Sabilulhuda, Yogyakarta: Kisah Gubernur Miskin Yang Dermawan – Pernahkah kamu mendengar kisah tentang seorang gubernur yang hidupnya sangat sederhana meskipun dia mempunya jabatan yang tinggi?
Inilah kisah inspiratif tentang Said bin Amir, seorang sahabat Nabi yang dikenal bukan karena kekayaannya, tetapi karena ketulusan dan kedermawanannya. Yuk, kita dengarkan kisahnya!
Awal Mula Kisah Dari Sebuah Eksekusi
Pada suatu hari yang panas di luar kota Makkah, pada saat itu orang-orang Quraisy berbondong-bondong menyaksikan hukuman bagi para tawanan saat perang Uhud. Di antara mereka, berdirilah seorang pemuda bernama Said bin Amir.
Ia juga menyaksikan seorang tawanan bernama Khubaib bin Adi, salah satu dari sahabat Nabi Muhammad, yang akan dieksekusi karena membela Islam.
Namun, meskipun terikat dan dikelilingi musuh, Khubaib tetap tegar. Ia memandang ke langit dan berdoa dengan tenang. Bahkan sebelum ia meninggal, ia masih sempat memohonkan ampunan bagi Nabi dan kaum muslimin.
Said yang menyaksikan peristiwa itu langsung tertegun. Ia melihat keberanian, kesetiaan, dan cinta sejati kepada Allah yang tidak pernah ia temui sebelumnya.
Maka sejak hari itu, hatinya berubah. Said mulai berpikir, “Agama seperti apa yang bisa membuat seseorang itu begitu kuat dan sabar dalam menghadapi kematian?”
Dan akhirnya, hidayah pun datang. Said mengucapkan syahadat dan memeluk agama Islam dengan sepenuh hatinya.
Baca Juga:
Menjadi Seorang Muslim Yang Teguh
Sejak menjadi muslim, Said bin Amir ikut berjuang dalam banyak peperangan bersama Nabi Muhammad ﷺ dan juga para sahabat lainya. Ia tak hanya gagah di medan perang, tapi juga sangat rendah hati dan amanah dalam kehidupan sehari-harinya.
Setelah Nabi wafat, Said tetap aktif untuk membantu para khalifah dalam membangun umat Islam. Ia hidup sangat sederhana dan tidak pernah mengejar dunia. Ketika Khalifah Umar bin Khattab melihat kejujurannya, beliau lalu menunjuk Said sebagai Gubernur di Syam (wilayah yang kini mencakup Suriah dan sekitarnya).
Namun, Said sama sekali tidak bangga atau sombong. Ia justru berkata kepada istrinya dengan lembut, “Kita tidak punya apa-apa, tapi semoga Allah mencukupkan kita dengan karunia-Nya.”
Uang Untuk Dunia Atau Akhirat
Sebagai gubernur, Said dan istrinya tetap hidup dengan sederhana. Khalifah Umar memberi mereka uang yang cukup banyak sebagai bekal. Tapi apa yang dilakukan Said?
Bukannya uang itu disimpan untuk diri sendiri, tetapi ia justru membagikannya kepada fakir miskin.
Ketika istrinya bertanya ke mana perginya uang investasi mereka, Said lalu menjawab dengan tersenyum, “Aku memberikannya kepada orang-orang yang membutuhkan. InsyaAllah keuntungan yang kita dapat bukan di dunia, tapi di akhirat.”
Subhanallah, betapa luar biasanya hati Said bin Amir. Ia tidak takut miskin, karena yakin Allah-lah yang akan mencukupkan segalanya.
Gubernur Yang Sering Pingsan
Waktu terus berlalu, dan suatu hari penduduk Syam mengadu kepada Khalifah Umar. Mereka berkata, “Wahai Amirul Mukminin, Gubernur kami tidak menemui rakyat sejak pagi. Kadang ia juga sering pingsan di siang hari.”
Umar pun langsung terkejut dan memutuskan datang sendiri untuk memeriksanya. Setelah bertemu, Umar bertanya dengan lembut, “Wahai Said, mengapa engkau jarang keluar pagi hari?”
Said menjawab, “Aku hanya punya satu pakaian. Setiap kali kotor, aku mencucinya dan menunggu sampai kering. Itulah sebabnya aku baru bisa keluar setelah siang hari.”
Baca Juga:
Lalu Umar bertanya lagi, “Mengapa engkau sering pingsan?”
Said menunduk dan air matanya menetes. “Karena aku selalu teringat pada peristiwa dahulu… ketika aku melihat Khubaib bin Adi disiksa. Aku tidak menolongnya pada saat itu. Setiap kali aku mengingat kejadian itu, tubuhku terasa lemas, dan aku takut Allah tidak mengampuniku.”
Mendengar penjelasan itu, Khalifah Umar pun menangis. Ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi aku pemimpin seperti engkau, wahai Said.”
Hidup Untuk Berbagi
Meski Umar kemudian memberikan uang 1.000 dinar untuk Said, sang gubernur tetap melakukan hal yang sama, ia membagikan seluruh uang itu kepada fakir miskin. Ia tidak ingin kekayaannya tersebut dapat menghalangi dirinya menuju surga.
Said bin Amir dikenal sebagai Gubernur Miskin yang Dermawan, bukan karena kekurangannya, tetapi karena hatinya yang penuh rasa cinta dan juga kebaikan. Ia menunjukkan bahwa kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta, tetapi ketenangan hati dan keikhlasan dalam memberi.
Pelajaran Dari Kisah Ini
Anak-anak, dari kisah Said bin Amir kita bisa ambil pelajaran bahwa:
- Jabatan yang tinggi tidak berarti harus hidup mewah.
- Sedekah itu tidak akan membuat kita menjadi miskin.
- Dan yang paling penting, Allah selalu mencukupkan hamba-Nya yang ikhlas dan juga amanah.
Semoga kita bisa meneladani kebaikan Said bin Amir, menjadi anak yang dermawan, jujur, dan selalu rendah hati.















