Cerita Anak Muslim (Part-5): Kisah Teladan Hindun binti Utbah r.a – Pada zaman dahulu di Kota Makkah, hiduplah seorang wanita bernama Hindun binti Utbah radhiyallahu ‘anha. Ia berasal dari keluarga terpandang dari kaum Quraisy, suku yang sangat terkenal di Makkah. Namun, sayangnya, keluarga Hindun termasuk orang-orang yang sangat membenci Islam dan Rasulullah ﷺ.
Ayah Hindun sering kali menghina dan memusuhi kaum muslimin. Sejak kecil, Hindun tumbuh dengan pandangan bahwa Islam adalah musuh besar bagi keluarganya. Ia sangat menghormati ayahnya dan ingin menjadi seperti beliau yang kuat, berani, dan di hormati banyak orang.
Hindun di kenal sebagai wanita yang pandai berbicara, cerdas, dan juga pemberani. Ia bisa membuat syair dengan indah dan bahkan mampu bertarung layaknya seorang prajurit. Tetapi di balik semua itu, hatinya di penuhi oleh amarah dan kebencian terhadap Rasulullah ﷺ dan para pengikutnya.

Dendam Di Medan Perang
Ketika Perang Badar terjadi antara kaum Quraisy dan kaum muslimin, banyak orang dari kedua belah pihak yang gugur. Namun dalam perang itu, Hindun kehilangan ayah, saudara laki-laki, dan pamannya.
Maka sejak saat itu, kebencian Hindun semakin membara. Ia berjanji akan membalas dendam kepada kaum muslimin.
Beberapa tahun kemudian, dalam Perang Uhud, Hindun ikut berperang bersama pasukan Quraisy. Dengan semangat dendamnya, ia memerintahkan seseorang untuk membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah ﷺ yang telah membunuh keluarganya di Perang Badar.
Saat Hamzah gugur, Hindun merasa puas sekali. Ia kemudian naik ke atas batu yang besar dan berteriak dengan lantang merasa kemenangannya telah tiba.
Namun, kemenangan itu hanya sesaat. Setelah perang selesai, hatinya tetap kosong. Kebencian yang ia pelihara tak membuat hidupnya menjadi bahagia.
Baca Juga:

Cerita Anak Muslim (Part-4): Allah Melihat Kita Di Manapun Berada https://sabilulhuda.org/cerita-anak-muslim-part-4-allah-melihat-kita-di-manapun-berada/
Fathu Makkah: Saat Hati Tersentuh Cahaya
Tahun demi tahun berlalu. Kaum muslimin semakin kuat dan banyak jumlahnya. Akhirnya, ketika perjanjian damai antara Quraisy dan kaum muslimin itu di langgar, Rasulullah ﷺ bersama 10.000 pasukan bergerak menuju Makkah.
Peristiwa besar itu di kenal sebagai Fathu Makkah, penaklukan Kota Makkah. Tapi, tidak ada darah yang tertumpah. Rasulullah ﷺ menaklukkan kota itu dengan cara yang damai. Semua berhala di sekitar Ka’bah dihancurkan, dan Bilal bin Rabah mengumandangkan adzan pertama di hadapan Ka’bah yang agung.
Hindun menyaksikan semua itu dengan rasa benci dan heran. Ia melihat suaminya, Abu Sufyan, ternyata sudah memeluk Islam. Awalnya ia marah besar.
Namun lama-kelamaan, setiap kali melihat kaum muslimin salat dengan khusyuk di depan Ka’bah, hatinya mulai lembut. Ia merasakan ada ketenangan yang selama ini tidak pernah ia rasakan.
Akhirnya, cahaya iman pun masuk ke dalam hatinya. Dengan penuh keikhlasan, Hindun datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata,
“Aku ingin menjadi pengikut Muhammad.”
Rasulullah ﷺ menerima keislamannya dengan penuh kasih. Sejak saat itu, Hindun menjadi muslimah yang taat dan setia kepada Islam.
Akhir Yang Indah
Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Hindun masih terus berjuang bersama kaum muslimin. Ia bahkan ikut mendukung perjuangan dalam Perang Yarmuk, salah satu peperangan yang besar di masa Khalifah Umar bin Khattab.
Hindun binti Utbah meninggal dunia dalam keadaan beriman dan tenang. Dari seorang yang dahulu sangat membenci Islam, ia berubah menjadi salah satu muslimah yang mulia.
Kisah Hindun mengajarkan kita bahwa hati manusia bisa berubah. Kebencian bisa berganti menjadi cinta jika cahaya kebenaran telah menyentuhnya. Allah Maha Lembut dan Maha Menerima tobat.
“Sesungguhnya Allah akan mengganti kegelapan dengan cahaya bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”













