
Belas Kasih Nabi Muhammad ﷺ kepada Orang Nasrani – Pada suatu hari di Madinah, datanglah serombongan orang Nasrani dari Najran. Mereka bukan utusan kerajaan atau pemuka agama, melainkan orang-orang tua, miskin, dan lemah.
Sebagian dari mereka pincang, sebagian lain buta, dan ada yang menggigil karena sakit. Mereka datang dengan pakaian lusuh dan wajah letih, berharap mendapat perlindungan dan sedikit uluran tangan.
Berita kedatangan mereka sampai ke telinga Rasulullah ﷺ. Beliau, Sang Nabi yang dikenal dengan hati selembut embun pagi, segera menyambut mereka bukan sebagai lawan, bukan sebagai “yang berbeda keyakinan”, melainkan sebagai tamu yang dimuliakan.
Mereka dipersilakan tinggal di Masjid Nabawi. Bahkan ketika mereka ingin beribadah dengan cara mereka sendiri di dalam masjid, Rasulullah ﷺ membiarkannya, tanpa satu pun kata cela. “Itulah cara mereka beribadah,” sabda beliau kepada para sahabat yang sempat merasa bingung.
Itulah bukti kasih sayang yang melampaui batas formalitas keimanan—beliau melihat manusia, sebelum melihat label.
Beberapa dari tamu itu mengeluh tentang lapar. Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan agar mereka diberi makanan terbaik dari apa yang tersedia di rumah beliau dan rumah para sahabat. “Mereka adalah tamu Allah dan tamuku,” sabda beliau.
Kedatangan Pengemis
Tidak ada satupun dari mereka yang ditanya tentang agama, tidak pula dituntut masuk Islam, tidak juga diminta membayar apapun. Kasih sayang beliau tak bersyarat.
Baca Juga:

Budaya Turki Yang Menjaga Martabat Orang Lapar https://sabilulhuda.org/budaya-turki-yang-menjaga-martabat-orang-lapar/
Suatu hari, seorang sahabat melihat seorang Nasrani tua yang buta sedang mengemis di jalan Madinah. Sahabat itu merasa iba, lalu melaporkan kepada Rasulullah ﷺ. Maka Rasul pun bertanya, “Apakah dia mengemis karena lapar atau karena jiwanya lemah?”
“Karena lapar, ya Rasulullah,” jawab sahabat itu.
Mendengar itu, wajah Nabi berubah lembut. “Kita telah lalai padanya. Dahulu ia membayar jizyah (pajak perlindungan) ketika masih kuat. Maka kini saat dia lemah dan tak mampu, biayai hidupnya dari baitul mal (kas negara). Jangan biarkan dia meminta-minta.”
Dan sejak saat itu, si tua Nasrani itu dinafkahi oleh negara Islam—bukan karena ia Muslim, tapi karena ia manusia yang mulia di mata Allah.
Ada pula kisah ketika Rasulullah ﷺ mengutus surat kepada para uskup dan biarawan Nasrani di seberang jazirah. Dalam suratnya, beliau menyatakan:
“Bagi mereka yang beragama Nasrani, baik yang dekat maupun jauh, mereka adalah dalam jaminanku. Tidak akan diganggu para imamnya, tidak dihancurkan gereja-gerejanya, tidak disita hartanya, dan tidak dipaksa meninggalkan agamanya. Siapa yang melanggar ini, ia telah mengkhianati perjanjian Allah dan Rasul-Nya.”
قصة الشيخ النصراني في المدينة:
في يومٍ من الأيام، رأى أحد الصحابة شيخًا نصرانيًا أعمى يتسوّل في طريق المدينة. فأشفق عليه وأخبر رسول الله ﷺ.
فقال النبي ﷺ:
«أَمِنَ الْجُوعِ يَسْأَلُ، أَمْ مِنْ ضَعْفِ نَفْسِهِ؟»
قال الصحابي: «مِنَ الْجُوعِ، يَا رَسُولَ اللَّهِ.»
