Cerita 20: Ruyuk Jadi Penyiar Radio Rahasia

dongeng anak cerita
Cerita 10: Pesta Dansa Bohongan di Hutan
dongeng anak cerita
Cerita 20: Ruyuk Jadi Penyiar Radio Rahasia

(Dongeng jenaka dari Hutan Cemara Plunyon)

Cerita 20: Ruyuk Jadi Penyiar Radio Rahasia – Di sebuah desa kecil di pinggir hutan cemara bernama Plunyon, hiduplah seekor ayam jantan bernama Ruyuk. Bulu dadanya mengkilap merah bata, dan jambulnya tegak bagai bendera merah kemenangan.

Tapi, yang paling istimewa dari Ruyuk adalah suaranya yang renyah dan lucu saat berbicara.

Teman-temannya sering berkata, “Ruyuk, kamu tuh kayak presenter radio! Suaramu bikin hati adem tapi juga bikin ketawa!”

Ruyuk tertawa ngakak, “Hehe, kalau aku jadi penyiar, semua ayam bisa joget pas aku siaran!”

Namun, suatu hari, suasana damai hutan berubah. Seekor musang licik bernama Sangsang mulai menyebarkan berita palsu.

“Awas! Akan ada banjir telur! Semua hewan harus pindah ke Bukit Batu!”

“Pemerintah hutan melarang berkotek di pagi hari karena mengganggu kupu-kupu!”

“Persediaan cacing darurat, ayam-ayam harus bayar daun mangga tiap minggu!”

Baca Juga:

dongeng anak cerita

Cerita 19: Naluri, Nurani, dan Nyali Kucing Super! https://sabilulhuda.org/cerita-19-naluri-nurani-dan-nyali-kucing-super/

Sangsang menyebarkan kabar ini dari semak ke semak, dari pohon ke pohon, sambil membawa pengeras suara tempurung kelapa yang diberi nama “Sangsang News”.

Akibatnya? Hutan jadi panik. Ayam-ayam mulai menyembunyikan telur di dalam celana kelapa. Burung pipit berhenti bernyanyi, dan bahkan kura-kura mulai menabung daun kering untuk beli cacing!

Ruyuk melihat semua kekacauan itu dan mengelus-elus jenggernya. “Ini sudah tak bisa dibiarkan,” gumamnya. “Kebenaran harus bersuara, dan… suara itu harus lucu biar semua dengar tanpa takut!”

Malam harinya, Ruyuk berkumpul diam-diam bersama sahabat-sahabatnya: bebek Weki, merpati Tukur, dan kucing Miu. Di bawah pohon jambu besar, mereka menyusun rencana penyiaran rahasia.

“Bagaimana caranya kita lawan Sangsang?” tanya Weki.

Lahirnya Radio Kicau Jujur

“Kita lawan dengan tawa!” jawab Ruyuk. “Aku akan siaran radio! Tapi rahasia! Kita bangun stasiun dari bambu, tempurung, dan daun talas. Kita beri nama: Radio Kicau Jujur!”

Mereka bekerja sepanjang malam. Weki membuat tiang antena dari bambu. Tukur mengumpulkan daun pisang untuk dijadikan kipas angin suara. Miu mengatur “studio rekaman” dari guci tua.

Keesokan harinya, ketika matahari terbit, seluruh hutan mendengar suara:

 “Selamat pagi, hewan-hewan tercinta! Ini Ruyuk, penyiar kalian yang bulunya rapi dan pikirannya jernih! Selamat datang di Radio Kicau Jujur! Tempat di mana berita di kocok, bukan dikacau!”

Para hewan berhenti panik. Suara itu… lucu! Tapi juga masuk akal!

“Berita pertama: tidak ada banjir telur! Telur-telur kalian aman, kecuali di makan sendiri saat lapar.”

“Berita kedua: Kotek pagi di larang? Heh, itu hanya alasan Sangsang biar ayam nggak rebutan suara! Silakan berkotek, tapi jangan fals ya!”

“Dan berita ketiga: cacing? Gratis! Yang bayar itu hanya ular kalau dia minta cacing jadi snek malam!”

Semua hewan tertawa geli! Bahkan kura-kura tertawa sampai batoknya goyang. Kabar benar tersebar cepat, lebih cepat dari kebohongan Sangsang!

Sangsang, yang mendengar Radio Kicau Jujur, marah bukan main. Ia mencoba menyaingi Ruyuk dengan membuat “Radio Sangsang Sakti”, tapi suaranya cempreng dan isinya tetap bohong. Akhirnya semua hewan lebih memilih mendengar suara lucu dan jujur dari Ruyuk.

Kebenaran, Cinta, dan Tawa

Sejak itu, Ruyuk resmi jadi penyiar hutan, walau studionya masih dari bambu dan sound-nya kadang pakai ember. Tapi satu hal yang tak pernah berubah:

Ia selalu bicara jujur. Dan lucu.

Setiap pagi, ia menutup siarannya dengan kata-kata khasnya:

“Ingat ya, teman-teman, kebenaran memang kadang pelan, tapi kalau di suarakan dengan cinta dan tawa… dia akan sampai ke telinga siapa saja. Jangan takut bicara benar, karena suara kebenaran harus di bela!”

Baca JugaBuku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud

Dan semua hewan pun bersorak,

“Ruyuk, Ruyuk, hidup Ruyuk!”

Oleh: Izzayumna