Diangkat dari kisah nyata
Oleh: Ki Pekathik
Senyum Perenungan Aditya Dalam Derasnya Ujian
Di suatu malam yang dingin dan lembab, ketika suara angin menggesek dedaunan pohon di luar padepokan literasi, Aditya duduk sendirian di teras belakang. Satu-satunya cahaya yang menemaninya adalah lampu gantung kecil yang menggantung di sudut dinding kayu, berayun pelan diterpa angin.
Ia mengenakan sarung, kemeja lusuh, dan Sweater Hoody hadiah dari Salma, anak sambungnya yang makin dewasa dan perhatian. Tapi malam itu, tubuh Aditya terbungkus hangat tetapi hatinya menggigil berat sesak, tapi ia tersenyum. Senyum yang mulai ia pelajari: senyum ridha.
Ia memandang ke langit. Tak tampak bintang. Tapi ia tahu, bintang tak perlu tampak untuk bisa bersinar. Sama seperti harapan.
“Ya Allah,” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar, “begitu banyak Engkau titipkan padaku. Dan aku… hanya manusia biasa. Tapi jangan biarkan aku berburuk sangka pada takdir-Mu.”
Air mata jatuh di pipinya, air jernih yang lahir dari hati yang remuk namun memilih berserah bukan tangisan putus asa. Ia menunduk, menggenggam tasbih kayu yang telah memudar warnanya.
Sudah lebih dari empat belas tahun sejak pernikahannya dengan Linda dilaksanakan sederhana. Pernikahan yang sempat ditentang banyak pihak, terutama dari pihak orang tua Linda. Tapi mereka menjalaninya dengan tenang, sabar, dan niat yang ikhlas.
Linda, sosok yang lembut namun kuat, kini menjadi pendamping sejatinya. Salma dan lintang, gadis kecil dari pernikahan Linda sebelumnya, tumbuh menjadi remaja yang cerdas dan dewasa. Ia bahkan menyebut Aditya dengan penuh hormat dan sayang: “Ayah.”
Namun, kehidupan mereka tidak mudah, bukanlah taman penuh bunga. Aditya kini harus menafkahi tidak hanya keluarga kecilnya, tetapi juga ratusan santri yang tinggal bersamanya di pesantren kecil yang ia rawat bersama Linda, bu Rini dan dibantu oleh pengurus lain yang setia membantu Aditya.
Menguatkan Diri Di Tengah Kelemahan
Beberapa di antaranya adalah anak yatim, sebagian lainnya berasal dari keluarga kurang mampu, anak anak jalanan, anak anak tukang rongsok yang tidak jelas asal usulnya.
Ia merasa kecil di tengah beban besar itu. Kadang ia merasa tak sanggup. Tapi entah kenapa, setiap kali hendak menyerah, selalu ada dorongan dari dalam dadanya untuk tetap melangkah. Mungkin karena cinta. Atau mungkin karena doa-doa mereka yang mencintainya.
Malam itu, ia menggelar sajadah di masjid padepokan. Udara dingin menusuk kulit, tapi Aditya justru merasa hangat dalam hening. Ia berdiri, mengangkat takbir, dan shalat dua rakaat yang sunyi dan khusyuk. Seusai salam, ia bersujud lama, sangat lama, hingga pundaknya bergetar menahan tangis yang tak bisa lagi ia tahan.
Baca Juga:

Cinta Tanpa Restu Part 8 https://sabilulhuda.org/cinta-tanpa-restu-part-8/
Doa Dalam Kesunyian Malam
“Ya Allah… Jika ujian ini bentuk cinta-Mu, maka ajarilah aku untuk mencintai ujian. Jika kesulitan ini jalan menuju-Mu, maka jangan biarkan aku berpaling. Dan jika Engkau masih mempercayai aku menjaga mereka, maka kuatkan aku melebihi kelemahanku.”
Teringat di benak Aditya masa mesra dengan Gurunya tercinta Mbah Nyai Khadijah
. “Mas, kadang kita harus berani melepaskan walau cinta masih penuh. Karena yang kita jaga bukan hanya cinta, tapi juga bakti.”
Aditya tidak membantah. Tidak menangis. Tidak marah. Ia hanya memeluk lutut dihadapan mbah Nyai erat-erat, seperti memeluk separuh jiwanya yang harus rela terbang.
“Ya Allah… Jika ini jalan-Mu, ajari aku untuk tidak mengutuk luka, tapi memeluknya.”
Doa itu keluar lirih dari bibir Aditya. Ia tidak mencari jalan pintas, tidak memohon keajaiban yang membalikkan segalanya. Ia hanya ingin kekuatan untuk melanjutkan langkah dengan dada lapang dan senyum yang tetap hadir meski hati berdarah.
Pelajaran Dari Sang Guru
“mas, tidak semua yang kita cintai harus dimiliki. Tapi semua yang kita jalani, harus kita maknai. Hidup itu tentang takdir, berdamai dengannya—dengan cara yang anggun.”
