Bolehkah Umat Islam Merayakan Tahun Baru

Perayaan tahun baru hijriah pertama kali dilakukan sekitar abad 45 sebelum masehi yakni pada tanggal 1 Januari oleh orang kafir. Perayaan tersebut bukan dari islam.
Seorang syaikh bernama Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid berkata pada fatwanya mengikuti dalam perayaan tahun baru adalah kemungkaran oleh seorang muslim.
Sudah diketahui oleh seluruh umat muslim bahwa islam hanya memiliki dua hari besar yakni hari raya idul adha, hari Jumat dan hari raya idul fitri.
Jadi merayakan tahun baru hijriah adalah meniru-niru non-muslim yang berarti bid’ah maupun tasyabbuh. Apabila untuk mendekatkan diri kepada Allah disebut bid’ah.
Namun jika perayaan tersebut bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan hanya sekedar mengikuti orang kafir maka disebut Tasyabbuh.
Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah MUI Cholil Nafis menegaskan bahwa dalam merayakan tahun baru tidak ada tuntutan khusus untuk menganjurkan maupun melarangnya. Tetapi yang perlu dilakukan yaitu bersyukur karena masih bisa menikmati umur.
“Tidak ada tuntunan khusus untuk merayakan tahun baru, tapi yang perlu kita lakukan adalah mensyukuri dari tambahnya umur, muhasabah, membuat target-target kebaikan dan pengabdian kepada umat,”tegas Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah MUI.
Cholil Nafis juga mengatakan apabila merayakan tahun baru dengan foya-foya,berpesta yang haram. Tentu hal tersebut Allah membencinya sehingga hukumnya haram.
Cholil berkata, “Dalam arti marayakan (dengan) foya-foya membeli kembang api ratusan ribu itu mubadzir, tentu Allah tidak senang dengan hal mubazir, apalagi dipakai dengan pesta-pesta haram, seks bebas, tentu saja hukumnya haram.”
Maka dari itu seharusnya untuk tidak meniru-meniru umat non-muslim seperti Nasrani maupun Yahudi. Sebab dalam ibadah kita selalu memohon kepada Allah Ta’ala untuk diberikan jalan yang lurus bukan jalan yang sesat.
Di dalam surah pertama yakni Al-Fatihah djelaskan,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al-Fatihah: 6-7)
Seorang tafsir bernama Jalaluddin Al-Mahalli menjelaskan bahwa orang-orang yang mendapatkan hidayah pada ayat diatas adalah orang muslim dan bukan orang-orang Nasrani maupun orang-orang Yahudi.
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al-Fatihah: 6-7)

Sumber https://rumaysho.com/26065-hukum-merayakan-tahun-baru.html, https://www.republika.co.id/berita/qm6y6w366/benarkah-muslim-haram-merayakan-tahun-baru-masehi

(Zuhdi)

Artikel yang Direkomendasikan