Bahasa Kasih Anak Di Pesantren: Tips Efektif Bagi Orang Tua

Seorang ibu Muslim Indonesia tersenyum hangat sambil menyentuh bahu putranya yang mengenakan baju koko putih dan peci hitam di lingkungan pesantren.
Momen hangat seorang ibu dan anaknya di pesantren, menunjukkan kasih sayang orang tua meskipun terhalang jarak.

Bahasa Kasih Anak Di Pesantren: Tips Efektif Bagi Orang Tua – Mengasuh anak yang sedang menempuh pendidikan di pesantren tentunya menghadirkan sebuah tantangan tersendiri. Terutama ketika kita berbicara tentang bahasa kasih anak yaitu bagaimana caranya supaya anak tersebut merasa di cintai dan diperhatikan oleh orang tuanya.

Bagi sebagian anak, masuk pesantren itu berarti harus beradaptasi dengan aturan yang baru, jauh dari keluarga, serta belajar untuk hidup mandiri. Namun, kebutuhan emosional anak tetap harus terpenuhi agar tumbuh kembangnya dapat berjalan dengan sehat.

Seorang ibu Muslim Indonesia tersenyum hangat sambil menyentuh bahu putranya yang mengenakan baju koko putih dan peci hitam di lingkungan pesantren.
Momen hangat seorang ibu dan anaknya di pesantren, menunjukkan kasih sayang orang tua meskipun terhalang jarak.

Mengenal Bahasa Kasih Anak

Setiap anak tentunya memiliki cara yang berbeda dalam merasakan kasih sayang orang tuanya. Ada yang lebih senang jika anak tersebut sering dipeluk. 

Ada yang bahagia ketika ia dipuji, ada pula anak yang merasa dicintai ketika ia diberikan waktu khusus atau sebuah hadiah. Inilah yang kita kenal dengan istilah bahasa kasih anak.

Ketika anak tersebut masih berada di rumah, maka orang tua akan lebih mudah dalam mengekspresikan kasih sayang ini.

Namun, bagaimana jika anak itu sudah masuk pesantren? Apakah bahasa kasih tersebut masih bisa tetap terjalin dengan baik? Jawabannya: bisa, asal orang tua tahu strategi yang tepat.

Menjalin Bonding Dari Jarak Jauh

Bonding atau ikatan emosional itu tetap bisa terjaga meskipun jarak yang memisahkan. Caranya tentu sangat berbeda dengan ketika anak itu masih tinggal di rumah. Berikut beberapa strategi yang bisa orang tua lakukan:

Baca Juga:

Seorang ibu muslimah berjilbab menenangkan anak laki-lakinya yang terlihat cemas di depan gerbang sekolah TK/PAUD.

Cara Mengatasi Anak Yang Tidak Mau Sekolah Dengan Bijak https://sabilulhuda.org/cara-mengatasi-anak-yang-tidak-mau-sekolah-dengan-bijak/

1. Bahasa Kasih Sentuhan Fisik

Anak yang terbiasa di peluk atau dielus kepalanya mungkin akan merasa kehilangan saat jauh dari orang tua. Solusinya, manfaatkan momen ketika orang tua saat mengunjungi anaknya di pesantren atau saat liburan di rumah untuk memberikan pelukan hangat dan usapan dengan penuh kasih sayang.

Jika dari pesantren itu memperbolehkan untuk berkomunikasi lewat chat, orang tua bisa menggunakan emoji pelukan atau cium sebagai penggantinya. Memang tidak sama, tetapi tetap bisa menghadirkan rasa kedekatan.

2. Bahasa Kasih Pujian

Jika anak itu lebih suka ketika ia dipuji, maka orang tua bisa memanfaatkan momen ketika telepon atau video call untuk memberikan apresiasi. Ucapan yang sederhana seperti “Masya Allah, hebat sekali nak” atau “Bunda bangga dengan kamu”.  Kalimat seperti itu bisa menambah semangat belajar bagi anaknya di pesantren.

3. Bahasa Kasih Waktu Yang Berkualitas

Saat orang tua berkunjung ke pesantren, usahakan ada waktu berdua dengan anaknya tanpa ada gangguan dari orang lain. Lima belas menit yang berkualitas itu bisa jauh lebih berharga daripada berjam-jam tapi penuh dengan distraksi.

Dengan cara orang tua mendengarkan ceritanya, kemudian tanyakan kabarnya, maka anak tersebut akan merasa bahwa dia di hargai.

4. Bahasa Kasih Hadiah

Jika di pesantren memperbolehkan, orang tua bisa mengirimkan hadiah kecil. Tidak perlu yang mahal mahal. Hadiah itu bisa berupa buku, makanan kesukaan, atau perlengkapan yang anak tersebut butuhkan. Hal ini dapat membuat anaknya merasa  bahwa ia dipikirkan meskipun jauh dari kedua orang tuanya.

5. Bahasa Kasih Layanan

Ada anak yang bahagia ketika kebutuhan kecilnya itu mereka penuhi. Misalnya, ada orang tua sedang menyiapkan perlengkapan sebelum anak kembali ke pesantren. Walaupun ini hanya terlihat sederhana, tetapi dengan perhatian semacam ini bisa memperkuat rasa aman pada anak tersebut.

6. Menyikapi Anak yang Enggan Kembali ke Pesantren

Kadang, anak juga memberi banyak alasan agar tidak kembali ke pondok. Hal ini tidak boleh orang tua menganggap sepele. Bisa jadi anak tersebut mengalami kesulitan, tekanan, atau bahkan perundungan dari teman atau kakak kelas.

Maka orang tua perlu mendengarkan dengan hati-hati dan, bila perlu, meminta bantuan psikolog agar anak bisa terbuka.

Yang terpenting, jangan langsung menyalahkan anak. Tunjukkan bahwa orang tua siap mendengarkan dan melindungi. Dengan begitu, anak akan merasa aman untuk bercerita.

Baca Juga: PRINSIP DALAM MENDIDIK ANAK