Cinta itu adalah ketika Rasulullah dilempari dengan batu dan kotoran saat ingin berdakwah ke Thoif hingga Malaikat Jibril marah dan siap untuk memberikan balasan kepada penduduk Thoif, namun beliau malah mendoakan kebaikan kepada mereka.
Cinta itu adalah ketika Israil datang, dan Rasulullah mulai merasakan pedihnya sakaratul maut, namun beliau malah lebih memikirkan nasib umatnya dan berkata, wahai Allah, pedihkah sakaratul maut untukku dan ringankan kepada umatku.
Dan cinta itu adalah ketika manusia dikumpulkan di Mahsyar dan saat itu manusia ingin cepat-cepat beranjak dari tempat itu walaupun ke neraka, bahkan ketika manusia berbondong-bondong mendatangi para Nabi, semuanya berlepas diri dengan berkata nafsi-nafsi (sendiri-sendiri) , namun dengan penuh kelembutan Rasulullah memanggil dan menerima umatnya dengan seruan “ umatku, duhai umatku… “
( Yani )










