Diangkat dari kisah nyata
Oleh: Ki Pekathik
Jalan Bahagia
Orang-orang di sekitarnya masih saja sering menatap dengan mata iba. Ada yang berbisik lirih, “Kasihan, ia tidakpernah memikirkan masa depannya sendirian…” Ada pula yang mencoba menyembunyikan rasa ingin tahu dengan pertanyaan samar, “Mengapa ia tidak mencoba buka bisnis lagi, atau berkarir atau berpolitik untuk mencari kemuliaan ?”
Namun tokoh kita tidak pernah merasa terganggu. Senyumnya tetap hadir, senyum yang lahir dari jiwa yang sudah dihantam oleh perjalanan panjang. Ia pernah jatuh sedalam jurang keputusasaan, pernah merasakan kehilangan hingga membuatnya tak mampu berdiri, pernah merasa dunia begitu timpang dan tidak adil.
Dalam doanya ia menangis lama, memohon agar yang dicintai tidak pergi. Tetapi takdir memilih arah yang berbeda.
Kini, ia melangkah di jalan setapaknya dengan kesadaran, Tidak memaksa orang lain untuk mengikutinya, tidak pula memaksa istrinya, kini hatinya tenang bersama anak anakkurang beruntung, mebersamai dengan generasi gelisah di era digital, sekalipun ia tetapsendirian dalam kesederhanaan. Namun apakah benar ia sepenuhnya sendiri?

Sesungguhnya tidak
Di setiap langkah, ada doa yang senantiasa mengiringi. Doa yang ia lantunkan di hening sepertiga malam sekalipun sering terlewatkan, doa yang tak pernahputus asa untuk mereka yang ia cintai, doa yang menyertakan dirinya sendiri agar tetap diberi kekuatan, keteguhan, dan kerendahan hati.
Dalam setiap helaan napas, ada kenangan baik yang menemaninya. Ia memilih untuk tidak menyimpan dendam. Yang ia simpan hanyalah potongan kisah kasih sayang yang pernah dirasakan, perjuangan yang sudah dilalui, serta luka yang akhirnya menjadi guru terbaik.
Semua itu kini menjadi cahaya kecil yang menerangi hati dan tidak lagi menjadi beban.
Yang paling berharga dan selalu berusaha untuk diperjuangkan adalah ridha Allah yang menenangkan. Ia mengerti bahwa hidup tidak selalu tentang mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi tentang menerima dengan lapang apa yang dititipkan.
Dari situlah ia belajar bahwa ridha adalah kunci kebahagiaan sejati. Tanpa ridha, meski semua permintaan terkabul, hati tetap resah. Dengan ridha, meski harapan tidak sepenuhnya terwujud, jiwa tetap damai.
Belajar dari Kejatuhan
Dulu, ia mengira kebahagiaan hanya datang dari kepemilikan. Memiliki pasangan, memiliki rumah penuh kehangatan, memiliki perjalanan panjang bersama seseorang. Namun waktu mengajarkannya hal lain: bahagia justru tumbuh dari keberanian.
Keberanian untuk menerima takdir dengan dada terbuka. Keberanian untuk melepaskan genggaman yang tidak lagi menjadi miliknya. Keberanian untuk terus melangkah meski sendiri, tanpa kehilangan arah.
Kehidupan memang pernah merobohkannya dengan cara yang keras. Ia kehilangan banyak hal yang dulu menjadi sandaran, kehilangan orang-orang yang sangat berharga. Dalam masa itu, ia sempat merasa tidak sanggup melanjutkan langkah.
Hanya doa yang menjaga dirinya agar tetap hidup. Dan doa itu pula yang perlahan mengajarinya arti menyerahkan diri kepada Sang Pencipta.
Ketika ia berhenti melawan keadaan dan mulai belajar menerima, hatinya terasa lebih ringan. Seolah-olah beban yang menindih bahunya perlahan terangkat. Dari titik inilah ia mulai mengerti: kebahagiaan tidak selalu datang setelah mendapatkan, kebahagiaan hadir ketika hati berhenti menolak.
Menemukan Warna Baru
Hari-hari yang ia jalani kini dipenuhi warna baru. Ia lebih berupaya keras untuk banyak menanam kebaikan, menolong siapa saja yang membutuhkan, memberikan senyum pada wajah asing yang ditemuinya di jalan. Ia menemukan bahwa semakin ia memberi, semakin luas pula ruang dalam hatinya untuk menerima anugerah kehidupan.
Pernah suatu hari seorang anak kecil bertanya polos, “Pak, mengapa bapak selalu tersenyum walau berjalan sendirian?”
Pertanyaan itu membuatnya terdiam sejenak, lalu ia menjawab lembut, “Karena aku tidak sendiri, Nak. Aku ditemani Allah yang selalu menjaga. Dan itu sudah lebih dari cukup.”
Aku terketuk dengan ayat Allah QS. Al-Muthaffifin ayat 24:
تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ
Artinya:
“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan.”
Ayat ini menggambarkan keadaan para penghuni surga. Wajah mereka berseri-seri, bercahaya, penuh kebahagiaan karena kenikmatan yang Allah limpahkan. Cahaya tersebut karena pancaran ketenangan batin dan keridaan Allah.
Anak kecil itu tersenyum lega, lalu berlari ke pelukan ibunya. Tokoh kita melanjutkan langkahnya.
