Bintang Kehormatan Presiden Prabowo: Jalan Persatuan Atau Pamer Kuasa? – Presiden Prabowo Subianto memulai pemerintahannya dengan gebrakan simbolis: penganugerahan bintang kehormatan kepada sejumlah tokoh, termasuk mantan presiden dan politisi senior.
Alasannya sederhana: penghargaan dianggap sebagai bentuk penghormatan negara kepada mereka yang telah berjasa.
Namun, langkah ini justru menimbulkan pertanyaan besar. Benarkah bintang kehormatan ini menjadi simbol rekonsiliasi nasional, atau hanya sebatas etalase politik untuk mengokohkan legitimasi

Pepatah Jawa kembali relevan: ngono yo ngono, ning ojo ngono, boleh saja menghormati, tapi jangan sampai rakyat melihatnya sebagai penghinaan terhadap nurani kolektif.
Bintang Tidak Turun Dari Langit
Di atas kertas, bintang kehormatan adalah simbol pengakuan negara. Tetapi di mata publik, simbol ini tidak pernah netral. Setiap lencana yang disematkan membawa bobot moral, terutama bila penerimanya punya jejak kontroversial.
Bayangkan rakyat yang pernah jadi korban konflik politik, atau yang menyimpan luka sejarah. Saat melihat figur-figur bermasalah menerima penghargaan negara, apa yang mereka rasakan? Alih-alih bangga, banyak yang justru kian apatis.
Rakyat Bertanya, Negara Menjawab Apa?
Di akar rumput, reaksi publik beragam. Ada yang memandang langkah ini sebagai upaya menyatukan bangsa. Tetapi lebih banyak yang justru bertanya: “Mengapa mereka? Apa jasanya di mata rakyat kecil?”
Bagi masyarakat yang masih di hantui isu pelanggaran HAM, korupsi, dan penyalahgunaan wewenang, penganugerahan ini terasa janggal. Seperti membubuhkan cat emas di atas tembok retak indah di pandang, tapi rapuh di dalam.
Baca Juga:

Rayap Bernama DPR: Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono! https://sabilulhuda.org/rayap-bernama-dpr-ngono-yo-ngono-ning-ojo-ngono/
Argumen Istana
Tentu pemerintah punya dalih. Ada tiga argumen utama yang kerap di kemukakan:
- Rekonsiliasi Politik: Negara ingin menutup luka lama, merangkul semua pihak demi stabilitas.
- Penghargaan Formal: Bintang hanya urusan protokoler, tidak ada hubungannya dengan masa lalu kelam.
- Simbol Persatuan: Dengan penghargaan ini, Indonesia di harapkan lebih solid menghadapi tantangan global.
Di atas kertas, logika ini terdengar manis. Tetapi dalam praktik, politik jarang berjalan seindah brosur.
Risiko Senjata Makan Tuan
Penganugerahan bintang bisa menjadi bumerang. Alih-alih memperkuat legitimasi, ia berpotensi memperdalam jurang ketidakpercayaan. Publik yang kritis akan melihatnya sebagai upaya memutihkan dosa masa lalu.
Pepatah Jawa memberi peringatan: ngono yo ngono, ning ojo ngono. Rekonsiliasi itu baik, tapi bila caranya menginjak perasaan korban, ia bisa berubah menjadi adigang adigung pamer kuasa politik tanpa empati.
Antara Simbol Dan Substansi
Pada dasarnya, penghargaan negara seharusnya menjadi simbol gotong royong moral. Tetapi gotong royong hanya bisa tumbuh bila ada rasa adil. Jika penghargaan hanya jatuh pada mereka yang dekat dengan kekuasaan, sementara rakyat kecil terus terpinggirkan, maka substansi hilang, yang tersisa hanya formalitas.
Jalan Rekonsiliasi Atau Jalan Adigang Adigung?
Pemberian bintang kehormatan bisa jadi momentum persatuan, jika di lakukan dengan bijak dan transparan. Tetapi jika hanya menjadi panggung politik, ia hanya akan memperkuat sinisme publik.
Indonesia butuh simbol yang membangkitkan harapan, bukan memperdalam luka. Karena itu, rekonsiliasi sejati harus dibangun di atas keadilan dan empati, bukan hanya sebagai tanda jasa di dada elite.













