Diangkat dari kisah nyata
Oleh: Ki Pekathik
Menulis Dengan Hati, Mengajar Dengan Ketulusan
Sore itu, udara di halaman pesantren Aditya terasa hangat oleh terik matahari yang perlahan condong ke barat. Abu Alfin duduk di bawah pohon anggur yang rindang, menatap anak-anak asuh Aditya yang berlarian mengejar bola plastik.
Suara tawa mereka memantul ke dinding asrama, menciptakan suasana yang begitu hidup. Di tangannya ada sebuah buku catatan lusuh dengan sampul hijau, penuh coretan ide dan kalimat-kalimat yang sudah lama disimpan.
Abu Alfin bukan guru. Ia tak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang mengajar. Bahkan, jika harus menilai dirinya sendiri, ia merasa cara bicaranya sering terlalu berputar-putar, dan kadang membuat lawan bicara bingung.
Namun, itu tidak pernah menjadi penghalang. Ia percaya, ketika niatnya tulus untuk berbagi, selalu ada jalan untuk sampai ke hati orang lain.
Sejak kecil, Abu Alfin memang terbiasa mendengar petuah dari gurunya, Kyai Mas’ud. Salah satu yang paling membekas adalah:
“Hidup yang penting punya iman, kedua bermanfaat bagi orang lain.”

Kalimat sederhana itu ia pegang teguh. Setiap kali rasa malas atau ragu muncul, ia mengingat pesan tersebut. Ada semacam energi yang membuatnya kembali bangkit.
Di depan anak-anak asuh Aditya, ia sering mengulang pesan gurunya itu. Bukan sekadar di ucapkan, tapi di jadikan prinsip dalam setiap langkahnya.
“Tidak perlu kaya untuk bersedekah, tidak perlu pandai untuk berbagi ilmu. Apa yang bisa kita lakukan, lakukanlah. Karena dalam berbagi itu ada syukur,” begitu ia menekankan sambil menatap satu per satu wajah polos yang mendengarnya.
Awalnya, anak-anak itu hanya menganggap pertemuan dengan Abu Alfin sebagai kegiatan selingan. Namun, lama-kelamaan mereka mulai menunggu-nunggu jadwalnya datang. Cara bicaranya mungkin tak sehebat dosen-dosen di kampus, tapi ia punya kemampuan membuat orang merasa dihargai.
Setiap anak diberi kesempatan bercerita, entah tentang pengalaman sehari-hari, ide liar yang terlintas, atau mimpi yang ingin mereka wujudkan.
Mengajar Di Dua Dunia
Hari-hari Abu Alfin kini terbagi antara mengajar di Padepokan Petunjuk Jalan — tempat yang dirintis Aditya untuk pembinaan anak-anak asuh — dan berdiskusi literasi secara online. Ia rutin membuka ruang diskusi di grup penulis daring. Meskipun hanya di ikuti belasan orang tiap harinya, ia tak pernah merasa sia-sia.
Di dunia online itu, ia bertemu berbagai karakter penulis: yang masih ragu memulai, yang sudah menulis puluhan karya, hingga yang kehilangan semangat karena merasa tulisannya tak pernah di hargai. Abu Alfin menjadi pengingat bahwa menulis bukan soal seberapa banyak pujian yang di dapat, tapi seberapa besar pesan yang bisa di titipkan di hati pembaca.
“Jika buku yang laris adalah yang terbaik, maka kitab suci pasti akan paling banyak di baca. Nyatanya tidak, jadi berkarya tak perlu berpikir apakah akan laku atau tidak!” seru Abu Alfin pada sahabat literasi onlinenya.
Kegiatan online ini juga ia ceritakan ke anak-anak asuh. Kadang, ia membawa laptop tuanya yang layarnya sudah buram di sudut, memperlihatkan bagaimana penulis di luar sana berjuang sama seperti mereka. Anak-anak itu mulai menyadari bahwa dunia literasi tidak sempit, dan mereka pun bisa menjadi bagian darinya.
Baca Juga:

Cinta Tanpa Restu Part 12 https://sabilulhuda.org/cinta-tanpa-restu-part-12/
Mimpi Menyatukan Dua Dunia
Suatu malam, saat kopi hitam mengepulkan asap di gelasnya, Abu Alfin berbicara dengan Aditya di beranda asrama.
Abu Alfin berkata pelan, “bagaimana kalau anak-anak ini kita gabungkan dengan para penulis online untuk bikin satu buku bersama?”
Aditya menoleh, matanya berbinar. “Kompilasi cerpen maksudnya?”
“Iya. Cerita-cerita sederhana saja. Bisa pengalaman pribadi, fiksi, atau apa pun yang mereka mau. Nanti kita satukan, jadi buku yang membanggakan. Mereka akan merasa, ‘Tulisanku ada di buku.’ Itu semangat yang luar biasa,” jawab Abu Alfin.
Aditya tersenyum lebar. “Aku suka idemu, ayo kita coba!” seru Aditya.
Langkah Awal
Abu Alfin memulai dengan membagi anak-anak dalam kelompok kecil. Setiap kelompok bertugas menulis cerita dengan tema yang berbeda. Ada yang menulis tentang persahabatan di pesantren, tentang mimpi menjadi dokter, atau tentang kenangan masa kecil di kampung halaman.
Awalnya tak mudah. Ada anak yang menulis satu paragraf lalu berhenti, ada yang bingung memilih kata, bahkan ada yang malu-malu memperlihatkan tulisannya. Abu Alfin tahu, tugasnya bukan sekadar membetulkan tata bahasa, tapi membangun kepercayaan diri mereka.
“Menulis itu seperti memanjat pohon. Awalnya susah, tapi kalau sudah sampai di dahan pertama, kalian akan ingin memanjat lebih tinggi,” katanya suatu sore, membuat anak-anak tertawa.
Di saat bersamaan, ia juga mengumumkan ide ini di grup penulis online. Sambutannya cukup hangat. Beberapa penulis senior bersedia ikut berkontribusi. Ada pula yang menawarkan diri untuk menjadi mentor jarak jauh bagi anak-anak pesantren.
Pertemuan Dua Generasi
Proses penulisan berlangsung selama tiga bulan. Abu Alfin rajin mengumpulkan naskah, membacanya satu per satu, memberi catatan, dan memotivasi. Lalu tibalah saat ia merasa butuh sentuhan akhir dari orang yang benar-benar berpengalaman di dunia literasi dan seni.
Ia teringat pada seorang aktor sekaligus penulis senior yang pernah ia kenal lewat komunitas literasi. Beliau juga pernah bermain di film-film nasional dan menulis beberapa buku. Dengan sedikit ragu, Abu Alfin menghubunginya lewat pesan singkat.
Baca Juga:

