
Cerita 13: Jebakan Cermin Ajaib Gagal Total – Di kaki Merapi yang hijau dan selalu berasap lembut di pagi hari, ada sebuah desa bernama Umbulharjo. Di sanalah tinggal berbagai binatang yang hidup rukun—ayam jago bernama Ruyuk, bebek kocak Weki, merpati cerdik Tukur, dan kucing pemalas Miu.
Tapi, di balik semak belukar dan rumpun salak, bersembunyi tokoh-tokoh yang tak kalah heboh—terutama si Branang, ular licik yang selalu mencari akal buat bikin kerusuhan!
Suatu hari, Branang jengkel luar biasa.
“Kenapa semua binatang suka Ruyuk? Padahal cuma ayam jengger merah yang kalau berkokok suaranya kayak alarm bangunin subuh!” desis Branang sambil mengibas-ngibaskan lidahnya.
Lalu, muncullah rencana super licik: jebakan cermin ajaib!
“Aku akan taruh cermin besar di hutan kecil dekat mata air. Ketika Ruyuk lewat, dia akan lihat bayangannya sendiri, panik, dan lari terbirit-birit. Semua binatang akan tertawa, dan aku akan jadi pahlawan yang berhasil mempermalukan Ayam Somplak itu!” pikir Branang sambil cekikikan.
Operasi Cermin Gagal: Terlalu Berat Buat Ular
Cermin besar itu hasil curian dari rumah manusia. Branang membawanya dengan susah payah, tergelincir beberapa kali karena licin kena lendir tubuhnya sendiri. Tapi akhirnya, taraaa!, cermin itu berdiri miring-miring di bawah pohon randu, siap menunggu korban.
Baca Dongeng:

Cerita 12: Surat Undangan Dari “Raja Hutan” https://sabilulhuda.org/cerita-12-surat-undangan-dari-raja-hutan/
Keesokan harinya, Ruyuk bangun lebih pagi dari biasanya. Ia ingin menyapa embun sambil menyanyikan lagu baru hasil kreasinya:
“Kukuruyuuuuk… kukuruyaaahh…
Ruyuk datang, bawa berkahhh…”
Saat berjalan dengan langkah gagah, Ruyuk mulai masuk ke jalur menuju mata air. Tapi sebelum sampai, ia berhenti.
“Hmmm? Itu siapa ya di sana? Keren banget jenggernya!” katanya sambil melongok ke arah cermin.
Ruyuk mendekat. Dan mendekat. Dan…
“Waduh! Ternyata itu aku sendiri! Hehe… Tapi, kenapa aku makin ganteng ya tiap tahun?”
Ia tertawa terbahak-bahak sambil bergaya seperti pahlawan film. “Ck ck ck, Branang pasti lagi iseng nih.”
Ruyuk langsung tahu siapa dalangnya—karena hanya Branang yang punya ide-ide setengah matang seperti ini.
Tapi apa kabar Branang? Ia bersembunyi di balik batu sambil menunggu hasil jebakannya.
“Sebentar lagi pasti dia menjerit ketakutan… sebentar lagi… sebent—”
KRUK!
Branang Ketemu Monster… Yang Ternyata Dirinya Sendiri
Branang tergelincir karena lendirnya sendiri dan “BRUK!” kepalanya nyungsep ke cermin!
“AAAKK!! SIAPA ITU?!” teriaknya.
Ia melihat sosok ular besar dengan mata melotot dan lidah menjulur panjang.
“Aduh! Monster Merapi!!”
Branang melompat balik ke belakang, nabrak semak, jatuh ke kolam lumpur, lalu blub-blub-blub, tenggelam setengah badan sambil berteriak:
“AKUUU DIIIKUTIIIII MONSTEEEERRRRR!!!!”
Padahal ya… itu cuma pantulan dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, datanglah Weki si bebek, Miu si kucing, dan Tukur si merpati. Mereka melihat Branang belepotan lumpur, bulu ekor ilalang nyangkut di kepalanya, dan matanya masih terbelalak.
“Wah, kayak badut sirkus, nih,” kata Miu sambil menguap.
“Branang, kamu kalah sama cermin. CERMIIIIN!” Weki tertawa sampai terguling-guling.
Ruyuk pun datang dengan langkah penuh gaya. Ia menepuk pundak Branang dan berkata:
“Cermin itu jujur, Branang. Jadi kalau kamu takut lihat wajah sendiri… mungkin kamu memang menyeramkan buat dirimu sendiri.”
Semua tertawa keras.
Branang? Ia cuma bisa menyumpah-nyumpah pelan sambil menjilati lumpur dari sisiknya.
“Besok-besok… pakai jebakan terpal atau jebakan ulat sajalah…!”
Kejahatan dan niat buruk sering kali berbalik menyerang pelakunya sendiri.
Jadi, daripada bikin rencana licik, mending bikin rencana piknik!
Baca Juga: Buku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud
Oleh: Izzayumna