Saat itu Aditya belum paham sepenuhnya. Tapi kini, dalam perih yang nyata, kalimat itu seperti mata air yang mengaliri kembali ketegarannya.
Ia memandangi buku catatannya—buku tempat ia biasa menulis renungan pribadi. Ia membuka lembar kosong dan menulis:
“Rindu yang tak bisa aku sampaikan ini, aku tukar dengan doa. Aku mendoakanmu dari kejauhan, Linda, bukan untuk kembali, tapi agar engkau bahagia. Tapi mana mungkin bahagia itu tanpa aku, semoga aku diberi cukup lapang untuk tersenyum.”
Tulisan itu membuat hatinya bergetar, karena ada kelegaan kecil saat ia tidak lagi melawan kehendak yang lebih besar dari dirinya. Ia mulai paham, bahwa cinta sejati bukan sekadar memiliki, tapi juga melepaskan dengan anggun.
Di sanalah, dihadapan guru tercinta Aditya membulatkan tekad membantu Masyarakat, membantu anak-anak mengaji, ikut panen sayur, menyapa pagi dengan senyuman penduduk yang hangat.
Di tempat itu, Aditya belajar bahwa hidup itu tentang “apa yang kita miliki”, dan juga “apa yang bisa kita beri”.
Kata-kata mbah Nyai melecut perasaan terdalamnya:
“Lepat itu bagian dari umur, Le. Tapi yang penting, ojo nganti lepat nggawe awak dadi peteng. Wani urip ya kudu wani loro, loro sing nambah kuat yo disenyumi wae le, urip iku urup. kuwi sing gawe Gusti Allah welas.”
Jangan sampai luka membuat hatimu gelap, nak. Berani hidup berarti harus berani sakit, sakit yang menambah kuat dihadapi dengan senyum. sakit yang disenyumi, itulah yang membuat Tuhan sayang.
Kata-kata itu menusuk perlahan tapi dalam. Sejak malam itu, Aditya tidak lagi menyebut hidupnya “berat”. Ia menyebutnya “dilatih”. Ia tidak menyebut hidupnya “malang”. Ia menyebutnya “dibentuk”.
Menemukan Ridho Di Tengah Derita
Suatu malam yang hening, Aditya kembali ke beranda rumah panggung tempat ia menginap. Langit cerah, bintang-bintang berkedip seperti mengintip perenungannya.
Ia kembali menulis di bukunya:
“Aku belajar bahwa hidup tidak selalu lunak, kerasnya bisa dihadapi dengan kesabaran. Aku belajar bahwa tak semua air mata berarti kalah. Kadang, air mata justru bentuk paling ikhlas dari penerimaan.
Aku tidak menyesal mencintaimu, Linda. Aku hanya belajar bahwa kadang, cinta tidak cukup. Tapi ikhlas… ikhlas selalu cukup.”
Ia lalu menutup buku itu, mengambil wudu, dan melaksanakan tahajud. Sujudnya malam itu terasa lebih dalam dari biasanya. Lebih jujur.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَوْدِعُكَ قَلْبِي، فَثَبِّتْهُ وَطَهِّرْهُ، وَاجْعَلْ فِيهِ نُورًا
“Ya Allah, aku titipkan hatiku pada-Mu. Teguhkanlah ia, sucikanlah ia, dan jadikan di dalamnya cahaya.”
Ia tidak tahu masa depan. Tapi ia tahu, setiap sujudnya kini Adalah gabungan antara permohonan dan penyerahan. Ia tidak meminta diganti dengan cinta baru. Ia hanya meminta agar hatinya tetap baik.
Ditengah Aditya membuka cacatan usangnya, Linda membuka pintu pelan. Ia melihat suaminya masih bersujud di sajadah yang sudah basah air mata. Ia tak ingin mengganggu. Hatinya ikut terenyuh.
Di dalam kamarnya, Arlinda santri putri senior sedang membacakan cerita untuk adik-adik santri perempuan. Di luar, suara tawa kecil anak-anak laki-laki terdengar dari kamar belakang. Anak-anak itu mencintai Aditya lebih dari guru.
Ia adalah ayah, sahabat, pelindung. Mereka sering berebut duduk di pangkuannya selepas magrib dan memeluk tubuh Aditya selagi ada kesempatan, mereka teriak” Ayaaaaaah,…..” berlarian sambil berebut mendekap memeluk dan memegang tangan Aditya.
Beban Yang Tersembunyi
Namun tak ada yang tahu beban di pundak Aditya. Tak ada yang tahu bagaimana ia pernah diam-diam menjual motor kesayangannya agar bisa membeli beras dan membayar listrik pesantren bulan lalu. Tak ada yang tahu bahwa ia hanya makan satu kali sehari selama seminggu agar anak-anak bisa kenyang. Semua ia tutupi dengan senyum dan kehangatan.
