Cerita 17: Jebakan Pohon Permen

dongeng anak cerita
Cerita 10: Pesta Dansa Bohongan di Hutan
dongeng anak cerita
Cerita 17: Jebakan Pohon Permen

Cerita 17: Jebakan Pohon Permen – Di sebuah padang rumput yang hijau dan lucu, ada satu pohon yang sangat aneh: Pohon Permen.

Daunnya seperti kertas warna-warni, batangnya berbau vanila, dan buahnya adalah… permen kapas, permen karet, dan lolipop!

Setiap sore, para hewan kecil di Hutan Tawa akan berkumpul di bawah pohon itu. Mereka tertawa, makan permen bersama, dan saling berbagi cerita.

Tapi… tidak semua senang berbagi.

Namanya Sangsang, seekor musang licik dan usil yang tidak suka melihat teman-temannya bahagia.

“Huh! Mengapa semua hewan senang ke Pohon Permen? Tidak ada yang takut padaku! Padahal aku musang, lho! Harusnya mereka gemetar kalau aku lewat!”

Sangsang tidak suka melihat si Pipit, burung kecil yang cerewet tapi baik hati, selalu menyapa semua hewan dan membagikan permen dari pohon.

“Hai semua! Siapa mau permen stroberi?”

“Ini ada permen karet rasa mint, buat kamu, Miu!”

Setiap Pipit membagikan permen, semua tersenyum. Sangsang? Cemberut. Iri. Matanya menyipit seperti lem tikus.

Baca Juga:

Rencana Busuk Sangsang

Suatu pagi, Sangsang menyelinap ke bawah Pohon Permen sambil membawa sesuatu…

Lem super lengket! Lem ini bisa menempelkan apa saja: batu ke kepala, daun ke kaki, bahkan bulu ke batang pohon!

“Aku akan menempelkan lem ke batang pohon dan ke permennya. Saat Pipit mendekat dan mencabut permen, HA! dia akan lengket, jatuh ke tanah, dan semua hewan akan menertawakannya! Hahaha!”

Dengan tawa cekikikan yang terdengar seperti sumbat wastafel, Sangsang menempelkan lem ke permukaan permen yang paling disukai Pipit: permen lolipop rasa jeruk madu.

Ia menempelkan lem ke bawahnya, di tempat tersembunyi, dan bahkan mengelap tangannya dengan ekor landak (yang bukan miliknya, tentu saja).

Setelah semuanya siap, Sangsang bersembunyi di balik semak dan menunggu Pipit datang.

Pipit yang Cerdik

Tak lama kemudian, datanglah Pipit dengan lagu khasnya,

“Ci-ci-ciiitt… waktu permen, teman-teman!”

Ia mengepak kecil, mendarat di ranting, dan… berhenti.

“Hmm, kenapa permennya ada yang lengket-lengket seperti… lem?!”

Pipit bukan burung sembarangan. Ia ingat betul, dulu pernah main perang stiker dengan semut dan tahu betapa berbahayanya lem lengket.

Ia pun menatap pohon. Mencermati daun-daun di sekitar permennya.

“Aha! Daun ini aneh… seperti bekas dipegang musang!”

Dengan cepat, Pipit mencabut dua daun paling atas, yang ternyata diselipkan untuk menjebak posisi sayapnya.

Setelah daun terlepas…

JREENGGG!

Permen lengket itu melenting ke atas, meluncur seperti peluru manis… TEP!

Nempel di kepala Sangsang!

Karma Rasa Jeruk Madu

Sangsang yang sedang cekikikan membayangkan Pipit jatuh, tiba-tiba…

“HAP! UHMPHHHH!!”

Permen lolipop besar lengket itu nempel pas di tengah-tengah mukanya!

Ekornya menempel ke telinganya. Kumisnya ketarik ke alis. Gigi taringnya belepotan madu.

“Mmmphhh! Ngggghhh!!” jerit Sangsang.

Ia melompat-lompat panik, tapi makin melompat makin banyak dedaunan yang menempel di tubuhnya. Sekarang, ia tampak seperti pohon kecil berjalan dengan mulut ketutup permen.

Lalu datanglah Pipit.

“Hai, Sangsang! Wah, kamu suka banget ya sama permen? Sampe nempelin ke wajah sendiri?”

Semua hewan datang melihat. Mereka tertawa… bukan karena jahat, tapi karena benar-benar lucu. Bayangkan saja: musang galak berubah jadi topeng daun rasa jeruk!

Maaf dan Manisnya Pelajaran

Melihat semua menertawakan, Sangsang awalnya ingin marah. Tapi saat Pipit membantu membersihkan wajahnya (dengan air kelapa dan daun pisang), ia merasa malu.

“Maafkan aku, Pipit… Aku cuma… iri. Semua suka kamu. Aku ingin mereka melihatku juga…”

Pipit tersenyum.

“Lain kali, kalau kamu ingin ikut bermain atau berbagi, cukup bilang, Sangsang. Tak perlu perangkap. Karena niat jahat, walau kecil, bisa balik ke kepala sendiri!”

Sangsang menunduk. Ia tahu Pipit benar. Hari itu, ia duduk bersama yang lain, makan permen tanpa lem, dan mencoba tertawa bukan dari menjahili, tapi dari ikut bermain.

Niat buruk itu seperti lem di permen: licin, lengket, dan akhirnya malah nempel di diri sendiri. Kalau ingin disukai, cukup bersikap baik, bukan berbuat licik.

Sejak saat itu, Sangsang jadi anggota resmi Klub Permen Pohon dan diberi tugas khusus: menjaga permen dari hama jahat dan… lem curian.

Baca JugaBuku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud

Dan tahukah kamu?

Kadang-kadang, Sangsang masih suka jahil. Tapi bedanya, kini ia selalu tertawa bersama… bukan tertawa karena menertawakan.

Oleh: Izzayumna