Baca Juga:

Cinta Tanpa Restu Part 22 https://sabilulhuda.org/cinta-tanpa-restu-part-22/
Kesendirian yang Menyuburkan
Kesendirian adalah ruang yang dihadiahkan Allah agar ia semakin dekat kepada-Nya. Dalam ruang itu, ia bisa bercakap tanpa henti dengan Sang Pencipta. Ia bisa menumpahkan resah tanpa takut dihakimi. Ia bisa menemukan makna hidup tanpa harus bergantung pada manusia.
Apapumnamanya meditasi kontemplasi berkhalwat atau apapun itu membuat seseorang bisa mawas diri dan semakin kuat. Ia biasa mengisi waktunya membaca kitab suci, baca buku, menolong tetangga, mengajar anak-anak kecil, bahkan menulis pengalaman hidup agar kelak orang lain dapat mengambil pelajaran.
Cinta yang Tidak Pernah Hilang
Di jalan ini, ia mengerti bahwa cinta sejati tidak pernah benar-benar hilang. Cinta yang tulus akan selalu hidup meski wujudnya berubah. Kadang cinta hadir sebagai pasangan, kadang sebagai sahabat, kadang sebagai keluarga, dan kadang hanya berupa kenangan yang memberi kekuatan. Segala bentuk cinta itu, selama diterima dengan lapang hati, tetaplah anugerah yang layak disyukuri.
Ia tidak lagi menangisi cinta yang pergi. Ia mensyukuri bahwa pernah diberi kesempatan untuk merasakan hangatnya. Ia belajar bahwa cinta bukan sesuatu yang harus dikekang. Cinta adalah energi yang tetap hidup dalam doa, dalam kebaikan yang ia sebarkan, dalam kesabaran yang ia jalani.
Kebahagiaan dalam Cara Melangkah
Kini, ia tidak ngoyo lagi berlari mengejar kebahagiaan. Ia sudah menemukan bahwa kebahagiaan tidak berada jauh di ujung jalan. Kebahagiaan hadir pada cara berjalan. Selama hatinya penuh syukur, selama langkahnya ditemani doa, selama kenangannya terikat pada kebaikan, dan selama ridha Allah menjadi sandaran, maka setiap langkah, meski sendirian, sudah merupakan kebahagiaan itu sendiri.
Ia meyakinkan dirinya untuk tidak lagi cemas menghadapi hari esok. Ia tahu, selama ia masih bernapas, Allah selalu bersamanya. Selama ia masih bisa berdoa, ada pintu harapan yang tak pernah tertutup. Selama ia masih bisa tersenyum, ada cahaya yang bisa ia bagikan.
Pandangan Orang Lain
Orang-orang mungkin masih melihatnya sebagai sosok yang aneh unikdan antik, namun sesungguhnya, ia berusaha memilih melangkah di jalan yang paling ramai: jalan yang dipenuhi cinta Allah, doa orang-orang baik, dan cahaya kebijaksanaan.
Mereka yang dulu berbisik iba, perlahan mulai memahami cara berfikirnya, Ada yang mendekat, ingin belajar darinya. Ada yang berkata lirih, “Ternyata kita bisa bahagia tanpa harus memiliki semua yang kita mau. Kita hanya perlu belajar menerima, seperti yang engkau lakukan.”
Tokoh kita tidak menjawab panjang. Ia hanya tersenyum, lalu berucap singkat, “Bahagia itu sederhana, asal kita rela menerima apa yang Allah titipkan.”
Ia tidak merasa dirinya istimewa. Ia hanya merasa diberi kesempatan oleh Allah untuk memahami hidup dari sisi yang berbeda. Ia sadar bahwa setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Jalan yang ia tempuh hanyalah satu dari sekian banyak jalan menuju ridha Allah. Namun ia bersyukur karena melalui jalan itu, ia bisa menemukan kebahagiaan yang tak tergoyahkan.
Penutup: Jalan Bahagia
Jalan bahagia tidak selalu dipenuhi bunga. Kadang jalan itu penuh kerikil, menanjak, bahkan gelap. Namun siapa pun yang terus melangkah dengan doa, syukur, dan ridha, akan menemukan bahwa setiap luka dapat berubah menjadi cahaya, setiap kehilangan dapat berubah menjadi kekuatan, dan setiap kesendirian dapat berubah menjadi ruang kedekatan dengan Sang Pencipta.
Terkadang Jalan tampak sepi di mata manusia, tetapi sesungguhnya ramai oleh doa, penuh cahaya kenangan baik, dan dilindungi oleh ketenangan ridha Allah.
Baca Juga: Kemensos dan Kementerian PPPA Bentuk Tim Lindungi Perempuan dan Anak
Di jalan ini ia berusaha berjalan dengan langkah mantap, tersenyum pada siapa saja yang ditemui, dan menyebarkan kebaikan yang sederhana. Ia tidak menunggu siapa yang akan mendampingi, karena ia tahu, pendamping sejati selalu ada: Allah yang Maha Menjaga.
Dan di situlah kebahagiaan sejati bersemayam—dalam hati yang tenang, dalam jiwa yang ridha, dalam langkah yang terus berjalan meski sendirian, namun tidak pernah benar-benar sendiri.
tamat






