
Bagian 2: Perjalanan Hati dalam Mencari Kebenaran – Menolak Kebenaran dan Suka Menyakiti Manifestasi Penyakit Hati
Penyakit hati memiliki berbagai manifestasi yang membahayakan diri dan masyarakat. Di antaranya adalah menolak kebenaran dan suka menyakiti orang lain.
QS. Al-Ahzab : 12 menyoroti penolakan kebenaran:
“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya berpenyakit berkata, “Yang dijanjikan Allah dan rasulNya kepada kami hanya tipu daya belaka.”
Ayat ini menggambarkan orang-orang munafik dan mereka yang hatinya sakit. Mereka tidak hanya ragu, tetapi secara aktif mendustakan janji-janji Allah dan Rasul-Nya. Ketika dihadapkan pada ujian atau kesulitan, keimanan mereka goyah dan mereka menafsirkan segala sesuatu sebagai tipu daya.
Ini menunjukkan betapa parahnya penyakit hati yang membuat seseorang menolak kebenaran bahkan ketika bukti-bukti telah jelas di hadapannya.
Manifestasi lain dari penyakit hati adalah suka menyakiti orang lain, seperti yang di sebutkan dalam QS. Al-Ahzab : 60:
Baca Juga:

Bagian 1: Perjalanan Hati dalam Mencari Kebenaran https://sabilulhuda.org/bagian-1-perjalanan-hati-dalam-mencari-kebenaran/
“Sungguh, jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya, dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan engkau (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak lagi menjadi tetanggamu (di Madinah), kecuali sebentar.”
Ayat ini berbicara tentang ancaman bagi mereka yang terus-menerus menyakiti Nabi Muhammad ﷺ dan kaum muslimin dengan perbuatan, ucapan, atau penyebaran kabar bohong. Suka menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun verbal, adalah indikator hati yang kotor dan tidak sehat.
Orang-orang yang hatinya berpenyakit seringkali merasa iri, dengki, dan benci, sehingga mereka cenderung menyebarkan fitnah dan melakukan perbuatan yang merugikan orang lain. Ayat ini menunjukkan keseriusan dosa ini dan konsekuensi beratnya di sisi Allah.
Kelalaian Akibat Tidak Menggunakan Hati
Allah menciptakan manusia dengan potensi yang luar biasa: hati, mata, dan telinga. Namun, jika potensi-potensi ini tidak di gunakan untuk memahami dan merenungi ayat-ayat Allah, maka ia akan terjerumus dalam kelalaian. QS. Al-A’raf : 179 menggambarkan hal ini dengan tajam:
“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak mempergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). Dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah).
Dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak di pergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.”
Ayat ini adalah peringatan keras bagi mereka yang lalai. Kelalaian di sini bukan hanya ketidaktahuan, tetapi ketidakmauan untuk menggunakan akal, hati, pendengaran. Dan penglihatan untuk merenungi tanda-tanda kebesaran Allah.
Hati yang tidak di gunakan untuk memahami wahyu dan hikmah, mata yang tidak di gunakan untuk melihat keajaiban ciptaan, dan telinga yang tidak di gunakan untuk mendengarkan kebenaran, akan menjadikan manusia seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi.
Hewan ternak hidup berdasarkan insting, tanpa akal dan hati nurani. Manusia, dengan segala potensinya, jika memilih untuk tidak menggunakannya demi mencari kebenaran, maka ia telah merendahkan dirinya sendiri.
Mereka adalah orang-orang yang lengah, yang melewatkan kesempatan hidup di dunia untuk mempersiapkan bekal akhirat.
Celakanya Orang Yang Keras Hatinya
Puncak dari kegelapan hati adalah ketika ia menjadi keras dan membatu, tidak lagi peka terhadap cahaya keimanan. Allah berfirman dalam QS. Az-Zumar : 22:
“Maka apakah orang-orang yang di bukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu) ? Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.”
