Diangkat dari kisah nyata
Oleh: Ki Pekathik
Biarlah Cinta Yang Memelukku
Langit senja di halaman rumah itu tampak tenang, tapi hati Aditya berkecamuk seperti ombak menghantam karang. Di balik raut wajahnya yang tegar, ia menyimpan kegundahan yang tak pernah ia ucapkan dengan jujur.
Hari-hari belakangan ini bukan hanya tentang bahagia, tapi juga tentang menahan sesak saat kenyataan menggoda keyakinan, dan cinta diuji dalam tanggungjawan dan penjagaan harapan.
Salma, putri yang ia besarkan dengan kasih tak bersyarat, akan menikah. Dalam usianya yang ke-25, Salma berhasil membuktikan bahwa ia bisa menjadi perempuan yang kuat, cerdas, dan berdaya seperti yang selalu Aditya doakan setiap malam.
Tapi kini, di antara persiapan pesta, gaun, undangan, dan dekorasi mewah, Aditya justru merasa asing di rumahnya sendiri.
“Ayah, vendor dekorasi minta DP minggu ini,” kata Salma suatu sore. “Kata Mamah, semuanya harus maksimal. Sekali seumur hidup kan, Yah?”
Aditya hanya tersenyum. “Iya, Nak. InsyaAllah.”
Tak ada yang tahu, senyum itu adalah perisai terakhir dari luka yang tak bisa ia ceritakan.
Linda, ibu Salma, mantan pacar yang kembali ia terima puluhan tahun lalu, juga larut dalam euforia pesta. Hari-harinya diisi dengan mendesain seragam keluarga, menyusun rencana make-up artist, dan menyusun daftar tamu yang mencapai ratusan nama.
“Harus sempurna, Mas,” katanya pada suatu malam. “Salma itu pantas dapat pesta megah. Jangan kayak hidup kita dulu yang seadanya.”
Aditya mengangguk, meski di dalam pikirannya, setiap kata “sempurna” adalah alarm pengingat bahwa dompetnya tidak sedang bersahabat. Aditya lelaku sederhan yang tidak pernah bisa menyisihkan untuk menabung, tidak tahu mau mendapaykan uang dari mana.
Namun ia tidak berkata apa-apa.
Baca Juga:

Cinta Tanpa Restu Part 7 https://sabilulhuda.org/cinta-tanpa-restu-part-7/
Ketika Mulut Terkunci Tetapi Doa Tulus Yang Bicara
Setiap malam, ia menatap plafon kamarnya yang putih, kosong seperti pikirannya yang bingung. Lalu ia berkata lirih dalam doa:
“Ya Allah… aku tidak tahu dari mana Engkau akan menolongku. Tapi aku percaya… semua ini akan selesai dengan cinta. Biarlah cinta yang memelukku saat aku tak mampu memeluk masalahku sendiri.”
Aditya setiap kali ia hendak mengatakan bahwa mereka harus mengurangi anggaran, mulutnya terkunci. Ia tak ingin merusak kebahagiaan Salma. Ia tak ingin menyakiti hati Linda yang telah berjuang seumur hidup. Ia hanya ingin memberi… walau yang ia punya tinggal ketulusan dan keyakinan.
Murid kesayangan Aditya, termasuk Nano dan Nita — murid-muridnya yang kini sukses — sudah pernah menyatakan siap membantu.
“Pak Adit,” kata Nano, “kalau butuh dana, kami siapkan pak.”
Aditya hanya tersenyum. “Terima kasih, No. ini bukan soal uang tetapi soal inti kebahagiaan sebagai prinsip hidupku diuji dengan perasaan tanggung jawab, bukankah kesederhanaan itu inti dari kebahagiaan”
Mulutnya tetap terkunci. Ego? Mungkin. Tapi lebih dari itu: ia percaya bahwa cinta harus berjuang dengan kepala tegak.
“Allah akan kirimkan bantuan pada waktu yang tepat,” ucapnya suatu malam pada Linda, yang tampak khawatir karena undangan belum dicetak. “Tenangkan dirimu. Jangan marah dulu, ya.”
Linda memandangi wajah Aditya yang keriput. Mata itu masih menyimpan keyakinan yang dulu ia tinggalkan. Entah mengapa, ia terdiam dan tidak jadi menyalahkan.
“Kadang kamu nggak realistis, Mas. Ini sederhana to wong ya mas Nano mbak Nita sudah berkali kali menawarkan diri utnuk membantu, apa sih susahnya kamu bicara ke mereka, Tapi… aku tahu kamu nggak main-main.”
