Anting-Anting untuk Putri Khalifah

Anting-Anting untuk Putri Khalifah
Anting-Anting untuk Putri Khalifah
Anting-Anting untuk Putri Khalifah
Anting-Anting untuk Putri Khalifah

(Kisah menyentuh dari rumah tangga Umar bin Abdul Aziz, Khalifah yang adil)

Anting-Anting untuk Putri Khalifah – Di tengah gurun panas dan langit Damaskus yang luas membiru, berdiri megah istana Khilafah Bani Umayyah. Namun, istana itu tidak dihiasi kilauan emas seperti pada masa khalifah-khalifah sebelumnya. Tak ada tirai sutra, tak ada permadani Persia. Bahkan, makanan para pelayan pun tak berbeda jauh dari makanan pengemis di luar gerbang kota.

Inilah masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang dijuluki pemimpin yang adil dan zuhud, cucu dari Umar bin Khattab dari jalur ibu. Sejak ia diangkat menjadi Khalifah, ia menolak semua kemewahan dan mengganti pakaian sutranya dengan baju kasar dari wol.

Ia mengembalikan tanah-tanah rampasan ke pemiliknya. Ia menolak menerima harta negara sebagai milik pribadi, dan hidup hanya dari gaji resminya yang sangat sedikit.

Namun di balik ketegasan itu, ia adalah seorang ayah yang sangat menyayangi keluarganya.

Pada suatu malam yang sejuk, di antara deru angin gurun yang mengusap jendela, istri Umar, Fatimah binti Abdul Malik, duduk memintal benang. Ia dulunya adalah wanita yang hidup bergelimang kemewahan, putri khalifah dan saudari para amir.

Baca Juga:

Umar bin Abdul Aziz: Lentera Keadilan dari Madinah

Umar bin Abdul Aziz: Lentera Keadilan dari Madinah https://sabilulhuda.org/umar-bin-abdul-aziz-lentera-keadilan-dari-madinah/

Tapi kini, ia memilih hidup sederhana bersama suaminya, dan tak pernah menyesal.

Permintaan Kecil Seorang Putri

Malam itu, putri kecil mereka, Laila, mendekati sang ibu. Umurnya baru delapan tahun, matanya bersinar seperti bintang, dan rambutnya hitam terurai. Dengan suara lirih ia berkata:

“Ibu… semua teman-temanku punya anting-anting. Hanya aku yang tidak. Mereka bertanya padaku, mengapa putri khalifah tidak punya perhiasan apa-apa?”

Fatimah terdiam sejenak. Hatinya tersentuh. Ia tahu Laila bukan anak manja. Ia hampir tak pernah meminta apa-apa. Permintaannya ini pun diucapkan dengan sopan dan penuh harap, bukan dengan tangisan atau rengekan.

Fatimah membelai rambut putrinya dan menjawab lembut, “Sayangku, nanti Ibu bicarakan pada Ayah, ya.”

Malam itu, setelah Laila tidur, Fatimah duduk di dekat suaminya yang sedang menulis surat untuk gubernur daerah. Ia menunggu sampai suaminya berhenti menulis, lalu dengan suara pelan berkata:

“Amirul Mukminin… anak kita, Laila, minta anting-anting. Ia merasa sedih karena teman-temannya punya, sedang dia tidak.”

Jawaban Sang Khalifah

Umar bin Abdul Aziz meletakkan pena bulunya. Ia mengangkat wajah dan menatap istrinya dengan mata jernih. Wajahnya tak marah, tapi tampak berat menanggung perasaan.

“Wahai Fatimah,” katanya lembut, “apakah kamu masih menyimpan uang dari hartamu yang dulu? Dari pemberian ayahmu?”

Fatimah mengangguk pelan. Ia masih menyimpan satu kotak kecil berisi beberapa dirham emas yang belum ia serahkan ke Baitul Mal, sesuai kesepakatan saat suaminya diangkat menjadi khalifah.

“Ambillah dari situ, dan belikanlah anting-anting untuk Laila. Tapi ingat,” ujar Umar sambil menunduk dalam-dalam, “jangan sekali-kali mengambil dari harta kaum muslimin untuk sesuatu yang bukan hak kita.”