Cinta Tanpa Restu part 11 https://sabilulhuda.org/cinta-tanpa-restu-part-11/
Tak disangka, balasannya positif.
“Saya mau bantu, Pak Abu. Gratis. Apalagi kalau anak-anak panti asuhan di libatkan. Kirim saja naskahnya nanti.” Suara Aktor senior yang sangat ramah, meski punya nama besar. Beliau adalah Pak Bambang Oeban, saat itu belum pernah bertatap muka. Hanya komunikasi via ponsel saja jika ada sesuatu.
Berita ini membuat anak-anak bersorak kegirangan. Mereka merasa istimewa karena karya mereka akan dibaca langsung oleh orang yang terkenal.
Buku Yang Terbit Dari Hati
Proses kurasi berjalan. Ada beberapa naskah yang harus direvisi, ada pula yang di puji tanpa banyak catatan. Anak-anak mulai belajar menerima kritik, memahami bahwa masukan bukan berarti merendahkan, tapi membantu mereka tumbuh.
Akhirnya, dua buku kompilasi lahir. Sampulnya sederhana, tapi isinya sarat makna. Di halaman depan, tertulis kata pengantar dari aktor senior itu, memuji semangat para penulis muda yang meski berasal dari latar belakang sulit, mampu menghasilkan karya yang layak dibaca.
Peluncuran buku dilakukan di aula pesantren. Para penulis online yang terlibat hadir secara langsung maupun lewat sambungan video. Ada rasa haru ketika satu per satu anak asuh naik ke panggung, memegang buku yang memuat nama mereka di daftar penulis.
Abu Alfin duduk di kursi barisan tengah, menatap mereka dengan senyum yang sulit di sembunyikan. Ia teringat kata-kata gurunya lagi. Punya iman, dan bermanfaat bagi orang lain. Hari ini, ia merasakan kedua hal itu berbaur jadi satu di dadanya.
Lebih Dari Sekadar Buku
Setelah acara, beberapa anak menghampirinya.
“Pak Alfin,” kata seorang bocah berusia 16 tahun, “saya nggak nyangka tulisan saya bisa di baca orang lain. Rasanya… senang banget.”
Abu Alfin menepuk bahunya. “Jangan berhenti. Terus menulis, terus belajar. Kalian nggak tahu, mungkin suatu hari nanti tulisan kalian bisa mengubah hidup orang lain.”
Buku itu kemudian di bagikan ke berbagai perpustakaan, komunitas baca, dan bahkan dikirim ke beberapa penulis terkenal yang siap memberikan testimoni. Bagi Abu Alfin, itu sudah lebih dari cukup. Ia tak mencari keuntungan materi, hanya ingin melihat senyum bangga di wajah anak-anak.
Mengajar Dengan Rasa Syukur
Hari-hari berikutnya, kegiatan literasi terus berjalan. Abu Alfin tak pernah merasa lelah, meski usianya tak muda lagi. Baginya, setiap waktu yang ia habiskan di sini adalah bentuk syukur kepada Allah atas hidup yang masih diberi kesempatan.
Di grup penulis online, ia membagikan cerita keberhasilan anak-anak asuh itu. Banyak yang terinspirasi dan ingin membuat program serupa di daerah mereka.
“Dakwah itu tidak harus di mimbar,” ujarnya suatu kali di diskusi online. “Dari literasi pun bisa. Yang penting pesannya sampai, logis, dan bisa diterima. Karena generasi sekarang lebih suka yang logis daripada sekadar moralis.”
Pesan itu kini menjadi prinsip yang dipegang tak hanya oleh Abu Alfin, tapi juga oleh anak-anak yang pernah diajarinya. Mereka belajar bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata, tapi menanamkan nilai dan kebaikan di hati pembaca.
Malam itu, setelah semua anak tidur, Abu Alfin duduk sendiri di beranda asrama. Lampu temaram menggantung di atas kepalanya, sementara suara jangkrik terdengar dari kejauhan. Ia membuka buku catatan hijau yang dulu ia bawa saat pertama kali datang ke pesantren. Di halaman terakhir, ia menulis:
“Kyai, semoga engkau bangga. Muridmu ini sudah mencoba menjadi bermanfaat. Semoga Allah menerima setiap huruf yang kami tulis sebagai amal kebaikan.”
Ia menutup buku itu dengan senyum, lalu menatap langit yang bertabur bintang. Di hatinya, ia tahu perjalanan masih panjang. Namun, malam ini ia merasa telah mengambil satu langkah besar yang akan selalu di kenang.
Baca Juga: Kemensos dan Kementerian PPPA Bentuk Tim Lindungi Perempuan dan Anak






