Cerita 11: Ikan Goreng Palsu di Kolam Ciku

Cerita 11: Ikan Goreng Palsu di Kolam Ciku
Cerita 11: Ikan Goreng Palsu di Kolam Ciku
Cerita 11: Ikan Goreng Palsu di Kolam Ciku
Cerita 11: Ikan Goreng Palsu di Kolam Ciku

Cerita 11: Ikan Goreng Palsu di Kolam Ciku – Di sebuah kolam jernih di dusun Sukunan Pakembinangun, tinggal seekor ikan koi ceria bernama Ciku. Ciku bukan ikan koi biasa, ia suka bersiul lewat gelembung dan sering membuat lelucon dengan ekornya yang bisa meliuk-liuk seperti penari topeng.

Kolam itu begitu damai, dipenuhi lumut hijau empuk, batu loncatan licin, dan daun teratai yang bisa dijadikan tempat bersantai sambil ngopi… eh, maksudnya, ngudap plankton.

Namun, hari itu ketenangan terusik. Sangsang simusang yang lapar dan licik sedang merancang rencana baru.

“Ciku itu gendut. Dagingnya pasti renyah! Kita tangkap, kita goreng, dan kita makan dengan sambal cabe hutan!” seru Sangsang memegang serbet seperti chef, padahal belum bisa masak mi instan.

“Bagaimana caranya, bos? Ciku licin, cepat, dan… sok lucu,” sahut salah satu anak buahnya pasukan tikus yang lupa pakai celana. Tikus-tikus lainnya mengangguk. Mereka semua lapar, tapi juga malas berenang.

“Tenang! Kali ini kita pakai umpan palsu!” kata Jukiu. “Kita buat ikan goreng palsu dari kayu dan daun pisang, lalu kita beri bau ikan asin biar meyakinkan!”

Dan begitulah. Semalaman mereka membuat replika ikan goreng dengan kulit dari daun, gigi dari biji nangka, dan aroma amis dari… kaus kaki bekas milik Jukiu. Hasilnya? Menyerupai ikan goreng, kalau dilihat dari… planet Mars. Tapi mereka percaya diri.

Baca Dongeng Berikut:

Umpan Palsu Dan Kecurigaan Ciku

Pagi hari, tikus-tikus menyelinap ke tepi kolam dan menggantungkan umpan itu dengan benang plastik bekas layangan. “Ciku pasti tertarik. Siap-siap serbu!” bisik Sangsang si musang sambil tertawa cekikikan.

Ciku yang sedang berenang-renang santai sambil meniup gelembung lagu dangdut tiba-tiba melihat bayangan gurih bergoyang di permukaan air.

“Lhoh… ada ikan goreng di kolam? Ini… kolam aku. Mana bisa ada gorengan? Jangan-jangan ini jebakan,” pikir Ciku curiga. Tapi rasa penasarannya lebih besar daripada logikanya—namanya juga ikan koi, bukan bu Guru Paud.

Ciku mendekat perlahan. Umpan itu tampak menggoda, meski sedikit… menyeramkan. Matanya melotot tidak wajar dan daun pisangnya sobek-sobek.

“Hmm… kalau aku gigit, bisa-bisa malah batuk serpihan kayu. Tapi… tunggu dulu… aku punya ide!” Ciku tersenyum nakal.

Dengan napas dalam, ia mengumpulkan udara dan bluup bluup bluuup mengeluarkan gelembung besar dari mulutnya. Gelembung itu melayang naik pelan-pelan… lalu POP! tepat di bawah umpan ikan goreng palsu.

Tak disangka, umpan itu goyang, benangnya tersangkut ke cabang, lalu… jatuh ke air!

Cemplung!

Seluruh tikus langsung panik.

“Waaa! Umpannya tenggelam! Cepat, angkat! Angkat!”

Tapi sebelum sempat mereka menarik benangnya, Ciku sudah menyelam cepat, memutari umpan, dan… menendangnya dengan ekor sambil tertawa!

Mbah Telo Menyantap Sarapan “Kreatif”

BRUSHHH! Umpan itu tersedot ke dasar kolam… tepat ke mulut lele tua bernama Mbah Telo, yang ngantuk dan rabun.

“Eh? Sarapan?” GUP!

Dan habis sudah “ikan goreng palsu” itu dalam satu gigitan Mbah Telo yang mengira itu nasi uduk.

Sangsang dan pasukan tikusnya cuma bisa menatap kosong.

“Astaga… umpan kita dimakan lele renta…” gumam Jukiu, lesu.

Ciku muncul di permukaan dan mulai beatbox pakai gelembung. “Nih… aku bantu hibur,” katanya, lalu meniup gelembung berbentuk tikus gendut yang menari-nari.

Para tikus yang sudah lemas karena lapar malah ketawa ngakak. Salah satu dari mereka sampai jatuh ke kolam, lalu langsung naik lagi sambil jerit, “Airnya basah! Tolong!”

Keesokan harinya, kolam Ciku jadi ramai. Hewan-hewan dari seluruh penjuru kebun Sukunan  datang bukan untuk berburu Ciku, tapi untuk… menonton pertunjukan gelembung lucu dari si ikan koi kocak.

Ciku malah jadi selebriti lokal! Ia membuka stand-up comedy bawah air, dengan Mbah Telo jadi pengiring musik gelembung bass. Bahkan, tikus-tikus jadi kru produksi dan penjual tiket.

Dan yang paling mengejutkan: Sangsang menulis buku “Cara Gagal Menangkap Ikan tapi Menangkap Tawa” yang jadi best-seller di Pakem dan Cangkringan.

Baca JugaBuku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud

Oleh: Izzayumna