Cerita 27: Kisah Nenek Warti Dan Anjing Gogo  Buah Jatuh, Rejeki Tumbuh

dongeng anak cerita
Cerita 10: Pesta Dansa Bohongan di Hutan
dongeng anak cerita
Cerita 27: Kisah Nenek Warti Dan Anjing Gogo  Buah Jatuh, Rejeki Tumbuh

Cerita 27: Kisah Nenek Warti Dan Anjing Gogo  Buah Jatuh, Rejeki Tumbuh – Di sebuah lereng Gunung Merapi yang hijau dan sunyi, hiduplah seorang nenek tua bernama Nenek Warti. Rambutnya sudah putih seperti kapas, punggungnya agak bungkuk, dan langkahnya pelan—tapi senyumnya selalu hangat. Ia tinggal di sebuah gubuk bambu kecil beratapkan ilalang. Tak ada anak, tak ada cucu. Ia sebatang kara.

Tapi jangan sedih dulu. Nenek Warti tidak benar-benar sendiri.

Ia ditemani seekor anjing coklat yang lucu bernama Gogo. Namanya begitu karena saat kecil, Guling suka berguling-guling di atas daun-daun kering sampai bulunya penuh debu! Guling sangat setia. Setiap hari ia menemani Nenek Warti kemana pun, bahkan saat hujan dan angin besar sekalipun.

Petualangan Mencari Rejeki

Setiap pagi, Nenek Warti dan Gogo berjalan menyusuri jalan setapak di hutan kaki Merapi. Mereka tidak menebang pohon atau merusak tanaman. Tidak. Nenek hanya memungut buah-buahan yang rontok dan biji melinjo yang jatuh dari pohon.

“Rejeki itu cukup dari yang jatuh,” kata Nenek Warti sambil tersenyum.

“Kalau semua orang memetik yang masih muda, nanti hutan ini menangis.”

Gogo hanya menggonggong pelan sambil melompat-lompat, membantu mencium buah salak liar yang tersembunyi, atau menggali biji melinjo yang tertimbun daun.

Baca Juga:

dongeng anak cerita

Cerita 26: Gogo! Si Anjing Penjaga Surga Kecil Nenek https://sabilulhuda.org/cerita-26-gogo-si-anjing-penjaga-surga-kecil-nenek/

Terkadang, mereka menemukan pisang hutan yang sudah matang, kadang kelapa muda yang jatuh karena angin semalam. Semua dikumpulkan dalam keranjang tua dari anyaman bambu.

Meski sederhana, hasil itu cukup untuk makan mereka berdua hari itu.

Anjing Penjaga Dan Hati Yang Lembut

Suatu malam, angin dari puncak Merapi bertiup kencang. Gogo menggonggong keras. Nenek Warti terbangun.

“Ada apa, Gogo?”

Ternyata ada babi hutan lapar yang mengendus-endus sekitar gubuk. Gogo tak mundur. Ia menggonggong dan berlari-lari mengusir babi itu hingga jauh.

Nenek Warti menangis haru sambil memeluk Gogo saat ia kembali.

“Kamu anjing sahabatku. Malaikat kecil yang dikirim Tuhan…”

Sejak malam itu, Nenek Warti menambahkan doa setiap malam, “Ya Allah, panjangkan umur Gogo. Ia satu-satunya teman hidupku.”

Hari Ketika Gogo Sakit

Suatu pagi, Gogo lemas. Ia tidak mau makan. Matanya sayu.

Nenek Warti panik. Ia menggendong Gogo di atas kain jarit, membawanya ke kaki gunung mencari daun-daunan obat. Ia menyeduh air dari rebusan daun sambil berdoa.

Hari itu, ia tidak pergi mencari biji melinjo. Ia hanya duduk di samping Guling, mengusap kepalanya sambil bersenandung lagu Jawa lama:

“Udan rinintik, angin nging-nging…

Nek arep sembuh, Gogo kudu kenceng…”

Malamnya, dengan mata berkaca-kaca, Nenek Warti berkata, “Kalau Gogo pergi duluan, saya siap kok… asal Gogo bahagia.”

Tapi keajaiban datang. Esok pagi, Gogo menggoyangkan ekornya dan menjilat tangan Nenek Warti. Ia sembuh!

Keajaiban Di Hutan Melinjo

Suatu siang, saat mereka mencari biji melinjo, Gogo menggonggong keras ke arah semak. Nenek Warti mendekat, ternyata ada kantong tua berisi koin logam dan benda-benda antik, seperti sisa peninggalan zaman dulu.

Nenek Warti bingung. Ia lalu membawa kantong itu ke kepala dusun.

Kabar kejujuran Nenek menyebar. Wartawan datang. Anak-anak sekolah berkunjung ke gubuknya. Bahkan pemerintah datang dan berkata, “Nek, sebagai penghargaan atas kejujuranmu, kami akan bantu perbaiki rumahmu.”

Gubuk bambu itu pun menjadi rumah panggung kecil yang kokoh, dengan atap seng dan jendela kecil yang indah. Tapi Nenek Warti berkata:

“Aku hanya butuh atap untuk tidur. Tapi biarlah Gogo punya tempat teduh dan hangat. Ia sudah banyak berkorban.”

Akhir Yang Bahagia

Hari-hari berlalu. Nenek Warti dan Gogo tetap hidup sederhana. Mereka tak pernah sombong. Rejeki tetap dicari dari buah rontok dan biji melinjo. Tapi kini, banyak anak-anak sering datang belajar dari Nenek: tentang alam, kejujuran, kesetiaan, dan kesederhanaan.

Gogo pun terkenal! Ia sering duduk manis saat anak-anak datang, menjadi anjing paling terkenal di lereng Merapi.

Baca JugaBuku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud

Pesan Moral:

Kejujuran akan selalu membawa berkah.

Kesetiaan dan kasih sayang bisa datang dari siapa saja, bahkan seekor anjing.

Rejeki tidak selalu dari yang besar. Yang kecil tapi halal dan cukup, lebih menyejukkan hati.

Hidup yang damai bukan karena banyak harta, tapi karena hati yang bersih dan syukur yang tak putus.

Oleh: Izzayumna