Sabilulhuda, Yogyakarta – Pergaulan anak sekarang ternyata berubah jauh lebih cepat bila kita bandingkan dengan satu atau dua generasi sebelumnya. Sehingga banyak orang tua yang merasa kaget, bahkan tidak percaya, ketika melihat realita yang terjadi di sekitar mereka.
Anak-anak yang masih duduk di bangku SMP dan SMA sudah berhadapan dengan masalah berat. Seperti kehamilan di luar nikah, kecanduan gawai, pornografi, hingga krisis identitas.
Fenomena ini bukan hanya sebuah cerita viral yang ada di media sosial. Tapi hal ini sangat nyata dan terjadi di sekitar kita.
Pergaulan Anak Sekarang Bukan hanya Nakal Biasa
Dulu, kenakalan anak itu identik dengan bolos sekolah atau pulang terlambat. Tapi sekarang, spektrumnya jauh lebih luas dan berbahaya. Pergaulan anak sekarang telah masuk ke wilayah yang menyentuh mental, emosi, dan masa depan mereka sendiri.
Dilansir dari laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kasus kehamilan di luar nikah dan dispensasi pernikahan dini terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini. Bahkan, di beberapa daerah, terdapat ratusan anak usia sekolah yang terpaksa menikah karena sudah hamil terlebih dahulu.
Ini bukan lagi masalah individu. Tapi ini masalah sistem pengasuhan.
Baca Juga:
Bahaya Pergaulan Bebas yang Sering Orang Tua Remehkan
Salah satu kesalahan terbesar orang tua adalah menganggap bahwa semua ini sebagai fase. Padahal, bahaya dari pergaulan bebas tersebut tidak berhenti pada satu kejadian saja. Dampaknya bisa berlapis seperti:
- Putus sekolah
- Trauma secara psikologis
- Rasa bersalah yang berkepanjangan
- Hubungan keluarga yang rusak
- Masa depan yang juga bisa terhambat
Anak-anak ini sering kali tidak siap secara mental maupun emosional. Mereka belum matang, tetapi sudah dipaksa menghadapi konsekuensi seperti orang dewasa. Masalahnya, banyak orang tua yang baru tersadar ketika semuanya sudah terlambat.
Anak Kehilangan Rasa Aman Menjadi Akar Masalah Yang Utama
Menurut Bunda Risman, seorang praktisi parenting dan pendidikan keluarga, masalah utama anak hari ini bukan hanya dari gadget atau lingkungan, melainkan juga dari krisis attachment (kelekatan secara emosional).
Attachment adalah ikatan secara emosional antara anak dan orang tua yang terbentuk kuat pada usia 0–5 tahun. Ketika fase ini terlewat tanpa kelekatan yang cukup, maka anak dapat tumbuh dengan lapar jiwa.
Anak yang lapar jiwa akan mencari penggantinya:
- Dari teman sebaya
- Dari pasangan
- Dari media sosial
- Dari konten digital
Di sinilah pengaruh gadget pada anak menjadi sangat besar.
Gadget Bukan Penyebab Utama, Tapi Bisa Jadi Pelarian
Banyak orang tua sekarang ini yang menyalahkan handphone. Padahal, gadget hanya menjadi tempat berpindahnya rasa kelekatan anak tersebut.
Anak yang tidak cukup mendapatkan kehadiran secara emosional dari orang tuanya, maka mereka akan melekat pada layar. Ketika gadget itu diambil secara paksa, yang sebenarnya dirampas bukan hanya bendanya saja, tapi rasa aman dari anaknya juga.
Tak heran jika anak gampang marah, tantrum, bahkan kabur dari rumah. Hal yang seperti ini bukan soal bandel. Tapi ini soal kehilangan figur terutama dari orang tuanya sendiri.
Peran Ayah yang Sering Terlupakan
Dalam banyak keluarga, pengasuhan sering kali masih dibebankan hampir sepenuhnya kepada ibu. Ayah hanya merasa cukup dengan bekerja dan mencari nafkah saja.
Padahal, menurut banyak riset psikologi keluarga, ayah juga memiliki peran kunci dalam pembentukan kepercayaan diri, kontrol emosi, dan batasan moral anak, terutama saat memasuki usia remaja.
Ketidakhadiran ayah ini baik secara fisik maupun emosional, dapat membuat anak itu rentan mencari figur pengganti di luar rumah. Inilah yang sering luput dalam pembahasan parenting anak remaja.
Baca Juga:
Mengapa Anak Remaja Mudah Terjebak Pergaulan yang Beresiko?
Masa remaja adalah fase pencarian jati diri. Sehingga anak mulai:
- Tertarik pada lawan jenis
- Menginginkan kebebasan
- Menantang aturan
- Lebih percaya teman dibanding dengan orang tuanya sendiri
Tanpa adanya pondasi emosional yang kuat, anak mudah terombang-ambing oleh lingkungan. Apalagi jika rumah tidak lagi menjadi tempat yang nyaman untuk pulang dan bercerita.
Menurut Seto Mulyadi (Kak Seto), anak yang merasa diterima di rumah, mereka itu cenderung lebih kuat menolak pengaruh negatif dari luar.
Maka solusi pertama Orang Tua Harus Melihat ke Dalam. Solusi ini tidak dimulai dari anak dulu, tapi dari orang tua sendiri.
Langkah pertama yang perlu orang tua lakukan adalah refleksi:
- Apakah kita benar-benar hadir untuk anak?
- Apakah komunikasi di rumah aman dan terbuka?
- Apakah anak merasa didengar, bukan dihakimi?
Doa itu juga penting, tetapi itu tidak cukup tanpa adanya perubahan cara pola asuhnya.
Bangun Kembali Kedekatan Emosional
Beberapa langkah praktis yang bisa mulai orang tua lakukan diantaranya:
- Luangkan waktu yang berkualitas setiap hari, meskipun waktunya singkat
- Kurangi dengan menceramahi anak, tapi perbanyak dialog
- Gunakan kalimat bertanya, bukan menginterogasi
- Ayah dan ibu harus satu suara
- Jadilah rumah yang aman untuk pulang
Kedekatan secara emosional ini adalah benteng terkuat dari pergaulan yang merusak masa depan anak tersebut.
Pergaulan Anak Bisa Diperbaiki, Asal Orang Tua Mau Berubah
Kabar baiknya, kondisi ini masih bisa kita perbaiki. Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Tapi mereka hanya butuh orang tua yang mau hadir, belajar, dan berubah.
Pergaulan anak sekarang memang berbahaya. Tapi dengan pola asuh yang bijaksana, anak bisa tumbuh kuat di tengah arus yang deras.
Hal ini bukan tugas yang sangat mudah. Namun, ini tugas yang mulia.















