Diangkat dari kisah nyata
Oleh: Ki Pekathik
Hadis Dan Cahaya Hati
Malam itu begitu hening. Di beranda rumah sederhana, ia duduk memandang langit yang bertabur bintang. Hamparan cahaya itu tampak seperti butir tasbih yang berjatuhan dari tangan seorang kekasih Allah.
Angin berhembus pelan membawa aroma tanah basah, seakan menyapa hatinya agar lebih damai. Dalam kesunyian itu, ia teringat pada sabda Rasulullah ﷺ yang sangat ingin dijalani untuk menuntun hidupnya:
إِذَا أَحَبَّ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ
“Jika seseorang mencintai saudaranya, maka hendaklah ia memberitahukan bahwa ia mencintainya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
Hadis itu menjadi cahaya yang menyibakkan tirai keraguannya. Ia mengerti bahwa perasaan yang tumbuh di hatinya tidak dimaksudkan untuk dikubur. Perasaan adalah amanah, dan ketulusan harus menemukan jalan keluarnya.
Maka ia pun berusaha melakukannya dengan niat kuat dalam hati yang bersih, dengan kata-kata sederhana, tanpa janji kosong, tanpa tuntutan yang memberatkan. Ia hanya ingin jujur bahwa dalam hatinya ada kasih yang ia niatkan sebagai jalan ibadah.

Cahaya perjalanan
Akhir dari kisah itu mempertemukannya dalam sebuah ikatan pernikahan setelah menjadi janda dengan dua putri dan tokoh kita sudah memiliki 3 putra. Itulah takdir hidup tokoh kita. Namun justru dari sana ia menemukan ketenteraman.
Tidak ada penyesalan, hanya rasa syukur karena ia telah menunaikan amanah cinta dengan sebaik-baiknya. Ia mengerti bahwa cinta sejati adalah ruang keikhlasan, ruang doa, dan ruang ketulusan yang tidak pernah ditentukan oleh hasil.
Hari-hari selanjutnya ia jalani dengan damai. Kadang kenangan datang, mengetuk pintu batin. Senyum yang dulu meneduhkan, percakapan singkat penuh makna, doa-doa yang pernah di panjatkan semua hadir sebagai semangat baru untuk membina generasi berikutnya.
Namun kali ini tidak ada sesak di dadanya. Setiap kali rasa itu datang, ia hanya menunduk dan berdoa:
“Ya Allah, Engkau yang menumbuhkan rasa ini, maka Engkau pula yang menjaganya. Jadikanlah ia jalan yang mendekatkanku pada-Mu, bukan beban yang melemahkan hatiku.”
Doa itu menjadi pupuk yang menyuburkan jiwanya. Dari doa itu ia mengerti bahwa cinta tidak identik dengan kepemilikan. Cinta sejati adalah memberi ruang: ruang untuk mendoakan, ruang untuk merelakan, ruang untuk tetap menjaga kebaikan meski arah jalan sudah berbeda.
Sebuah Pertanyaan
Sore itu, seorang sahabatnya bertanya dengan hati-hati, “Apakah engkau menyesal telah mengungkapkan perasaanmu, sementara kini engkau tetap menjalani prinsip aneh hidupmu sendiri, sementara orang disekitarmu memiliki mimpi yang berbeda denganmu?”
Ia tersenyum, menunduk, lalu menjawab dengan tenang, “Tidak. Justru aku bersyukur. Dengan mengungkapkan, hatiku terbebas dari prasangka. Aku lega karena jujur pada diriku sendiri, dan pada orang yang aku cintai.
Hasilnya tidak lagi menjadi urusanku, semua sudah dalam genggaman Allah. Bukankah hidup ini tentang kejujuran hati?”
Sahabatnya terdiam, matanya berkaca-kaca. Dari wajahnya ia tahu, kalimat itu menyentuh hingga ke dasar jiwa.
Sejak saat itu langkah hidupnya terasa lebih ringan. Ia tidak lagi membawa cinta sebagai beban, melainkan sebagai cahaya. Ia mengubah rasa yang pernah mengikat menjadi doa yang membebaskan. Dalam setiap sujud, namanya tetap hadir, tetapi bukan lagi dengan permohonan agar dipersatukan. Doanya berubah menjadi:
“Ya Allah, bahagiakanlah dia tolonglah jiwa jiwa yang ku kenal dan tidak kukenal yang kehausan rasa cinta, siapa pun itu. Bahagiakan pula aku dengan takdir terbaik dari-Mu.”
Doa itu menjadi sumber ketenangan, diaselalu berupaya menyalakan lentera di dalam dadanya. Dari sana ia belajar, mencintai seseorang berarti mencintai ketentuan Allah yang berlaku padanya.
Musim yang Berganti
Waktu berjalan. Musim hujan tiba, kemudian berganti dengan kemarau, lalu hujan lagi. Dalam setiap pergantian musim, hatinyaberupaya dimatangkan terus menerus. Cinta yang dulu pernah hadir dan melukai kini berubah menjadi spirit indah yang memupuk kehidupannya hari demi hari, bukan luka.
