Big Why: Mengapa Harus Jadi Fundraiser Seumur Hidup?

Seorang wanita berhijab sedang berbicara di depan layar presentasi dengan teks “Big Why mengapa harus menjadi fundraiser seumur hidup”, disertai tulisan besar di bawah foto bertuliskan “Mbak Diani: Semangat Fundraiser Seumur Hidup”.
Mbak Diani Pratiwi saat membawakan sesi pelatihan bertema “Big Why: Mengapa Harus Menjadi Fundraiser Seumur Hidup” di Sabilulhuda. Ia mengajak peserta untuk memahami bahwa menjadi fundraiser bukan sekadar profesi, tetapi juga jalan dakwah dan pengabdian seumur hidup.

Sabilulhuda, Yogyakarta; Big Why: Mengapa Harus Jadi Fundraiser Seumur Hidup? – Di dunia yang semakin sibuk dengan pencitraan dan kompetisi material, menjadi seorang fundraiser itu bukanlah hanya sebuah pekerjaan mencari donatur. Tetapi hal ini merupakan jalan hidupnya. Yaitu Jalan untuk terus mengingatkan diri dan orang lain bahwa harta bukanlah sebagai tujuan, melainkan sebagai amanah.

Saat Harta Tak Lagi Sebatas Angka

Mbak Diani Pratiwi, salah satu tokoh yang telah lama bergerak di dunia fundraising Islam, beliau membuka sesi pelatihan di Sabilulhuda dengan pertanyaan yang sederhana:

“Untuk apa kita hidup dan mengumpulkan harta?”

Pertanyaan itu sunyi, yang membuat para peserta terdiam.

Kebanyakan dari kita sudah bekerja keras, menabung, membeli ini-itu, mengejar kenyamanan. Namun, di balik semua itu, sering kali kita lupa: harta bukanlah hasil akhir, tapi alat untuk menebar manfaat.

Banyak orang mungkin berpikir bahwa menjadi fundraiser itu hanya soal mengajak orang untuk berdonasi. Padahal, lebih dari itu, fundraiser adalah sebuah jalan sebagai penggerak kesadaran. Ia menanamkan nilai bahwa keberkahan bukan datang dari seberapa banyak yang kita miliki, tetapi dari seberapa banyak yang kita bagi.

Ketika Fundraising Menjadi Jalan Dakwah

Di dalam sesi tersebut, Mbak Diani berbagi kisah nyata ketika beliau saat di lapangan. Belaiu bercerita tentang bagaimana ia pernah harus berbicara di hadapan para pengusaha besar, bahkan miliarder, hanya untuk mengajak mereka supaya berwakaf produktif.

ini bukanlah hal yang mudah. Sebagian ada yang menolak, sebagian tersenyum sinis, dan ada juga yang menunda-nunda dengan seribu alasan.

Baca Juga:

Namun, di balik perjuangan beliau itu, ada kepuasan batin yang tak akan pernah tergantikan.
“Setiap kali ada yang tersentuh dan mau berbagi, saya tahu bahwa satu keputusan itu bisa mengubah kehidupan banyak orang,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, bahwa fundraising bukan hanya soal urusan angka di rekening, tapi juga sebuah misi dakwah sosial. Dakwah yang mengajarkan kesadaran bahwa uang dan kekayaan tak akan berarti tanpa adanya arah dan niat yang benar.

Belajar Dari Para Dermawan Dunia

Dalam refleksinya, Mbak Diani sempat menyebut tokoh dunia seperti Bill Gates dan Warren Buffet, dua miliarder yang justru memilih menghabiskan sebagian besar hartanya untuk kegiatan sosial dan kemanusiaan. Namun, menariknya di dalam Islam, konsep berbagi sudah diajarkan sejak 14 abad yang lalu melalui zakat, infaq, dan juga wakaf.

Sayangnya, banyak dari umat Islam yang malah justru belum memahami potensi besar dari wakaf produktif ini. Padahal, jika hal tersebut di jalankan dengan benar, wakaf bisa menjadi motor ekonomi umat yang berkelanjutan. Bisa membangun sekolah, rumah sakit, hingga usaha yang keuntungannya kembali ke masyarakatnya juga.

“Bayangkan kalau setiap muslim yang mampu mau berwakaf produktif. Kita tidak hanya menolong orang hari ini, tapi juga menyiapkan masa depan generasi selanjutnya,” kata Mbak Diani dengan penuh semangat.

Melawan Budaya Hedonisme

Dalam bagian lain, ia juga menyinggung tentang budaya hedonisme yang kini semakin merajalela. Dari media sosial hingga gaya hidup yang modern. Banyak orang lebih bangga memperlihatkan barang yang mahal daripada berbagi rezeki. Padahal, kata beliau:

“tidak ada kebahagiaan yang lebih dalam daripada melihat senyumnya orang lain karena bantuan dari kita”.

Menjadi seorang fundraiser sejati berarti harus melawan arus itu, yaitu dengan mengubah pola pikir dari konsumtif menjadi produktif, dari gengsi menjadi empati.

Baca Juga:

Menghidupkan Spirit Fundraiser Seumur Hidup

Menjadi fundraiser seumur hidup bukan berarti kita harus bekerja di lembaga sosial selamanya. Justru, setiap orang bisa menjadi fundraiser di lingkungannya sendiri. Di rumah, di kantor, di komunitas, bahkan di dunia digital, setiap kita pasti punya peluang untuk menjadi perantara kebaikan.

Fundraiser bukan hanya soal mengumpulkan dana, tapi bagaimana cara menumbuhkan semangat untuk berbagi dan kepekaan sosial. Setiap kali kita menginspirasi seseorang untuk membantu sesama, di situlah sebenarnya jiwa fundraiser hidup dalam diri kita.

Membangun Ekosistem Kebaikan

Dari berbagai pengalamannya, Mbak Diani menyadari satu hal penting, bahwa fundraising yang berkelanjutan hanya bisa tumbuh jika dibangun di atas kepercayaan dan juga kolaborasi.

Transparansi, komunikasi, dan niat yang lurus menjadi pondasi utama. Sehingga orang tidak akan memberi karena dipaksa, tetapi mereka memberi karena percaya. Dan kepercayaan itu akan tumbuh dari ketulusan dan integritas.

Di akhir sesinya, beliau menutup dengan kalimat yang mengena:

“Jangan berhenti di tangan kita. Jadikan setiap kebaikan mengalir seperti air yang menumbuhkan kehidupan di sekitarnya.”

Refleksi Dari Harta, Amanah, Dan Jalan Pulang

Menjadi fundraiser seumur hidup bukan berarti kita harus selalu berada di panggung yang besar atau lembaga ternama.
Tapi bagaimana kita bisa memandang harta, waktu, dan tenaga sebagai sarana untuk  ibadah.

Karena sejatinya, setiap rupiah yang kita keluarkan di jalan kebaikan akan kembali kepada kita, bukan dalam bentuk uang, tapi dalam bentuk ketenangan hati dan keberkahan hidup.

Dunia mungkin akan selalu berubah, tapi nilai keikhlasan tak akan pernah lekang oleh waktu. Dan di situlah makna yang sesungguhnya dari menjadi seorang fundraiser seumur hidup. Yaitu kita bisa menjaga semangat untuk memberi, selama hayat kita masih terkandung badan.

Baca Juga: Ruang Lingkup Dan Teknis-Teknis Fundraising Pengelolaan Zakat