Apa Salah Aku Bercadarr?

Asalamuallaikum, nama ku Aisyah. Disini aku ingin bercerita sedikit tentang
Kehidupanku. Aku lahir di Aceh, dalam lingkungan yang bisa di bilang sangat
Baik dalam hal agama. lingkungan ku banyak yang bercadar serta memiliki ilmu agama tinggi. Tapi aku tidak lama tinggal di lingkungan tersebut,
hanya sejak aku lahir hingga aku SD kelas 6. Dan mulai Tk aku sudah di biasakan
Bercadar oleh ibuku, karna ayahku termasuk pemuka agama yang banyak dikenal dikampungku.

Setelah lulus SD, kluargaku pindah di Jakarta. Di sini lingkunganku jauh
Berbeda dengan kampungku yang ada di Aceh, di sini orang bercadar dan orang
Yang mengenal agama sangat jarang. Bahkan, disini aku menemukan banyak sekali wanita
Yang mengumbar aurat nya tanpa malu. Tapi kata Umi ” Biarkan, yang paling penting
Kamu jangan ikut ikutan,dosa!”. Dan aku mengikuti apa yang dikatakan
Oleh Umiku. Di sini keluargaku nampak asing di pandangan mereka yang kurang mengenal
agama Islam. Bahkan Umiku banyak dijauhi oleh ibu ibu di lingkunganku.
Aku bangga memiliki Umi yang hebat dan sabar seperti Umiku. karena setelah Umi memasukkan ku di sekolah umum. Yang aku kira pasti sangat menyenangkan dan bisa menjadi tempatku menghibur Diri dari lingkungan ku yang kurang nyaman seperti dulu, ternyata salah. Di sekolah yang Baru malah membuat ku amat terkekang. Di sini banyak teman teman yang tak bisa menerimaku Hanya karna aku bercadar, dan umi sangat sedih mengetahui hal itu. Aku sempat berfikir kenapa mereka seperti itu?, padahal bukankah ini perintah agama? bukan kah kita memang diwajibkan menutup aurat kita?
Lalu apa yang salah?. Sedangkan mereka yang membuka aurat malah di puji- puji dan
di bangga-bangga kan. Aku pernah cerita hal ini ke umi,tapi kata Umi “sudahlah!jangan dipikirkan
Mereka hanya bercanda, lagian kamu ini anak baik, jaga aklak kamu dan perilaku kamu, jangan sampai
Kamu melepas cadar hanya karna ucapan temanmu itu, Istiqomah! Senyumin aja kalo mereka ngomong yang engga-engga lambat laun mereka juga akan menerima kita kok ”. Dan aku melakukan apa yang di katakan oleh umi ku. aku salut oleh umiku, beliau itu orangnya penyabar, murah senyum, baik, dan penyayang. Aku ingin bisa seperti Umiku yang memiliki semua hal baik itu.
Setelah perbincanganku dengan umi,aku mulai terbiasa dengan apa yang di katakan oleh teman- temanku. Aku percaya semua hal didunia ini hanya tentang waktu dan aku hanya ingin menunggu waktu dimana mereka akan menerima semua kekuranganku,termasuk CADARKU.***

(PUJHI LESTARI)