Ia menatap masa depan dengan hati yang lebih lapang, tubuhnya menua tetapi hatinya membara dengan pengharapan dan memancarkan keyakinan baru.
Ia menyadari bahwa perjalanan itu justru mengajarkannya sesuatu yang jauh lebih besar: bahwa cinta sejati adalah jalan menuju cinta yang lebih agung, yaitu cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ia teringat doa para salihin:
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan sesuatu di dunia ini yang lebih kucintai melebihi Engkau, melebihi Rasul-Mu, dan melebihi agama-Mu.”
Doa itu kini menjadi bisikan dalam setiap denyut jantungnya.
Baca Juga:

Cinta Tanpa Restu Part 18 https://sabilulhuda.org/cinta-tanpa-restu-part-18/
Menemukan Kedewasaan Jiwa
Cinta yang pernah ia jalani telah mengajarkan tentang kejujuran, kesabaran, dan kerelaan. Ketika ia mengungkapkan isi hatinya, ia belajar keberanian. Saat jalan berpisah, ia belajar merelakan. Saat kenangan kembali datang, ia belajar mendoakan.
Semua proses itu adalah tarbiyah ruhani pendidikan jiwa yang tidak mungkin ia dapatkan tanpa melewati pengalaman tersebut.
Ia menuliskan kalimat di buku catatannya:
“Cinta sejati adalah keberanian untuk jujur, keikhlasan untuk merelakan, dan kekuatan untuk tetap mendoakan. Karena yang akan kita bawa menghadap Allah bukanlah kisah asmara, melainkan kebersihan hati.”
Air matanya menetes, karena rasa syukur yang dalam bukan karena duka, tetapi Ia merasa jiwanya semakin terang, hatinya semakin lapang.
Hadis dan Cahaya Hati
Dalam renungannya, ia memahami bahwa sabda Nabi ﷺ tidak pernah lahir dari ruang hampa. Setiap kalimat Rasul adalah cahaya yang menembus gulita. Hadis tentang menyampaikan cinta kepada saudara sejati mengajarkan keberanian. Dengan itu, manusia tidak hidup dalam keraguan, tidak pula menanggung beban perasaan yang terpendam.
Cinta yang disampaikan dengan tulus akan melahirkan ketenangan. Sekalipun jawaban yang diterima tidak sejalan dengan harapan, hati tidak akan tenggelam dalam kecewa. Sebab tujuan awalnya adalah kejujuran, bukan balasan.
Inilah cahaya hadis: membebaskan jiwa dari penjara ego. Manusia diajak untuk hidup dalam kelapangan hati, bukan dalam belitan rasa yang mengikat.
Hati yang Lapang
Hari-hari berjalan. Ia mulai membiasakan diri menyalakan cahaya hadis dalam kehidupan sehari-hari. Saat bertemu sahabat, ia berani mengatakan, “Aku menyayangimu karena Allah.” Ketika menerima kebaikan dari orang lain, ia segera membalas dengan doa. Dalam setiap interaksi, ia berusaha menjaga agar hati selalu bersih dari iri, dengki, dan curiga.
Ia mengingat hadis Nabi ﷺ:
“Sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.”
Hadis itu semakin meneguhkan bahwa cahaya sejati bersumber dari hati. Jika hati terjaga, seluruh perilaku akan terjaga. Jika hati lapang, langkah hidup akan ringan.
Buah dari Keikhlasan
Perlahan, ia merasakan perubahan besar dalam dirinya. Dahulu ia mudah resah, kini hatinya lebih tenang. Dahulu ia sering gelisah memikirkan masa depan, kini ia lebih banyak berserah. Semua ini berawal dari satu hadis, lalu berkembang menjadi jalan panjang menuju kedewasaan ruhani.
Ia sadar, cinta hanyalah pintu. Dari pintu itu ia memasuki ruang luas yang penuh cahaya. Cahaya itu menuntun untuk semakin dekat dengan Allah.
Setiap kali ia mengenang perjalanan itu, ia hanya bisa berbisik, “Alhamdulillah, Engkau menuntunku dengan sabda Rasul-Mu.”
Cahaya yang Hidup
Waktu waktu berikutnya, ia kembali menatap menglkaji makna hidup. Namun kali ini ada cahaya lain yang ia rasakan: cahaya yang tidak tampak di mata, tetapi bersinar di dalam hati.
Ia menutup dengan sujud panjang. Di antara lirih tangisnya, ia berbisik:
“Ya Allah, terima kasih karena Engkau mengajarkanku bahwa cinta sejati adalah cinta yang membuatku semakin dekat kepada-Mu.”
Sejak saat itu, hatinya benar-benar berupaya hidup dalam cahaya.
Baca Juga: Kemensos dan Kementerian PPPA Bentuk Tim Lindungi Perempuan dan Anak






