Cinta Tanpa Restu Part 7

Cinta Tanpa Restu
Diangkat dari Kisah Nyata Oleh: Ki Pekathik

Diangkat dari kisah nyata

Oleh: Ki Pekathik

Perjalanan Baru Satrio Berguru Kehidupan

Di usia 26 tahun, Satrio akhirnya menguatkan hati untuk melamar perempuan yang telah lama mengisi ruang-ruang kosong dalam hidupnya—Salma. Ia perempuan yang membuatnya jatuh cinta dan seseorang yang memeluk luka-lukanya dengan tenang.

Salma pun tumbuh dari keluarga yang retak, penuh riuh dan dingin yang tak kunjung reda. Mungkin itu sebabnya mereka saling menemukan—karena luka yang sama bisa jadi jembatan cinta.

Satrio adalah pemuda asal Kebumen, lekat dengan darah seni yang diwarisi dari Eyang Kusuma, kakek bijaknya yang membesarkan dia sejak ayahnya meninggal saat ia baru menginjak usia remaja. Suara Satrio merdu, permainan keyboard dan  gitarnya tenang serta menyembuhkan.

Namun, di balik senyum lembut dan tutur santunnya, tersimpan kesepian yang mendalam—sebuah kehampaan sejak kehilangan sosok ayah yang ia kagumi, idolakan, dan rindukan.

“Bapakmu itu bukan orang besar, tapi cintanya besar,” kata Eyang Kusuma suatu sore, saat mereka duduk di pendapa sambil menyeruput teh melati.

Dan cinta itulah yang terus Satrio cari cinta seorang ayah. Ia tak pernah benar-benar menemukannya… hingga pertemuannya dengan Aditya.

Aditya adalah ayah sambung Salma. Seorang lelaki matang yang sederhana, tenang, dan lembut dalam bicara. Usianya lebih tua  almarhum ayah Satrio, dan yang paling mengejutkan tanggal lahir mereka sama: 04 September.

Pertama kali bertemu Aditya, Satrio merasa janggal. Ada sesuatu dalam sorot mata pria itu yang membuat dadanya sesak, namun hangat. Waktu berjalan, dan hubungan mereka perlahan berubah dari canggung menjadi dekat.

Satrio merasa nyaman duduk berlama-lama di beranda bersama Aditya, membicarakan agama bacaan quran usaha bisnis musik, hidup, dan kadang sunyi.

“Kadang hidup bukan tentang apa yang hilang, Satrio,” kata Aditya suatu malam, “Tapi tentang siapa yang datang untuk menambal lubang-lubang itu.”

Satrio terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi menancap kuat di dadanya. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, Satrio terharu dihadapan laki-laki yang ia hormati sebagai guru dan  sahabat jiwa yang mengerti rasa kehilangannya.

Baca Juga:

Hubungan mereka menjadi istimewa. Disamping sebagai calon menantu dan mertua, tetapi sebagai dua jiwa laki-laki yang saling menyembuhkan. Aditya tak pernah memaksa, hanya hadir. Dan kehadiran itu yang akhirnya mengisi ruang hampa dalam jiwa Satrio.

“Pulang di Hati Salma”

Hari itu, udara terasa lebih hangat dari biasanya, seperti langit ikut menyambut sebuah momen besar yang akan terjadi. Di ruang tamu yang sudah dihias dengan nuansa kayu coklat joglo sederhana dan bunga-bunga segar, keluarga besar berkumpul. Wajah-wajah cemas dan penasaran duduk rapi, menanti dengan debar.

Satrio melangkah masuk, dengan baju batik modern corak krem oranye membalut tubuh tegapnya. Rambutnya disisir rapi ke belakang, namun tangannya sedikit gemetar ketika memegang kotak cincin kecil beludru biru.

Matanya mencari sosok Salma, yang duduk anggun di sisi ibunya, lalu beralih pada ayahnya Aditya yang berdiri tegak penuh wibawa di sisi ruang tamu.

