
Cerita 14: Musang Sangsang Masuk Sekolah Musik – Di kaki Gunung Merapi yang sejuk, ada sebuah dusun kecil bernama Surodadi, tempat para hewan hidup rukun kecuali satu: Musang Sangsang. Ia terkenal licik, tukang ngintip dapur ayam, dan hobi menggoda Weki si bebek.
Tiap kali Weki bernyanyi ceria di sungai, Sangsang datang sambil meniru dengan suara parau, “Kwaaak kwaaak… bebek ompong minum teh!”
Suatu hari, kabar mengejutkan datang. Sekolah Musik Rimbakita dibuka! Guru pertamanya adalah Burung Jalak tua yang fasih menirukan suara apa pun, bahkan ringtone HP. Syaratnya? Semua hewan boleh ikut, asal mau serius belajar.
Mendengar ini, Weki si bebek, Miu si kucing, dan Tukur si merpati langsung mendaftar. Mereka punya mimpi membentuk paduan suara hutan untuk lomba festival suara alam.
Yang tak disangka-sangka, Musang Sangsang ikut mendaftar juga!
“APA? Musang tukang nyolong masuk sekolah?” seru Weki, sampai nyaris tersedak lumut.
Miu mengerutkan alis, “Jangan-jangan dia cuma mau bikin rusuh.”
Burung Jalak tenang saja. “Jangan berburuk sangka dulu dong, Kita beri semua kesempatan yang sama. Siapa tahu ia berubah.”
Baca Dongeng:

Cerita 13: Jebakan Cermin Ajaib Gagal Total https://sabilulhuda.org/cerita-13-jebakan-cermin-ajaib-gagal-total/
Hari Pertama Sekolah
Pelajaran pertama: pernapasan dan vokal dasar.
“Tarik napas lewat hidung… buang lewat mulut…,” ujar Burung Jalak, sambil mendemonstrasikan dengan suara yang sangat… merdu.
Weki bersinar dengan suara cemprengnya yang khas. Miu menyanyi dengan nada manja. Tukur merdu dan sopan.
Sangsang? Napasnya bunyi seperti kereta mogok. “Hrrrgggh… hgggkkk!”
Tiba-tiba ia terbatuk-batuk dan memakan microphone dari daun pisang. Semua murid menatap dengan ngeri.
“Sori, reflek!” katanya sambil mengunyah.
Hari Kedua: Harmoni
Burung Jalak mengajari mereka menyanyi bersama. Tapi Sangsang selalu telat masuk nada, menyanyi terlalu keras, dan kadang menyisipkan “mwehehehe” di tengah lagu.
Weki kesal, “Paduan suara ini jadi paduan sirik!”
Namun Sangsang tetap datang setiap hari. Ia mulai mencatat nada. Ia berlatih menahan tawa. Kadang terdengar ia menyanyi sendiri di bawah pohon bambu: “Laaa laaa laaaa… ohh bebek kuuu… manisnya sapinyaaa… eh, salah!”
Miu mulai memperhatikan, “Lho, dia latihan beneran ya?”
Hari Ujian: Audisi Paduan Suara
Hari itu tiba. Semua murid harus menunjukkan suara terbaik mereka untuk bisa ikut paduan suara. Weki tampil dengan lagu “Senandung Kali Surodadi”, disambut tepuk sirip dari semua.
Tukur menyanyikan lagu cinta langit: “Oooh angin soreee… bisikkan rinduu…”
Miu menyanyikan “Meong Blues di Dahan Jambu” agak melankolis, tapi gaya.
Saat giliran Sangsang, semua menahan napas.
Ia maju pelan, berdiri di depan, lalu menyanyi:
“Kawan-kawan, aku musang, dulu tukang usil…
Kini ku ingin, jadi nada, dalam irama damai…
Weki bebek, maaf ku goda…
Kini kubelajar… bernyanyi, bukan mencuri…”
Suara Sangsang… tidak sempurna. Tapi ada getaran ketulusan. Ada niat berubah.
Semua terdiam. Burung Jalak tersenyum, “Kau belum sempurna, Sangsang. Tapi kau bernyanyi dari hati. Itu awal yang baik.”
Paduan Suara Rimbakita
Beberapa minggu kemudian, Festival Suara Alam pun digelar. Paduan Suara Rimbakita tampil di panggung rumput dengan penonton dari seantero hutan.
Lagu mereka membahana:
“Kami berbeda, namun senada…
Dulu kami asing, kini saudara…
Musang, bebek, kucing, merpati, dan burung…
Dalam nada kami, damai bertumbuh…”
Penonton berdiri. Air mata jatuh dari mata Kuda yang datang jauh-jauh.
Dan Sangsang? Ia menangis di balik kostum daun pisang.
Berbeda beda tetapi menyatu saling mengisi, akur rukun itu menyenangkan ya man teman.
Baca Juga: Buku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud
Oleh: Izzayumna