Ayat ini membandingkan dua jenis hati: hati yang di bukakan oleh Allah untuk menerima Islam dan mendapatkan cahaya petunjuk, dengan hati yang membatu untuk mengingat Allah. Jelas, keduanya tidak sama.
Hati yang terbuka adalah hati yang lapang, yang siap menerima kebenaran, yang di sinari oleh cahaya Ilahi. Hati semacam ini merasakan manisnya iman dan ketenangan dalam berzikir.
Sebaliknya, hati yang keras (qaswatul qulub) adalah hati yang tertutup rapat dari petunjuk. Ia tidak tergerak oleh peringatan, tidak terpengaruh oleh kebenasan, dan tidak merasakan kenikmatan dalam beribadah.
Kekerasan hati ini adalah akibat dari dosa-dosa yang menumpuk, yang membentuk selaput tebal hingga cahaya kebenaran sulit menembusnya. Mereka yang hatinya membatu berada dalam kesesatan yang nyata, jauh dari petunjuk Allah.
Ini adalah kondisi yang sangat berbahaya, karena hati adalah kunci menuju keselamatan dan kebahagiaan abadi.
Kesimpulan: Peran Sentral Jiwa dan Hati
Dari uraian ayat-ayat Al-Qur’an di atas, jelaslah bahwa jiwa dan hati memiliki peran sentral dalam kehidupan seorang mukmin. Kesaksian primordial jiwa terhadap ke-Esaan Allah adalah pondasi iman kita.
Perjalanan jiwa dari penyesalan menuju ketenangan adalah proses penyucian yang tak terhindarkan. Keberuntungan abadi bergantung pada seberapa baik kita menyucikan jiwa kita dari noda-noda dosa.
Allah Maha Mengetahui setiap gerak-gerik hati, dan setiap hati akan di mintai pertanggungjawaban. Penyakit hati seperti dusta, penolakan kebenaran, dan suka menyakiti orang lain adalah penghalang utama menuju keridaan Ilahi.
Dan pada akhirnya, kelalaian dalam menggunakan hati dan kekerasan hati adalah tanda kesesatan yang nyata.
Oleh karena itu, setiap mukmin wajib untuk senantiasa menjaga hati dan jiwanya. Dengan membersihkan hati dari penyakit, mengisinya dengan ilmu, zikir, dan ketakwaan, serta menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah.
kita berharap dapat memenuhi janji primordial kita dan kembali kepada Sang Pencipta dalam keadaan ridha dan di ridhai, Insya Allah.
Semoga artikel ini memberikan pemahaman yang mendalam tentang pentingnya jiwa dan hati dalam Islam. Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita untuk selalu berada di jalan-Nya.
Baca Juga: Renungan Pagi Penyuluh Kristen “Hidup Harus Punya Pengharapan”
Doa Penutup
Marilah kita tutup dengan doa, memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar senantiasa membersihkan hati dan jiwa kita, serta menguatkan iman kita:
اللّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَطَاعَتِكَ. اَللَّهُمَّ نَقِّ قَلْبِي مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْنَا لِهُدَاكَ، وَاجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا، وَفِي بَصَرِي نُورًا، وَفِي سَمْعِي نُورًا، وَعَلَى لِسَانِي نُورًا، وَاجْعَلْنِي رَاضِيًا مَرْضِيًّا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Artinya:
“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu. Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari kesalahan-kesalahan sebagaimana baju putih di bersihkan dari kotoran.
Ya Allah, bimbinglah kami kepada petunjuk-Mu, dan jadikanlah dalam hatiku cahaya, dalam penglihatanku cahaya, dalam pendengaranku cahaya, dan pada lisanku cahaya, dan jadikanlah aku sebagai hamba yang ridha dan diridhai.
Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kami Muhammad, serta kepada keluarga dan para sahabatnya.”
Oleh: Ki Pekathik