Dengan langkah pasti namun hati berdebar, Satrio maju. Ia berlutut di depan Salma, lalu menyerahkan cincin dengan suara nyaris bergetar. “Dengan izin Allah, dan restu Ayah Bunda, aku ingin melamar Salma, sebagai pasangan hidup sekaligus saebagai teman belajar mencintai, memperbaiki diri, dan pulang bersama kepada-Nya.”

Semua nyaris terharu, kecuali satu: Aditya.

Pria itu mengangguk kecil, lalu menatap Satrio dengan tajam. Senyum ramahnya berganti menjadi ekspresi serius. “Boleh aku bertanya, Satrio?”

Satrio mengangguk. “Silakan, Pak.”

Dan pertanyaan demi pertanyaan pun mengalir seperti derasnya arus sungai. Tentang niat menikah, tentang tauhid, tentang makna cinta dalam Al-Qur’an, tentang bagaimana seorang suami menjadi imam, bahkan sampai ditanya: “Bacakan surat Al-Furqan ayat 74, dan tafsirkan maknanya.”

Satrio terdiam sejenak, menarik napas, lalu membaca dengan tenang:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Kemudian ia menjelaskan dengan suara mantap, meski jantungnya masih berdebar: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk mata”.

Aditya, ayah Salma, berdiri di sampingnya. Lelaki paruh baya itu mengenakan baju batik biru tua, terlihat berwibawa dengan sorot mata yang tajam namun tenang dan kelihatan tampan. “Kamu siap, Sat?” tanyanya pelan.

Satrio mengangguk, mencoba menyembunyikan degup jantungnya yang seakan menggedor tulang rusuk.

Lalu, acara dimulai. Ketika waktu tiba bagi Satrio menyerahkan cincin pada Salma, tangannya sempat bergetar. Namun sorot mata gadis itu membuatnya tenang. Mata yang dulu menyimpan duka, kini bersinar harap. Ia menatap Satrio seolah berkata, aku percaya padamu.

Aditya diam lama… Lalu mengangguk.

“Baik. Aku tidak mencari menantu yang sempurna. Aku mencari seseorang yang tahu bahwa dia tidak sempurna, dan mau terus belajar, serta mencintai kekurangan dan kelemahan pasangannya” katanya.

Setelah acara usai dan para tamu mulai bubar, Satrio mendekati Aditya yang sedang berdiri di pojok ruangan, memandangi Salma dari kejauhan.

“Terima kasih, Pak,” bisiknya pelan. Aditya hanya menepuk bahunya. “Kita sama-sama sembuh, Satrio. Sama-sama belajar mencintai lagi.”

Hari-hari setelah itu, Satrio mulai sering datang ke rumah Salma, bukan sekadar sebagai calon suami, tapi juga sebagai murid. Ia meminta izin untuk belajar langsung dari Aditya. Semula Aditya tertawa, menolak dengan santai, tapi Satrio bersikeras.

Baca Juga:

“Semakin aku mengenal Bapak,” kata Satrio suatu sore sambil menemani Aditya menyiram tanaman, “semakin aku merasa kecil. Bapak bukan cuma cerdas dan bijak, tapi tenang… dan damai.”

Aditya hanya tersenyum. “Sat, hebat itu bukan karena sakti, cerdas, pinter, atau kaya. Kehebatan seseorang itu lahir dari kesadaran dirinya yang tinggi, dari kemampuannya untuk selalu relevan dengan keadaan yang dihadapi.”

Ia menatap Satrio, dalam dan lembut. “Orang Jawa bilang: eling lan waspada, nrimo ing pandum. Dalam bahasa agama, itu dicapai dengan dua sayap: syukur dan sabar.”

Satrio mengangguk perlahan, mencoba mencerna.

“Sadarlah bahwa kemegahan, kebesaran, kehebatan… itu semua kagungan Gusti Allah. Kita ini makhluk. Kita menempati maqom sederhana—lemah, terbatas, dan pasrah pada takdir.”

Aditya berhenti menyiram, menoleh dengan senyum yang menyimpan kesedihan dan harapan. “Yang bisa kita lakukan hanya menjaga hati. Menumbuhkan kasih, tanggung jawab. Menjadi lembut di tengah dunia yang keras. Sesederhana itu. Tapi… sulit sekali mewujudkannya.”

