Cerita 21: Gua Emas Palsu Dari Branang

dongeng anak cerita
Cerita 10: Pesta Dansa Bohongan di Hutan
dongeng anak cerita
Cerita 21: Gua Emas Palsu Dari Branang

Pelajaran: Kebohongan cepat terbongkar

Cerita 21: Gua Emas Palsu Dari Branang – Di sebuah lembah hijau bernama Alas Cempaka, tinggallah seekor ular bernama Branang. Branang terkenal licik dan suka membual. Suatu pagi yang cerah, ia menyebarkan kabar mengejutkan ke seluruh penghuni hutan.

“Aku menemukan gua emas!” katanya dengan suara mendesis-desis penuh drama di tengah pasar hutan. “Emasnya menggunung, berkilau-kilau! Aku bisa jadi Raja Alas Cempaka kalau mau!”

Kabar itu menyebar lebih cepat daripada suara angin melewati daun-daun. Para hewan pun berdatangan, penasaran.

Tukur, seekor merpati cerdas dan penasaran, mendengarnya sambil mencicit pelan, “Hmm, gua emas? Branang? Rasanya ada yang mencurigakan…”

Mendengar kekaguman semua hewan, Branang makin sombong. Ia mengumumkan, “Besok pagi, akan kuadakan pameran batu emas dari gua rahasiaku! Siapa yang mau lihat, siapkan bekal dan datang ke tanah lapang!”

Weki si bebek, Ruyuk si ayam, Ciku si ikan mas, dan bahkan Miu si kucing kampung ikut mendaftar untuk melihat pameran. Semuanya membawa hadiah kecil untuk Branang, berharap bisa mendapat sebongkah “emas” sebagai oleh-oleh.

Baca Juga:

Tapi Tukur tidak langsung percaya. “Branang ini, baru minggu lalu bilang dia bisa menyulap air sungai jadi madu. Padahal itu cuma air teh basi yang ia curi dari piknik Ruyuk!” pikirnya. Maka diam-diam, malam itu, Tukur membuntuti Branang.

Dengan sayap tenang dan mata awas, Tukur mengikuti Branang yang menyelinap ke balik semak. Ternyata gua emas itu… hanyalah goa kecil yang dipenuhi batu kapur yang dicat kuning! Branang bekerja keras mengecat batu-batu biasa agar terlihat seperti emas.

“Ha! Ketahuan!” bisik Tukur.

Pagi harinya, semua hewan berkumpul di tanah lapang. Branang datang dengan gerobak yang ditarik dua tikus Jukiu, penuh dengan batu-batu “emas”.

“Lihat! Batu dari gua emasku! Kilau aslinya menyilaukan!” seru Branang sambil memamerkan batu-batu palsunya.

Weki berdecak kagum, “Wow… tapi kok baunya seperti… cat tembok?”

Ruyuk mendekat dan mencolek batu itu, lalu mencium jari kakinya, “Iya ya… ini bau cat kuning murahan yang biasa dipakai ngecat kandang!”

Branang mulai berkeringat.

Tukur pun melayang turun dan berkata lantang, “Teman-teman, lihat ini!” Ia membuka kain kecil yang dibawanya. Di dalamnya ada batu asli dari Gua Siwar, tempat bebatuan emas sungguhan berasal. Batu itu berkilau, tetapi tidak menyilaukan. Warna dan teksturnya berbeda jauh dari batu catan Branang.

“Ini batu asli dari Gua Siwar. Dan ini… hasil lukisan Branang!” ujar Tukur sambil menyorotkan kaca pembesar mainannya ke batu Branang. Terlihat jejak kuas dan tetesan cat kering!

Semua hewan terkejut.

Branang berusaha menghindar, “I-itukan cuma… seni! Ya! Seni batu emas imitasi!”

Tapi Weki sudah mulai mengumpulkan batu “emas” itu dan meletakkannya ke dalam kolam. Seketika catnya luntur.

“Wah! Ini bener-bener palsu!” seru Ciku sambil tertawa.

Branang pun menunduk malu. “Maafkan aku… aku cuma ingin kalian kagum padaku,” gumamnya.

Tukur menepuk pundaknya dengan sayap. “Kagum itu tidak perlu pura-pura. Kalau kau jujur, kami akan tetap jadi temanmu.”

Akhirnya, Branang menyapu semua batu palsunya dan mengembalikannya ke dalam gua bohongannya. Ia berjanji tidak akan berbohong lagi, terutama soal hal-hal yang bisa cepat terbongkar.

Sejak hari itu, di Alas Cempaka, hewan-hewan selalu berkata:

“Lebih baik berkata benar dan sederhana, daripada mewah tapi dusta.”

Dan malam pun turun dengan damai. Semua hewan tidur nyenyak, termasuk Branang, yang mulai belajar menjadi ular yang jujur, walau dengan susah payah.

Pesan moral:

Kebohongan, sekecil apa pun, bisa cepat terbongkar. Jadilah jujur, karena kejujuran lebih berharga dari emas.

Baca JugaBuku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud

Oleh: Izzayumna