Birrul Walidain

Terik matahari membuat tubuh terasa terbakar. Siang itu, bel pulang sekolah telah berdentang. Karin dan teman-temannya berdesak-desakan menuju luar sekolah. Disusurinya jalan setapak bersama temannya, tanpa ada keluhan mereka jalan dengan ikhlas hati.
Setiba dirumah, Karin langsung menghampiri ibunya yang sedang memilah kayu yang akan dibuat arang. Tidak banyak bicara, Karin langsung membantu ibunya. Ibu Karin sempat menyuruh Karin untuk makan dan istirahat terlebih dahulu, namun Karin selalu bersikeras untuk membantu ibunya. Tak berselang lama
senjapun tiba, dengan warna jingganya. Karin bersiap-siap untuk mandi, lalu ia akan mengaji di mushola. Sementara itu, ibunya masih memilah kayu di depan rumah. Gak lama kemudian, datanglah teman-teman Karin untuk menghampirinya. Akhirnya mereka berangkat ke mushola.
Beberapa langkah menuju mushola, beberapa teman Karin bertanya kepadanya tentang pelajaran sekolah. Mereka berjalan dengan riang canda dan tawa. Beberapa langkah lagi sampai di mushola. Mereka langsung mengambil posisi duduk. Tidak lama kemudian, Pak Ustadz datang membawa beberapa buku materi kajian.
Kajian diawali dengan berdo’a, kali ini materi kajian ialah ‘birrul walidain’ yaitu berbakti kepada kedua orang tua. Mereka membahas tentang cara memperlakukan kedua orang tua, merawat kedua orang tua, dan cara berbicara kepada kedua orang tua.
Adzan maghrib tengah berkumandang, usai sudah kajian mereka. Kini dilanjut dengan sholat maghrib lalu isya’. Setelah sholat isya’, mereka pulang ke rumah masing-masing.
Karin memasuki rumah, lalu mencari ibunya. Ia melihat ibunya yang sedang tertidur, raut mukanya menampakkan kelelahan karena pekerjaan yang harus ia lakukan. Melihat ibunya tertidur, ia sempat ingin menangis. Satu dua tetes air matanya terjatuh ke lantai rumah.
‘Ya Allah, betapa lelahnya Ibuku. Ia harus menjadi ibu sekaligus ayah untuk aku. Benar kata Pak ustadz tadi, seorang ibu tidak pernah mengeluhkan kelelahannya kepada anaknya.’
Batin Karin dihadapan ibunya sambil memandangi muka ibunya. Mulai sekarang ia harus lebih menghormati ibunya dan mendengarkan nasihatnya. Sampai kapanpun ia akan terus menghormati ibunya. Ia sadar jika selama ini Karin kurang mendengarkan dan menghormati ibunya. Walaupun ayah Karin sudah meninggal, namun ia akan melakukan nasihatnya dulu ketika masih hidup.
Nah kawan-kawan, mari kita hormati orang tua kita. Terutama ibu, karena beliaulah yang sudah mengandung, merawat, dan menyusui kita. Beliaulah yang rela mengorbankan nyawanya demi anaknya, perlu diketahui juga bahwa surga berada dibawah telapak kaki ibu.***

(NISA NUR ISTIGHFARI LATIFAH)