Awal Hariku Masuk Pondok

Setelah pengumuman hasil kelulusan SD, aku telah memutuskan untuk meneruskan sekolah sambil mondok seperti kakak-kakakku. Nama pondok itu adalah PP/PA Sabillul Huda yang letaknya di jalan Kaliurang km 17,5 tepat di desa Sukunan Pakembinangun Pakem Sleman Yogyakarta. Disana, kami tidak dipungut biaya sepeserpun untuk kebutuhan sekolah dan lainnya. Kakakku ada dua yang telah mondok sambil bersekolah di Sabilul Huda, yaitu kakak pertama dan ketiga. Aku sendiri anak keempat, kakak pertamaku sudah menyelesaikan pendidikan sekolah dan pondoknya. Tapi masih ada kakak ketiga ku di sana, sehingga ketika aku masuk pondok, aku tidak perlu khawatir dan takut karena sendirian.

Menjelang keberangkatan ku ke pondok, teman-teman sepermainan dan beberapa teman sekolah, datang ke rumahku untuk melepas kepergian ku. Diantara mereka ada yang memberikan padaku kenang-kenangan berupa buku diary, alat tulis, bahkan ada juga yang memberikan ku makanan. Lain halnya dengan para tetangga dan saudara ku, mereka memberiku uang juga nasehat agar aku betah di pondok. Aku pun hanya bisa mengucapkan terimakasih dan selamat tinggal pada mereka.

Aku berangkat ke pondok diantar oleh bapak dengan mengendarai sepeda motor. Kami berangkat setelah sholat asar. Selama perjalanan menuju pondok, aku lebih banyak diam sambil memikirkan bagaimana nantinya sikap yang harus aku lakukan saat memperkenalkan diri. Karena aku itu, tidak bisa berbasa-basi dalam perkenalan dengan orang baru. Sebelum sampai ke pondok, yaitu disetengah perjalanan kami terlebih dahulu mampir ke tempat kakak pertamaku yang sudah bekerja untuk mengambil selimut. Barang bawaan ku memang tidak terlalu banyak. Hanya satu tas berisi pakaian dan satu kardus lagi berisi makanan. Jadi tidak terlalu berat jika harus bertambah satu lagi barang bawaan.

Kami tidak berlama-lama di tempat kakak ku, karena takut kesorean sampai di pondok. Kami pun melanjutkan perjalanan. Setengah jam kemudian kami telah sampai di pondok. Terlihat kakak ketiga ku menanti di depan pintu pondok. Turun dari sepeda motor, kakak ku langsung mengajak aku dan bapak masuk kedalam ruang tamu pondok untuk menemui pengasuh pondok. Sembari menunggu pengasuh datang, kakakku bercerita banyak pada bapak. Sedangkan aku hanya diam menunggu memperhatikan keadaan disana.

Lucu sekali, di ruang tamu pondok itu, ada sebuah televisi yang dipasang tinggi menempel disudut dinding ruangan tersebut. Dan dibawahnya, anak-anak kecil hingga besar duduk bergerombol memperhatikan tayangan televisi diatas mereka. Yang membuat lucu adalah ekspresi mereka. Ada yang berekspresi melongo, tertawa, biasa aja dan ada juga yang memegangi leher mereka (mungkin pegel karena lihat kearah atas terus).

Saking asyiknya memperhatikan mereka, aku tidak menyadari jika ada seorang ibu cantik di depanku. Sepertinya itu yang dimaksud ibu pengasuh pondok oleh kakakku tadi. Beliau sedang berbicara pada bapak menjelaskan bahwa pondok yang akan membayari semua biaya pendidikan hingga lulus  SMA. Namun, pondok meminta waktu satu tahun tambahan bagi santri yang telah lulus nantinya untuk mengabdi pada pondok sebelum keluar sepenuhnya dari Sabilul Huda.

Tak lama kemudian, bapak pun pamit pulang dan menitipkanku pada ibu pengasuh pondok. Tak lupa juga, bapak memberi nasehat padaku dan kakak ku agar saling menyayangi dan membantu satu sama lain. Setelah bapak benar-benar pergi, aku diajak kakakku menuju kamar yang akan aku tempati. Deg-degan rasanya, ketika aku memasuki kamar. Dan pemandangan kamar yang kulihat pertamakali adalah para penghuninya sibuk sendiri-sendiri. Haduh jadi lupa semua kata-kata yang sudah ku persiapkan selama diperjalanan tadi. Untungnya ada kakak ku yang sudah bersedia mengenalkan diriku. Aku hanya tinggal menyebut nama dan menjabat tangan mereka.

Setelah selesai berkenalan dengan penghuni yang akan menjadi teman sekamarku, kakakku mengajak  ke kamar lainnya dan berkenalan lagi pada penghuni kamar tersebut. Kalau tidak salah, ada sekitar 30 santri perempuan yang ada di pondok sabilul huda. Dari perkenalan ku hari itu, aku sudah merasa seperti di rumah sendiri. Sebab mereka dengan senang hati menerima kehadiran ku dengan senyum dan pelukan. Hingga saat ini terbukti sudah aku bisa bertahan dan merasa bahwa pondok ini adalah rumah kedua ku.***

(Anonim)