Oleh: Ki Pekathik
“Burung yang bijak ikuti sunnatullah memilih pohon untuk bertengger; memilih pula ranting tempat ia berpijak. Sebab tahu tempat berpijak menentukan bagaimana ia terlihat: gagah ketika kokoh, dan anggun ketika seimbang. Demikian pula manusia harus memilih lingkungan, pergaulan, dan tempat berpijak bagi hatinya. Sebab Iblis pun tidak datang secara sembarangan, mencari celah, membaca kelemahan, lalu menggoda dari titik yang paling mudah membuat manusia jatuh.”
Allah mengingatkan:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يُدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Sesungguhnya setan adalah musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya syaithon hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”
QS. Fāṭir [35]: 6
Perhatikan Allah berfirman bahwa setan itu musuh, dan memerintahkan:
فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا
“Maka jadikanlah ia sebagai musuh.”
Artinya, seorang mukmin tidak boleh hidup dengan keluguan spiritual. Ia harus mengetahui bahwa ada musuh yang terus mencari jalan untuk menjatuhkannya.
Baca Juga: Pertemuan Iblis Dengan Firaun
1. Iblis tidak selalu menyerang dari pintu yang kita jaga
Allah berfirman:
ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
“Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”
QS. Al-A‘rāf [7]: 17
Ini memberi pelajaran bahwa godaan mempunyai banyak jalan.
Seseorang mungkin kuat menghadapi godaan harta, tetapi lemah terhadap pujian.
- Ada yang kuat menjaga pandangan, tetapi lemah terhadap kemarahan.
- Ada yang kuat dalam ibadah, tetapi mudah jatuh kepada kesombongan.
- Ada yang tidak tertarik kepada dunia, tetapi sangat membutuhkan pengakuan manusia.
Maka kelemahan yang tidak kita kenali dapat menjadi pintu yang paling mudah dimasuki setan.
2. Karena itu, kenalilah “ranting rapuh” dalam diri kita
Setiap manusia memiliki titik rawan.
Ada yang berupa:
amarah, syahwat, kesombongan, iri hati, cinta pujian, cinta harta, dendam, rasa rendah diri, kesepian, atau keinginan untuk diakui.
Setan tidak perlu membuat kita meninggalkan semua kebaikan.
Terkadang cukup membuat kita terpeleset melalui satu kelemahan.
Seseorang bisa rajin beribadah, tetapi kemudian rusak karena merasa dirinya lebih baik daripada orang lain.
Karena itu Nabi ﷺ bersabda:
ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
“Ada tiga perkara yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri.”
HR. al-Bazzār dan al-Baihaqī; dinilai memiliki jalur-jalur penguat oleh sejumlah ulama.
Maka jangan hanya bertanya:
“Apa kelebihanku?”
Tetapi tanyakan juga:
“Di mana titik lemahnya diriku?”
Karena mengetahui kelemahan bukan berarti merendahkan diri. Itulah awal dari penjagaan diri.
Baca Juga: Begini Cara Halus Setan Menjatuhkan dan Menghina Manusia
3. Burung memilih ranting yang kokoh; manusia harus memilih tempat berpijak yang kokoh
Burung tidak sembarang hinggap, membutuhkan tempat yang mampu menopang tubuhnya.
Demikian pula hati manusia.
- Kalau hati bertengger di atas hawa nafsu, ia mudah jatuh.
- Kalau bertengger di atas pujian manusia, ia akan gelisah ketika tidak dipuji.
- Kalau bertengger di atas harta, ia takut kehilangan.
- Kalau bertengger di atas jabatan, ia takut diturunkan.
Tetapi jika hati bertengger di atas Allah, ia memiliki tempat kembali ketika dunia berubah.
Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
QS. Ar-Ra‘d [13]: 28
4. Jangan hanya memperbaiki iman; perbaiki juga lingkungan
Ada kalanya seseorang merasa dirinya kuat, padahal ia sedang berdiri terlalu dekat dengan pintu fitnah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang berada di atas agama sahabat dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman dekat.”
HR. Abū Dāwūd dan at-Tirmiżī.
Maka memilih teman tidak hanya mencari kawan untuk berbincang.
Kita sedang memilih siapa yang ikut membentuk hati kita.
Pohon yang baik memberikan tempat berteduh.
Ranting yang kokoh memberikan tempat berpijak.
Teman yang baik memberikan kekuatan untuk tetap tegak.
Baca Juga: REPUBLIK LAYAR MINI
5. Jangan merasa gagah hanya karena mampu berdiri di tempat yang berbahaya
Ada orang berkata:
“Saya kuat, saya tidak akan terpengaruh.”
Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk menjauhi perkara yang meragukan.
فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ
“Barang siapa menjaga diri dari perkara-perkara syubhat, berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya.”
HR. Bukhari dan Muslim.
Kekuatan bukan selalu berarti berani mendekati bahaya.
Terkadang kekuatan justru terlihat dari keberanian untuk menjauh.
Maka jadilah seperti burung yang bijaksana.
- Sebelum hinggap, ia melihat pohonnya.
- Sebelum berpijak, ia melihat rantingnya.
- Sebelum menetap, ia memastikan kekuatannya.
Begitu pula seorang mukmin:
Sebelum berteman
Lihat pengaruhnya.
Sebelum memasuki lingkungan
Lihat akibatnya.
Sebelum mengikuti keinginan
Lihat ujung jalannya.
Sebelum percaya pada perasaan
Timbang dengan wahyu dan hadits serta adat yg baik.
Sebelum menyalahkan keadaan
Periksa kelemahan diri.
Sebab Iblis tidak selalu datang dengan sesuatu yang tampak buruk.
- Kadang ia datang melalui sesuatu yang kita sukai.
- Kadang melalui sesuatu yang kita merasa mampu mengendalikan.
- Kadang bahkan melalui sesuatu yang pada awalnya terlihat kecil.
Karena itu, jangan hanya menjaga pintu rumah, tetapi kenali juga jendela-jendela hati.
Sebab setan tidak membutuhkan pintu yang besar untuk masuk.
Cukup satu celah yang tidak kita sadari.
Dan ketika kita telah mengetahui celah itu, jangan berputus asa. Tutup dengan dzikir, ilmu, lingkungan yang baik, muhasabah, dan isti‘ādzah kepada Allah.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
Karena orang bijak bukan orang yang merasa dirinya tidak memiliki kelemahan; orang bijak adalah orang yang mengenali kelemahannya, lalu tidak membiarkan Iblis menjadikannya jalan untuk menjatuhkan dirinya.
Semoga bermanfaat salam kasih yg seimbang dari sabilulhuda lereng merapi.
Baca Juga: Tidak Sepatutnya Meninggalkan Amal Yang Disyariatkan Karena Takut Riya