Aditya menatap langit. “Cinta itu bukan soal hitungan uang, Lin. Tapi tentang keberanian untuk tidak menyerah .” lanjutnya “jika pada waktunya aku tidak mampu silahkan kamu temui Nano dan Nita”
Pelukan Cinta Di Tengah Kekhawatiran
Waktu terus berjalan. Persiapan pesta makin mendesak. Salma yang dulu tegar mulai panik. Gedung belum lunas, katering belum dipesan, sementara tanggal pernikahan tinggal satu bulan lagi.
“Ayah,” Salma menatap Aditya suatu malam. “Ayah yakin ini akan selesai?”
Aditya mengangguk. “Iya, Nak.”
“Tapi semua orang bilang kita harus siap dana sekian puluh juta. Ayah…”
Aditya memegang tangan putrinya.
“Kamu tahu nggak, Sal? Dulu waktu kamu dibuang papamu tidak diurusi di Surabaya. Ayah Aditya tidak punya uang langsung berangkat untuk mengurusmu tanpa uang. Bagiku yang penting jiwa anak anakmu tidak terkoyak oleh kejamnya ego papa mama kandungmu.
Ku peluk ku jemput kalian berdua dengan uang pas pasan dan kalian bisa sekolah sukses hingga hari ini. Dan adikmu Lintang bisa kuliah di perguruan tinggi faforit yang mahal to?” Apakah Ayahmu ini mengeluh, tidak to
Salma terdiam. Matanya mulai basah.
“Kali ini juga sama, Nak. Kita akan sampai di hari itu. Dengan izin Allah dan pelukan cinta.”
Kisah Lama Yang Membentuk Keyakinan
“Biarlah Cinta yang Memelukku”
Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Aditya kembali terjaga.
Hening menyelimuti rumah kecil di pinggiran Yogyakarta. Angin berhembus lembut, menyusup lewat celah-celah jendela yang rapuh oleh waktu. Di atas meja kayu sederhana, tergeletak buku catatan dengan coretan angka-angka dan daftar nama yang terus bertambah.
Tamu undangan, tetangga dekat, keluarga jauh, kolega kerja Salma dan Lintang semuanya dicatat Linda dengan teliti.
Total kebutuhan pesta pernikahan Salma: 68 juta rupiah. Sebenarnya itu juga kebutuhan yang masih amat wajar tidak mewah tetapi karena keadaan keuangan Aditya yang tidak ada.
Dana yang tersedia saat ini: 7 juta.
Selisihnya: 61 juta.
Dan itu belum termasuk biaya dadakan atau kejutan kecil yang mungkin datang entah dari mana.
Aditya menatap angka-angka itu, lalu menutup buku catatannya pelan.
Ia berdiri dan berwudu. Dengan tubuh yang mulai ringkih dimakan usia, ia sujud dalam gelap. Tak ada kata-kata panjang dalam doanya, hanya satu kalimat yang berulang-ulang ia bisikkan:
“Maha Baik Engkau, ya Allah… Maha Baik…”
Air matanya jatuh membasahi sajadah. Sakit lututnya tak ia hiraukan, sesak di dadanya tak ia keluhkan.
“Jika pesta itu membawa kebahagiaan untuk anakku, maka cukupkanlah, ya Allah. Bukan untuk bangga, tapi untuk mensyukuri perjalanan yang panjang ini…”
Di akhir doa, ia hanya bisa berbisik lirih:
“Aku percaya, ya Allah… aku percaya. Biarlah cinta yang memelukku malam ini.”

Bahagia Bukan Disaat Kita Mau, Tapi Saat Kita Siap Menerima
Pagi harinya, matahari naik perlahan menembus jendela ruang tamu. Aditya duduk di kursi rotan kesayangannya. Di hadapannya, Linda sedang menyiapkan teh. Salma baru bangun dari tidurnya, rambutnya masih berantakan namun senyum di wajahnya tetap bersinar.
“Salma,” panggil Aditya, “mari duduk sebentar.”
Salma duduk. Wajahnya tenang, meski ia tahu akhir-akhir ini ayahnya tampak lebih sering melamun.
“Ayah sudah bulatkan hati,” kata Aditya pelan. “Allah akan membahagiakan hamba-Nya… di saat yang tepat. Bukan saat kita ingin, tapi saat kita siap menerima.”
Salma menunduk. Ia tahu ayahnya berjuang mati matian dalam dirinya. Ia tahu pesta yang ia impikan itu bukan hal yang mudah. Ia tahu… dan kini air matanya jatuh, membasahi tangan Aditya yang ia genggam erat.