Satrio terdiam. Angin sore berembus membawa harum melati dari halaman. Ia merasa hatinya digugah, disentuh oleh pelajaran yang tak ditemukan di buku atau seminar—tetapi hidup, nyata, dan menyentuh sisi terdalam dirinya.

“Pak,” ucap Satrio pelan, “saya ingin terus belajar, disamping jadi menantu, tapi jadi murid dalam hidup.”

Aditya mengangguk. “Kalau begitu, jangan berhenti bertanya. Dan jangan pernah merasa sudah cukup tahu.”

Pada hari Minggu yang cerah, Satrio duduk bersama Salma di beranda. Di pangkuannya, sebuah buku catatan kecil berisi kutipan dari percakapan-percakapannya dengan Aditya.

“Kau tahu,” katanya pada Salma sambil tersenyum, “Ayahmu itu disamping  bijak, juga sakti. Sakti dalam menyentuh jiwa orang lain dengan kata-kata yang sederhana.”

Salma tertawa, memandangi calon suaminya penuh cinta. “Sakti itu karena pernah patah, Mas. Dan dia memilih tidak jadi keras. Dia memilih tumbuh dan menyembuhkan.”

Satrio menatap Salma. Ada rasa syukur membuncah dalam dadanya,  karena diberi kesempatan untuk belajar—tentang cinta, keikhlasan, dan makna menjadi manusia.

Hari itu, Satrio tahu: perjalanan belum usai. Tapi ia tidak lagi sendiri. Ia punya Salma. Ia punya Aditya. Dan ia punya semangat untuk terus belajar mencintai, dengan syukur dan sabar, dengan eling dan waspada, dengan penuh kasih dan tanggung jawab.

Di hari itu, ia merasa: aku benar-benar pulang.

“Empat Ujian Menjadi Manusia Seutuhnya”

Satrio tak pernah menyangka bahwa hari-hari setelah lamarannya kepada Salma Adalah masa persiapan pernikahan, seolah memasuki sebuah madrasah kehidupan yang penuh ujian, yang tak tertulis dalam buku panduan apa pun, tetapi dirancang khusus untuk membentuknya menjadi manusia seutuhnya.

Ujian Pertama: Agama dan Spiritualitas

Aditya, ayah Salma, bukan orang yang suka menasihati panjang lebar. Ia menguji Satrio bukan dengan ceramah, tapi dengan situasi yang memaksa Satrio menggali keyakinannya sendiri. Suatu malam, ketika listrik padam dan hujan mengguyur pekarangan, Aditya tiba-tiba berkata, “Coba, Sat… kamu adzan.”

Satrio tertegun. Suaranya masih gemetar. Namun ia berdiri, lalu mengumandangkan adzan dengan suara serak yang tertahan gugup. Setelah itu, ia diminta mengimami shalat maghrib bersama keluarga.

Hari-hari berikutnya, ia diuji lebih dalam: bagaimana memahami makna sabar dalam musibah kecil, bagaimana menahan emosi ketika rencana yang ia susun bersama Salma berantakan karena satu dua perbedaan pendapat.

“Spiritualitas itu bukan tentang rajin ibadah saja,” ujar Aditya pada suatu sore, “tapi tentang bagaimana kamu hadir penuh ketika cobaan datang, dan tidak mengeluh ketika hasil tak sesuai harap.”

Ujian Kedua: Leadership dan Pengorganisasian

Tak lama setelah itu, Aditya mengundang Satrio terlibat dalam komunitas sosial yang ia Kelola sebuah gerakan kecil yang membantu para petani lokal menjual hasil panen lewat platform digital.

Awalnya Satrio gugup. Ia terbiasa bekerja sendiri saat ini harus belajar mengorganisasi orang lain. Tapi Aditya berkata tegas, “Menjadi kepala rumah tangga itu bukan hanya soal bekerja keras, tapi juga memimpin. Bukan memerintah, tapi menggerakkan.”

Satrio belajar mengatur rapat, mengelola perbedaan pendapat di antara para relawan, dan membuat keputusan yang tidak selalu menyenangkan. Ia belajar bahwa memimpin bukan tentang kehebatan bicara, tapi tentang keberanian mendengar dan memberi ruang pada orang lain tumbuh.

