Diangkat dari kisah nyata
Oleh: Ki Pekathik
Rahmia Cahaya Kesayangan Aditya Yang Tangkas
Rahmia, si bungsu yang manja dan blak-blakan itu, adalah matahari kecil di rumah Padepokan Aditya. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan kepribadian yang kuat dan bercahaya. Ia tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga punya pesona sosial yang membuat banyak orang merasa nyaman di dekatnya.
Ketika diumumkan bahwa ia diterima di Jurusan Teknik Mesin UGM, tak ada satu pun yang terkejut. Sejak SMP, ia sudah suka eksperimen yang aneh aneh, tapi yang lebih membanggakan lagi bagi Aditya adalah sikap dan keberanian putrinya yang tidak biasa.
Meski gaya tomboy-nya sering membuat ibunya geleng-geleng kepala, Aditya justru melihat jiwa pejuang dalam diri Rahmia. Ia tumbuh seperti badai kecil yang menghantam segalanya dengan semangat, namun selalu meneteskan embun bagi yang terluka.
Mimpi Membesarkan Padepokan, Bukan Sekadar Tempat Ngaji
Di usia 18 tahun, Rahmia sudah menjadi penggerak. Ia mengajak teman-teman remajanya datang ke pendapa padepokan. Mereka berdiskusi tentang lingkungan, sejarah, dan kehidupan. Tidak hanya ngaji, tapi juga praktik hidup.
Ia mengajari teman-temannya memasak, membersihkan halaman, dan berdialog kreatif menggali hal hal baru. Dalam dunia yang makin digital, Rahmia menjembatani dua kutub: tradisi dan generasi baru.
Suatu hari, Aditya memandangi dari kejauhan ketika Rahmia tengah berdiri memimpin diskusi di pendapa. Matanya menyala, tangannya menari-nari, dan para remaja mengangguk-angguk penuh antusias.

“Kamu sibuk sekali, Nak,” sapa Aditya ketika diskusi usai.
“Ayah lihat, ya?” senyumnya mengembang. “Rahmia pengin padepokan ini nggak cuma buat ngaji, tapi juga buat belajar hidup!”
Aditya tersenyum hangat. “Kamu seperti badai kecil, tapi hatimu lembut.”
Doa Ayah Untuk Si Tangguh Kesayangan
Kemudian, Aditya menadahkan tangan, menatap langit yang mulai jingga, dan berdoa dengan suara yang lirih namun mantap:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ رَحْمِيَا نُوْرًا وَنَارًا، قُوَّةً فِي الْحَقِّ، وَرِقَّةً فِي الرَّحْمَةِ، وَفَتْحًا لِكُلِّ بَابِ خَيْرٍ، وَقُدْوَةً لِأَقْرَانِهَا.
“Ya Allah, jadikanlah Rahmia cahaya dan nyala api, kuat dalam membela kebenaran, lembut dalam kasih sayang, pembuka segala pintu kebaikan, dan teladan bagi teman-temannya.”
Rahmia mencubit pipi ayahnya. “Duh, Ayah bisa aja doanya bikin nangis…”
“Karena Ayah ingin kamu kuat, tapi tetap sayang.”
Ketika Badai Benar Benar Datang Menyapa
Namun hidup tak selalu cerah. Pada suatu hari, badai itu benar-benar datang.
Di suatu sore hujan gerimis, Rahmia yang keluar dengan adik sepupunya Rifka mengalami kecelakaan sepeda motor di jalan Kaliurang. Sebuah mobil menyalip tajam, dan Rifka dan Rahmia kehilangan kendali.
Ia terjatuh dan terbanting ke trotoar. Wajahnya bonyok bibirnya pecah dan lututnya harus dijahit, serta entah bagian mana lagi yang terluka.
Aditya berlari melihat putrinya yang terbaring ditempat tidur dengan napas tercekat. Ia tidak bicara sepatah kata pun, dalam hatinya, hanya satu doa berulang: “Ya Allah, selamatkan dia…”
Baca Juga:

Cinta Tanpa Restu Part 10 https://sabilulhuda.org/cinta-tanpa-restu-part-10/
Ketika sampai, ia melihat Rahmia tergolek dengan perban disana sini, Aditya menyembunyikan air matanya dengan senyum terbahak bahak wajahmu jadi aneh Rahmia cantikmu perot perot hahaha, padahal hatinya hancur berkeping-keping.