“Maafkan Salma, Yah… Maaf karena terlalu sibuk dengan mimpi pesta. Sampai lupa siapa yang selama ini berjuang… yang tidak pernah berhenti percaya meski tak punya apa-apa.”
Aditya tersenyum, menepuk punggung putri sulungnya dengan lembut.
“Pesta itu penting, nak. Tapi cinta jauh lebih penting. Dan kalian… sudah memberiku cinta. Itu cukup bagiku.”
Suasana Senja Tanpa Topeng Di Teras Rumah
Sore itu, ketika rumah mulai tenang dan kesibukan mereda, Aditya duduk sendiri di teras rumah. Cahaya senja menguning lembut, menyorot wajahnya yang mulai berkeriput namun teduh.
Linda datang membawa selimut, lalu duduk di sebelahnya. Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, mereka duduk berdua… hanya berdua… tanpa kata, tanpa topeng.
“Kamu tahu…” kata Linda perlahan, “dulu aku tinggalin kamu karena kupikir kamu nggak punya apa-apa.”
Aditya tertawa kecil. “Memang benar. Waktu itu aku nggak punya apa-apa. Hanya cinta dan tekad yang bahkan kadang goyah.”
Linda menatap tangannya yang mulai keriput.
“Tapi kamu punya satu hal yang nggak pernah aku temukan di laki-laki lain… kesetiaan. Dan cinta… yang nggak pernah minta balas.”
Aditya menoleh, menatap perempuan yang dulu pernah membuatnya hancur… dan kini duduk di sampingnya sebagai ibu dari anak-anak yang ia besarkan.
“Cinta tidak harus di menangkan, Lin. Kadang cukup dipeluk saja. Biar kita kuat bertahan.”
Linda mengangguk. Matanya basah, namun ia tersenyum. Perlahan, ia menggenggam tangan Aditya.
“Terima kasih, Mas… karena tetap percaya padaku meski dulu aku tak pantas dipercaya.”
Aditya tak menjawab. Ia hanya memandang langit yang mulai temaram, lalu berkata pelan:
“Biarlah cinta yang memelukku… itu saja cukup.”
Hari-hari berikutnya, kabar rencana pernikahan Salma mulai menyebar. Saudara jauh mulai menghubungi. Teman-teman kerja Aditya sesekali mengirim pesan ucapan selamat. Beberapa amplop mulai berdatangan. Ada yang besar, ada yang kecil. Ada yang berisi uang, ada pula yang hanya doa.
Tapi semuanya terasa hangat.
Aditya menulis kembali angka-angka di bukunya. Angka 7 juta kini bertambah menjadi 19 juta. Masih jauh dari 68 juta, tapi ia tak lagi takut.
Ia tahu… semua akan cukup. Entah bagaimana caranya, ia tahu.
Linda sesekali memijit pundaknya, menemani malam-malamnya yang makin sering dihabiskan di depan meja kecil. Lintang membantu menata rencana dekorasi. Salma mulai menyeleksi vendor makanan. Mereka bekerja bersama untuk mengukir kisah yang kelak akan mereka kenang dengan mata berbinar.
Aditya memandang mereka dari jauh. Ia tidak banyak bicara, tapi hatinya penuh gemuruh.
Mereka yang dulu datang dalam luka, kini tumbuh dalam cinta.
Cinta Yang Lebih Berharga Dari Lampu Gantung & Gaun Mahal
Di suatu malam yang sunyi, Aditya kembali duduk di tempat favoritnya: teras rumah. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma melati dari taman kecil yang ditanam Salma.
Ia menulis kembali di buku catatannya, lalu menutupnya dan menatap langit malam.
“Ya Allah… terima kasih telah mengajarkanku mencintai… tanpa harus memiliki, memeluk… tanpa harus menggenggam, dan memberi… tanpa harus menunggu kembali.”
Aditya menunduk.
Ia tahu, mungkin pesta itu belum terlaksana tetapi bayangan kebahagiaan linda dan putri putrinya menjadi spirit kuat. ia yakin, cinta yang mengelilingi mereka malam itu… jauh lebih berharga dari segala lampu gantung dan gaun mahal.
Ia tersenyum, lalu memejamkan mata.
Dan disela hela napas tenang, Aditya bergumam “ Tuhan, Ijinkan cinya memeluk kami semua”.
Baca Juga: Kemensos dan Kementerian PPPA Bentuk Tim Lindungi Perempuan dan Anak