Saat gagal mengoordinasi pelatihan digital marketing pertama kalinya, ia nyaris ingin mundur. Tapi Aditya menepuk bahunya dan berkata, “Kamu boleh gagal. Tapi jangan pernah berhenti mencoba. Sebab seorang pemimpin bukan yang tak pernah jatuh, tapi yang selalu berdiri lagi.”

Cinta Tanpa Restu
Diangkat dari Kisah Nyata Oleh: Ki Pekathik

Ujian Ketiga: Musikalitas dan Kreativitas

Suatu malam, di acara keluarga, Satrio diminta memainkan gitar. Ia tertawa kaku. “Udah lama gak main, Pak,” katanya.

“Main saja. Musik itu bukan tentang sempurna, tapi tentang rasa,” jawab Aditya.

Satrio menyanyikan lagu lama yang pernah ia tulis saat patah hati. Tangannya sempat kaku, nadanya sempat fals. Tapi semua yang mendengar tahu: ada kejujuran di balik suaranya yang tak sempurna. Ada ketulusan dalam setiap petikan nadanya. Di situ, Satrio belajar bahwa ekspresi bukan soal tampil, tapi soal menghadirkan hati.

Aditya lalu memintanya belajar menyusun konten musik untuk promosi program sosial mereka. Satrio jadi belajar digital marketing dari nol—tentang algoritma, copywriting, hingga cara membaca insight dari media sosial.

“Kalau kamu bisa menjual cinta lewat lagu,” ujar Aditya, “kamu pasti bisa menjual kejujuran lewat strategi digital.”

Ujian Keempat: Cinta Tanpa Syarat dan Penerimaan Takdir

Namun dari semua ujian itu, yang paling sulit adalah soal cinta.

Aditya tak menguji lewat pertanyaan, tapi lewat waktu. Satrio mulai melihat sisi-sisi Salma yang tak ditampakkan di awal: sifat keras kepalanya, kecemasannya yang muncul tiba-tiba, kebiasaan diam saat marah, dan cara ia menangis dalam sepi.

“Kenapa kamu diam?” tanya Salma suatu malam ketika mereka berselisih karena hal sepele.

“Aku takut menyakiti,” jawab Satrio. “Tapi kadang aku juga lelah.”

Lalu, di teras rumah Aditya, Satrio duduk sendiri. Aditya menghampiri.

“Sat… mencintai itu mudah saat semua indah. Tapi ketika kamu melihat kekurangan pasanganmu, saat kamu ingin mengubahnya… di situlah ujian sejati.”

Satrio menunduk. “Kadang aku marah, Pak. Bukan karena dia salah, tapi karena aku belum mampu menerima.”

Aditya tersenyum pahit. “Ridho itu disamping soal setuju dengan takdir, juga soal mampu berdamai dengannya. Cinta sejati itu menyambut dan merangkul, meski dalam luka, bukan menuntut untuk mengikuti mau kita.”

Satrio menangis malam itu. Ia sadar: cinta tanpa syarat ternyata ada contoh nyata bukan sebatas  puisi indah. Ia butuh hati yang luas, sabar yang dalam, dan kelapangan memaafkan bahkan ketika tak diminta.

Waktu berlalu. Ujian demi ujian itu tak lantas membuat Satrio sempurna. Tapi ia berubah. jadi pribadi yang lebih sadar bukan jadi orang hebat. Sadar bahwa hidup itu pengabdian, pemberian ruang, dialegtika, dan tentang pulang  kepada nilai jiwa, cinta, dan Tuhan, bukan tentang menguasai, memiliki, dan memenangkan diri.

Di hari pada saatnya tiba Satrio bertekad  menikah dengan Salma, Satrio berkata dalam hati, aku belum lulus, tapi aku tak akan berhenti belajar. Cinta ini awal dari perjalanan panjang menjadi manusia—yang mencintai, menerima, dan selalu ridho dalam takdir Gusti Allah bukan akhir dariperjuangan.

Baca Juga: Kemensos dan Kementerian PPPA Bentuk Tim Lindungi Perempuan dan Anak