Pagi hari, selepas subuh, Aditya mengumpulkan seluruh santri dan keluarganya di aula kecil.
“Anak-anakku,” katanya lembut, “hari ini, ayah ingin kita semua menulis satu hal saja: ‘Apa makna bahagia menurutmu?’”
Anak-anak kebingungan, tapi kemudian mereka mengambil kertas dan mulai menulis. Salah satu anak bernama Dirga berusia 11 tahun, menulis: “Bahagia itu bisa makan tempe goreng sama-sama.”
Yang lain menulis: “Bahagia itu bisa cium tangan bu rini ketuk pintu rumah bu linda minta uang jajan dan tidur di pangkuan Kak Izza yang suka merawat kami.”
Aditya membaca satu demi satu. Dadanya sesak. Mereka tak butuh kekayaan. Mereka hanya butuh cinta. Dan ia punya itu, meski hidupnya tak mudah.
Baca Juga:

Cinta Tanpa Restu Part 7 https://sabilulhuda.org/cinta-tanpa-restu-part-7/
Linda menyeka air matanya, berdiri dan menggenggam tangan Aditya. Arinda memeluk adik kecilnya sambil berkata, “ kita bahagia. Meski hidup kita sulit, tapi kita selalu bersama.”
Malam berikutnya, Aditya kembali duduk sendiri. Tapi kali ini, ia membawa jurnal kecil, berisi tulisan-tulisan yang ia tulis setiap kali merasa lemah.
Jurnal Malam Dan Doa Yang Tak Pernah Usai
Salah satu halaman tertulis:
“Ketika kau merasa sendiri, lihatlah sekelilingmu. Kadang kita terlalu fokus pada derita, hingga lupa pada cinta yang selalu ada. Cinta Allah, cinta istri, anak, dan mereka yang kau rawat dengan sepenuh hati.”
Dan pada halaman lain, ia menulis:
“Beban hidup ini berat, tapi tak pernah lebih berat dari cinta-Nya. Bahkan ketika dunia tak mengerti, Allah selalu mengerti.”
Aditya menutup jurnalnya dan menatap langit yang kini mulai terang. Bintang mulai tampak. Malam itu terasa sedikit lebih hangat.
Kini Aditya punya senjata paling ampuh untuk bertahan: Doa.
Setiap malam, ia membaca:
ا اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ إِذَا أَعْطَيْتَهُمْ شَكَرُوا، وَإِذَا ابْتَلَيْتَهُمْ صَبَرُوا، وَإِذَا حَرَمْتَهُمْ رَضُوا، وَإِذَا دَعَوْتَهُمْ لَبَّوْا
Lafal Latin:
Allāhumma aj‘alnī min ‘ibādika alladzīna idzā a‘ṭaytahum syakarū, wa idzā ibtalaytahum ṣabarū, wa idzā ḥaramtahum raḍū, wa idzā da‘awtahum labbaw.
Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk hamba-hamba-Mu yang jika Engkau beri, mereka bersyukur; jika Engkau uji, mereka bersabar; jika Engkau tahan (nikmat), mereka ridha; dan jika Engkau panggil, mereka menyambut.”
Doa syukur Aditya hari hari menjelang pernikahan Salma
اللَّهُمَّ كَمَا جَمَّلْتَ هٰذَا الْيَوْمَ فَجَمِّلْ عَاقِبَتَنَا، وَكَمَا رَزَقْتَنِي أُسْرَةً مِنْ خِيَارِكَ، فَلَا تُبْعِدْنَا عَنْ مَحَبَّتِكَ
Lafal Latin:
Allāhumma kamā jammalta hādzal-yawma fajammil ‘āqibatana, wa kamā razaqtanī usrah min khiārika, fa lā tub‘idnā ‘an maḥabbatika.
Artinya:
“Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah hari ini, indahkanlah pula akhir kehidupan kami. Dan sebagaimana Engkau telah anugerahkan keluarga dari pilihan-Mu, maka jangan Engkau jauhkan kami dari cinta-Mu.”
Hari-hari berjalan. Tidak makin mudah. Tapi Aditya makin kuat. Ia kini mengerti bahwa beban hidup bukan untuk dipikul sendiri, melainkan untuk diserahkan kepada-Nya, dengan usaha, doa, dan cinta yang tulus.
Di akhir jurnalnya, ia menulis:
“Aku belajar, bahwa cinta yang tak direstui oleh manusia, jika dijalani dengan tulus, akan mendapatkan restu dari langit. Aku tak lagi menyesali jalan hidupku. Aku hanya ingin menjalani semuanya dengan ridha.”
“Karena ridha adalah puncak tertinggi dari cinta.”
Baca Juga: Kemensos dan Kementerian PPPA Bentuk Tim Lindungi Perempuan dan Anak






