Cerita Rakyat Si Lancang Dan Perahu Terbalik Dari Riau

Cerita Rakyat Si Lancang Dan Perahu Terbalik Dari Riau
Cerita Rakyat Si Lancang Dan Perahu Terbalik Dari Riau

Cerita Rakyat Si Lancang Dan Perahu Terbalik Dari Riau – Di sebuah kampung nelayan di pesisir Riau, hiduplah seorang pemuda bernama Lancang. Sejak kecil, Lancang dikenal cerdas dan pemberani, namun ia juga memiliki sifat yang keras kepala dan suka membantah.

Ayahnya telah lama meninggal, dan ia dibesarkan oleh ibunya yang sederhana, seorang janda tua yang penuh kasih sayang dan hidup dari menjual kue dan hasil kebun kecil di belakang rumah.

Meski hidup pas-pasan, ibu Lancang selalu menanamkan nilai-nilai luhur: hormat kepada orang tua, rendah hati, dan bersyukur atas rezeki sekecil apapun. Tapi semakin dewasa, Lancang justru merasa malu dengan keadaan keluarganya. Ia tidak suka melihat ibunya bekerja keras. Bukan karena kasihan, tetapi karena gengsi.

“Aku ingin kaya, Mak. Aku bosan hidup seperti ini!” ujar Lancang suatu hari.

Sang ibu menatap anak semata wayangnya dengan lembut. “Nak, kekayaan bukan segalanya. Yang penting hidup berkah dan hatimu bersih.”

Namun nasihat itu masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Lancang tetap pada niatnya. Ia merantau ke negeri seberang menaiki kapal dagang yang lewat di selat kampungnya. Sebelum berangkat, ibunya sempat menitipkan pesan dengan linangan air mata:

“Kalau kau sudah berhasil, jangan lupakan ibumu ini, ya, Nak…”

Lancang tidak menjawab. Ia hanya mengangguk singkat dan pergi tanpa menoleh lagi.

Baca Juga:

Legenda Ande-Ande Lumut dan Yuyu Kangkang Dari Jawa

Legenda Ande-Ande Lumut dan Yuyu Kangkang Dari Jawa https://sabilulhuda.org/legenda-ande-ande-lumut-dan-yuyu-kangkang-dari-jawa/

Tahun-tahun berlalu…

Lancang berhasil. Ia menjadi saudagar kaya raya. Ia memiliki kapal dagang besar, awak kapal dari berbagai daerah, dan barang-barang berharga dari negeri Tiongkok hingga Arab. Ia mengenakan pakaian sutra, bersurban emas, dan berbicara dengan bahasa asing. Wajahnya tampan dan tubuhnya gagah, tetapi hatinya keras dan penuh kesombongan.

Suatu hari, perahunya yang besar berlayar menuju kampung halamannya. Ia hendak berdagang dan menunjukkan kejayaannya. Kabar tentang kedatangan kapal megah itu cepat menyebar. Warga kampung pun berkumpul di dermaga. Sang ibu, yang sudah renta, turut datang dengan harap-harap cemas.

“Apa itu benar kapal anakku, Lancang?” gumamnya sambil menggenggam tasbih usang.

Begitu kapal bersandar, semua mata tertuju pada sosok saudagar tampan yang turun dari geladak. Dialah Lancang. Namun ia tampak asing, seolah bukan anak kampung yang dulu. Ibunya menghampiri dengan langkah gontai.

“Lancang… Nakku…”

Lancang memandang wanita tua berpakaian lusuh itu dengan jijik. Ia pura-pura tidak mengenal.

“Kau siapa, perempuan tua?”

Warga terkejut. Beberapa menunduk, beberapa menahan nafas. Sang ibu terguncang, air matanya jatuh seketika.

“Aku… ibumu, Nak…”

Lancang tertawa sinis. “Ibuku? Hahaha… Lihat dirimu! Kumal, bau, compang-camping! Mana mungkin ibuku seorang pengemis!”

Ia kemudian memerintahkan awak kapalnya mengusir wanita tua itu. “Singkirkan dia dari sini! Jangan ganggu tamu-tamuku!”

Doa Sang Ibu

Sang ibu terjengkang, terinjak-injak di antara kerumunan. Hatinya hancur. Dengan langkah tertatih, ia kembali ke gubuknya di pinggir kampung. Di dalam hati, ia tak mengutuk, tapi memanjatkan doa dari hati yang remuk.

“Ya Allah… Bila benar dia anakku, dan ia telah durhaka… Maka tunjukkanlah kekuasaan-Mu…”

Cerita Rakyat Si Lancang Dan Perahu Terbalik Dari Riau
Cerita Rakyat Si Lancang Dan Perahu Terbalik Dari Riau

Langit mendadak gelap. Petir menggelegar di atas laut. Ombak mengganas. Angin bertiup kencang seolah hendak menelan bumi. Perahu megah milik Si Lancang yang masih berlabuh, terombang-ambing seperti perahu mainan.

“Angkat sauh! Cepat tinggalkan dermaga!” teriak Lancang.

Namun sudah terlambat. Petir menyambar tiang kapal. Gelombang besar datang bergulung. Perahu megah itu terbalik dan tenggelam dalam sekejap, bersama emas, sutra, dan keangkuhan Lancang. Tidak ada yang selamat.

Esok paginya…

Di tempat kapal megah itu tenggelam, muncul sebuah pulau kecil. Penduduk kampung percaya, itulah perahu Si Lancang yang di kutuk. Pulau itu kini di kenal dengan sebutan “Pulau Si Lancang”.

Sang ibu duduk di tepi pantai, menatap pulau itu dengan mata berkaca.

“Maafkan aku, Nak… Ibumu hanya ingin kau ingat, bukan dihina…”

Pesan dari Kisah Ini

Cerita “Si Lancang dan Perahu Terbalik” adalah peringatan abadi tentang durhaka dan kesombongan. Tidak ada kemuliaan sejati tanpa hormat pada ibu. Sehebat apapun seseorang di dunia, jika ia lupa asal-usul dan menyakiti hati orang tua, maka kehancuran bisa datang dalam sekejap.

Kekayaan dan nama besar tak berarti bila tak di iringi cinta, rendah hati, dan bakti.

Di Riau, kisah ini masih sering di dongengkan, mengajarkan anak-anak agar tidak menjadi “Si Lancang” berikutnya—yang durhaka dan akhirnya tenggelam dalam kutukannya sendiri.

Baca JugaBuku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud

Oleh Izzayumna