فَتَغَيَّرَ وَجْهُ النَّبِيِّ ﷺ رِقَّةً وَرَحْمَةً، وَقَالَ:
«قَدْ غَفَلْنَا عَنْهُ، كَانَ يَدْفَعُ الْجِزْيَةَ وَهُوَ قَادِرٌ، فَإِذَا ضَعُفَ وَعَجَزَ، فَعَلَيْنَا أَنْ نُنْفِقَ عَلَيْهِ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ. لَا تَدَعُوهُ يَسْأَلُ النَّاسَ.»
ومنذ ذلك اليوم، صار هذا الشيخ النصراني يُنفَقُ عليه من بيت مال المسلمين، لا لأنه مسلم، ولكن لأنه إنسان كريم عند الله.
Kisah Nasrani Tua di Madinah:
Suatu hari, seorang sahabat melihat seorang Nasrani tua yang buta sedang mengemis di jalan Madinah. Ia merasa iba, lalu melaporkannya kepada Rasulullah ﷺ.
Rasulullah bertanya:
“Apakah dia mengemis karena lapar, atau karena jiwanya lemah?”
Sahabat menjawab, “Karena lapar, wahai Rasulullah.”
Mendengar itu, wajah Nabi ﷺ berubah lembut penuh kasih, lalu beliau bersabda:
“Kita telah lalai padanya. Dahulu ia membayar jizyah (pajak perlindungan) ketika masih kuat. Maka kini, ketika ia lemah dan tak mampu, biayai hidupnya dari baitul mal. Jangan biarkan dia meminta-minta.”
Sejak saat itu, lelaki tua Nasrani itu dinafkahi oleh negara Islam. Bukan karena ia Muslim, tetapi karena ia manusia yang mulia di sisi Allah.
نص كتاب النبي ﷺ إلى النصارى:
وَكَتَبَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِلَى الْقِسِّيسِينَ وَالرُّهْبَانِ النَّصَارَى فِي الْجَزِيرَةِ:
«لِلنَّصَارَى، قَرِيبِهِمْ وَبَعِيدِهِمْ، أَنْتُمْ فِي ذِمَّتِي،
لَا يُؤْذَى قِسِّيسُهُمْ، وَلَا تُهْدَمُ كَنَائِسُهُمْ، وَلَا تُغْصَبُ أَمْوَالُهُمْ، وَلَا يُكْرَهُونَ عَلَى دِينِهِمْ،
فَمَنْ نَكَثَ ذَلِكَ، فَقَدْ نَكَثَ عَهْدَ اللهِ وَرَسُولِهِ.»
Surat Nabi ﷺ kepada kaum Nasrani:
Rasulullah ﷺ juga pernah mengirim surat kepada para uskup dan biarawan Nasrani di seberang jazirah, yang berisi:
“Untuk kaum Nasrani, baik yang dekat maupun yang jauh, kalian berada dalam jaminanku.
Para pendeta kalian tidak akan diganggu, gereja-gereja kalian tidak akan di hancurkan, harta kalian tidak akan dirampas, dan kalian tidak akan dipaksa meninggalkan agama kalian.
Siapa yang melanggar hal ini, sungguh dia telah mengkhianati perjanjian Allah dan Rasul-Nya.”
Betapa agungnya hati Rasulullah ﷺ. Beliau tidak hanya mengajarkan kasih, tapi menjadi kasih itu sendiri. Bagi beliau, setiap manusia adalah ciptaan Allah, berhak atas belas kasih, perlindungan, dan penghormatan, tak peduli agama atau statusnya.
Banyak dari orang-orang Nasrani itu akhirnya masuk Islam, bukan karena di paksa, tapi karena mereka tersentuh oleh kasih sayang yang tidak mereka temukan di tempat lain. Mereka melihat, bahwa Islam sejati bukan hanya soal hukum, tapi juga pelukan cinta dan keadilan.
Inilah Rasulullah ﷺ, yang hatinya adalah samudra kasih. Yang memeluk yang lemah, mengangkat yang hina, dan mencintai bahkan mereka yang tak menyebut nama Allah dengan cara yang sama.
Baca Juga: Upacara Sedekah Laut, Wujud Syukur Nelayan Gesing
Sebuah teladan abadi, bagi dunia yang haus akan kasih dan penghormatan pada perbedaan.
Oleh: KI Pekathik