Namun, yang mengejutkan bukan hanya kondisi Rahmia—melainkan jumlah teman-teman yang menjenguknya. Lebih dari 60 orang, dari teman SMP, dari SMA, dari komunitas. Mereka datang bergiliran, membawa makanan, membacakan doa, bahkan bernyanyi di luar Joglo malah menjadi ajang pesta dadakan, silih berganti memasak seadanya bergantian.
Salah satu gurunya berkata lirih, “Kami tidak menyangka, Rahmia itu magnet yang besar bagi teman temannya. Dimanapun Rahmia ada suasana menjadi hangat dan dikerumuni banyak teman, bahkan ketika sakitpun teman temannya mengerumuni.”
Adityah terdiam. Ia duduk di samping putrinya, menggenggam tangan mungil yang kini lemah. Ketika mereka berdua sendiri, Rahmia membuka mata, pelan dan berat.
“Ayah… maaf ya, motor Ayah… rusak…”
Adityah tersenyum sambil menunduk, lalu mengecup kening anak gadisnya itu.
“Yang Ayah sedihkan bukan motornya, Nak… tapi keadaanmu si Tangguh kesayangan ayah yang kini tak berdaya.” Aditya membuang muka dan mengusap bulir air yang keluar darimatanya.
Semangat Yang Butuh Pelukan
Air mata Rahmia mulai menetes.
“Ayah selalu lihat kamu kuat. Tapi mulai sekarang, izinkan Ayah juga jadi tempat kamu bersandar, ya?”
Rahmia mengangguk kecil.
“Kamu tahu,” lanjut Adityah pelan, “Kadang cahaya itu terlalu terang, sampai dia lupa istirahat. Tapi meski lampu padam sebentar, cinta Ayah padamu tetap menyala.”
Hari-hari penyembuhan menjadi refleksi bagi Rahmia. Ia menyadari bahwa cinta ayahnya adalah penguat di saat semangat membara dan pelukan di saat luka menganga.
Saat sudah pulih, Rahmia berkata pada ayahnya, “Aku mau jadi pengingat… bahwa semangat juga butuh pelukan.”
Adityah tersenyum. “Dan Ayah akan selalu menjadi pelukan itu.”
Badai kecil itu kini tumbuh menjadi pelita yang lebih dewasa, menyala di luar dan hangat di dalam hatiorang orang disekelilingnya.
Warisan Yang Lebih Mulia Dari Harta
Tiga pelita kehidupan Aditya.
Suatu malam, Adityah mengumpulkan mereka bertiga di pendapa. Di tengah hening malam, di bawah lampu-lampu temaram dan aroma bunga sedap malam, ia berkata:
“Kalian bukan pewaris harta Ayah. Tapi pewaris nilai.”
Patria menunduk.
Yumna memegang tangan adiknya.
Rahmia menatap ayahnya penuh semangat.
“Patria, jadilah tiang yang kokoh, diam tapi menopang. Yumna, jadilah embun yang menyejukkan hati siapa pun yang dekat padamu. Rahmia, jadilah api yang menyalakan semangat banyak jiwa.”
Ketiganya terdiam. Lalu Adityah berdiri, memeluk mereka satu-satu. Peluk yang dalam. Peluk yang penuh doa dan cinta.
Lalu bersama-sama mereka membaca satu doa bersama:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)
Warisan Yang Hidup
Tahun-tahun berlalu. Adityah tidak semakin muda. Tapi padepokan itu semakin hidup.
Patria kini menjadi pemimpin utama, sederhana tapi tegas.
Yumna mengembangkan pemasaran online hingga menjangkau pasar luar negeri.
Rahmia membawa teknologi ke dalam sistem pertanian dan literasi desa.
Dan tiap pagi, suara mereka masih menggema di pelataran padepokan. Dalam shalat, dalam kerja, dalam kasih sayang kepada santri kecil.
Adityah kini lebih sering duduk di serambi, memandangi anak-anaknya dari kejauhan — dan dalam hatinya berbisik:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرَانِي غَرْسِي يُثْمِرُ
“Segala puji bagi Allah yang telah memperlihatkan padaku hasil dari benih yang kutanam.”
Jika kau berjalan ke Utara Yogyakarta dan mendengar tawa anak-anak bercampur doa lembut angin, mungkin kau sedang melewati warisan Adityah bukan harta, tapi cinta dan nilai yang hidup selamanya.
Baca Juga: Kemensos dan Kementerian PPPA Bentuk Tim Lindungi Perempuan dan Anak






