Birrul Walidain: Kisah Kilab Bin Umaiyah Bin ‘Askar – Birrul walidain atau berbakti kepada orangtua Adalah kewajiban setiap anak. Ridha Allah Adalah Ridha orangtua. Selama masih ada orangtua janganlah kita sia-siakan kesempatan ini, karena balasannya adalah surga.
Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik pada orang tua selain itu kita tidak boleh menolak ucapannya selagi merupakan perkara yang baik apalagi sampai membentaknya hal ini sesuai dengan Quran Surat Al Isra ayat 23 :
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“ Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu. Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah” dan janganlah engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik”
Kisah Kilab Bin Umaiyah Yang Berbakti Kepada Orang Tua
Dikisahkan pada zaman kekhalifahan Umar Bin Khattab hiduplah seorang pemuda yang sangat berbakti pada kedua orang tuanya. Pemuda itu bernama Kilab bin Umaiyah bin ‘Askar.
Dia selalu memerah susu unta dan dihidangkannya pada kedua orangtuanya setiap pagi dan sore hari. Tidak ada raut kelelahan yang nampak terlukis di wajahnya, melainkan rasa senang karena dapat berbakti kepada orang tuanya
Suatu ketika dua orang datang mengunjungi rumahnya sembari mengajak untuk perang berjihad di jalan Allah. Kilab merasa tertarik sebab balasan bagi orang yang berjihad berupa surganya Allah.
Lantas pemuda yang sering berbakti kepada orang tua itu segera mencarikan budak untuk menggantikan tugasnya merawat sang Ibu Bapak.
Baca Juga:

Teladan Ketabahan dari Rumah Fatimah az-Zahra https://sabilulhuda.org/teladan-ketabahan-dari-rumah-fatimah-az-zahra/
Setelah itu pergilah Kilab menuju Irak untuk berjihad . Di sore hari, budak yang dibeli Kilab itu tengah menyediakan susu kepada orang tuanya, namun saat itu orang tua Khilab nampak tengah tertidur pulas. Alhasil budak itu pun tak tega membangunkannya dan pergi keluar kamar.
Kesedihan sang ayah mengingat anaknya.
Saat tengah malam Ayah Kilab terbangun dan merasa lapar. Ia seketika teringat anaknya yang senantiasa menyodorkannya susu hangat . Hati orang tua itu pun menjadi sedih maka berkatalah bapak Kilab:
“Dua orang telah memohon kepada Kilab dengan kitabullah, keduanya telah bersalah dan merugi. Kamu meninggalkan bapakmu yang kedua tangannya gemetar dan ibumu yang tidak bisa minum dengan nikmat .
Jika merpati itu bersuara di lembah Waj karena telur-telurnya, keduanya mengingat Kilab dia di datangi oleh dua orang yang membujuknya,
“Wahai hamba-hamba Allah sungguh keduanya telah durhaka dan merugi, aku memanggilnya lalu dia berpaling dengan menolak, maka dia tidak berbuat yang benar. Sesungguhnya ketika kamu mencari pahala selain dari berbakti kepadaku hal itu seperti mencari air yang memburu fatamorgana.
Apakah ada kebaikan setelah menyia-nyiakan kedua orang tua?”. Demi bapak Kilab, perbuatannya tidak dibenarkan.
Khalifah Umar bin Khattab yang bijaksana
Perkataan bapak Kilab ini kemudian sampai juga pada Umar Bin Khattab r.a, Kholifah yang saat itu tengah menjabat. Umar yang gagah dan tegar itu akhirnya menangis karena kabar tersebut. Jika ada orang luar Madinah yang datang ke Kota Madinah, Umar Bin Khattab ra selalu menanyakan berita-berita dan keadaan mereka.
Umar bertanya kepada salah seorang yang datang, “ Dari mana ?”
Orang itu menjawab ”Dari Thoif”.
Umar bertanya” Ada berita apa?”
Orang itu menjawab” Aku melihat seorang laki-laki berkata( laki-laki ini menyebut ucapan Bapak kilab di atas).”
Umar menangis dan berkata “sungguh Kilab mengambil langkah yang keliru.”
Karena tak sampai hati dan merasa bersalah Sayyidina Umar akhirnya menulis surat untuk panglimanya yang berada di Irak yakni Abu Musa Al Asyari agar memulangkan Kilab ke Madinah.
Sayyidina Umar sebenarnya tak tahu menahu perihal pemuda saleh bernama Kilab yang berangkat ke Irak untuk berjihad .

Di Irak berkatalah Abu Musa ” temuilah Amirul Mukminin wahai Kilab.”
Khilab yang ketakutan lantas menanyakan alasan apa yang membuat ia harus menemui Amirul Mukminin,” Tapi aku tidak melakukan kesalahan dan tidak pula melindungi seseorang yang bersalah,” sergah Kilab. Namun kemudian disanggah lagi oleh Abu Musa agar dirinya segera pergi .
Sesampainya dari Irak ia segera menemui Sayyidina Umar maka berkatalah Umar kepada Kilab,” Sejauh mana kamu berbuat baik kepada kedua orang tuamu?”.
Kilab menjawab,” Aku mementingkannya dengan mencukupi kebutuhannya jika aku hendak memeras susu untuknya maka aku memilih unta betina yang paling gemuk paling sehat dan paling banyak susunya. Aku mencuci puting susu unta itu dan barulah aku memeras susunya lalu menghidangkannya kepada mereka .”
Pertemuan Kilab dan orangtuanya
Kemudian Umar mengutus orang untuk menjemput bapaknya. Tak berselang lama sampailah bapak Kilab bin UmaIyah bin ‘Askar ke hadapan sang khalifah. Perjalanannya dari Thoif ke Madinah memakan cukup banyak waktu, lantaran dirinya sudah sangat renta dan membutuhkan seorang untuk memapahnya.
Ia mengisahkan bahwa dirinya dan sang istri telah mengalami musibah yang sangat berat.
Umar bertanya kepadanya,”Apa kabarmu wahai Abu Kilab?”.
Dia menjawab,” Seperti yang Anda lihat wahai Amirul Mukminin.”
Umar bertanya,” Apakah kamu ada keperluan?”.
Dia menjawab,” Aku ingin melihat Kilab. Aku ingin mencium dan memeluknya sebelum aku mati”.
Umar menangis dan berkata,” Keinginanmu akan tercapai Insya Allah.”
Sebelumnya Sayyidina Umar telah memerintahkan Kilab, untuk memeras susu unta seperti yang biasa ia lakukan. Susu tersebut kemudian di sajikan ke hadapan bapak Kilab sambil berkata,” Minumlah ini wahai Abu Kilab,.”
Saat susu tersebut di dekatkan ke mulutnya berkatalah bapak Kilab,” Demi Allah aku mencium bau kedua tangan Kilab”.
Sayyidina Umar lantas mempertemukan Kilab dengan Sang Bapak seraya berkata,” Ini Kilab, dia di sini kami yang menyuruhnya pulang.”
Anak dan bapak tersebut menangis bersama, juga Umar dan sahabat yang hadir. Sungguh sebuah peristiwa yang mengharukan.
Mereka berkata,” Wahai Kilab, temani kedua orang tuamu”.
Sejak saat itu Khilab tidak pernah lagi meninggalkan mereka sampai wafat.
Semoga kisah ini menjadi pelajaran untuk kita untuk selalu memuliakan orang tua dan berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi segala kebutuhannya dan semoga kisah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua
Baca Juga: Kisah Sya’ban, Sahabat Nabi yang Menyesal Saat Sakaratul Maut













