi seorang hafidzah dan seorang guru.

Keduanya merupakan sebuah cita-cita yang baik dan mulia. Meraihnya pun harus dengan niat dan usaha yang benar dan maksimal. Itu artinya aku harus terus berusaha dan berusaha tanpa kenal lelah demi terwujudnya cita-cita sekaligus keinginanku tersebut. Aku berjanji akan terus menggiatkan diri untuk mendalami agama, menghafal al-qur`an dan belajar ilmu-ilmu agama ataupun umum tanpa keluh kesah juga pantang menyerah.***

(Yoo Chan)