Fatimah mengangguk. Tapi malam itu, ia tidak jadi mengambil uang dari kotaknya. Ia memandang suaminya lama sekali, lalu berkata:

“Demi Allah, kalau engkau tak tega memakai harta negara untuk membeli anting bagi anakmu sendiri, maka aku pun takkan tega menggunakan hartaku untuk kesenangan pribadi saat rakyat kita masih banyak yang belum makan.”

Ia memeluk suaminya. Air mata jatuh dari matanya yang lembut. Sejak malam itu, Laila pun tidak lagi meminta anting-anting.

Anting dari Yaman, dan Surat Penolakan

Hari berganti hari. Suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz menerima hadiah dari seorang gubernur: sepasang anting-anting indah dari Yaman, terbuat dari emas yang di bentuk seperti bulan sabit dan di hiasi permata kecil. Surat itu menyebut bahwa anting itu “sebagai hadiah untuk putri Amirul Mukminin.”

Pelayan istana menyampaikannya kepada Umar. Ia membuka bungkusan itu, memandangi anting-anting itu sesaat, lalu menulis surat balasan:

“Dari Umar bin Abdul Aziz kepada gubernur Yaman:

Aku tidak menerima hadiah sebagai khalifah. Bila kau ingin memberikannya kepada anakku sebagai bentuk kasih sayang, maka kau harus memberikan yang sama kepada setiap anak muslim lainnya.

Bila tidak, maka aku kembalikan hadiah ini kepadamu, dan biarlah anting-anting itu di pakai oleh putrimu sendiri. Wassalam.”

Dan anting-anting itu dikirim kembali.

Fatimah pernah berkata kepada kerabatnya, “Seandainya aku ingin, aku bisa menjadi wanita paling kaya dan paling mewah di seluruh Hijaz. Tapi aku memilih jalan ini karena aku tahu, aku hidup bersama lelaki yang hatinya hanya untuk Allah dan keadilan.”

Kebanggaan Sejati Seorang Anak

Suatu hari, saat Fatimah berjalan bersama Laila di pasar, seorang wanita tua bertanya dengan heran, “Benarkah engkau putri khalifah?”

Laila mengangguk.

Wanita itu melihat pakaian sederhana yang di kenakan Laila. Sandalnya usang, bajunya telah beberapa kali di tambal.

“Putri khalifah, tetapi berpakaian seperti ini?” tanyanya.

Laila menjawab polos namun dalam:

“Ayahku lebih takut pada Allah daripada pada cermin dan harta. Ia ingin aku belajar menjadi adil sejak kecil, bukan hanya jadi cantik di depan orang.”

Wanita itu tertegun, lalu memeluk Laila dan menangis.

Beberapa tahun kemudian, setelah Umar bin Abdul Aziz wafat dalam usia muda karena diracun musuh politiknya, rakyat menangis. Banyak yang menyesali kepergiannya. Bahkan hewan-hewan dan burung-burung pun seolah berduka. Ada yang berkata, “Kami belum pernah melihat pemimpin yang membuat serigala tak berani menyerang kambing karena takut pada keadilan Umar bin Abdul Aziz.”

Keluarganya kembali ke rumah biasa. Harta peninggalan Umar? Hampir tidak ada. Ia wafat dengan hanya meninggalkan satu buah pelana unta, sebuah mushaf, dan beberapa dirham saja.

Namun anak-anaknya, termasuk Laila, tumbuh menjadi pribadi yang kuat, sederhana, dan adil. Mereka tak hidup mewah, tapi tak pernah miskin hati. Mereka bangga menjadi anak dari seorang pemimpin yang lebih memilih kehilangan dunia daripada kehilangan amanah Allah.

Penutup:

Kisah ini menjadi teladan hingga hari ini. Tentang seorang putri yang tidak mendapat anting, tetapi mendapat sesuatu yang jauh lebih mahal: pelajaran tentang kejujuran, kesederhanaan, dan keberanian dalam menjaga keadilan.

Dan tentang seorang ayah—seorang khalifah—yang lebih memilih menangis di hadapan Allah daripada membahagiakan anaknya dengan cara yang tak halal.

Di zaman yang di penuhi kemewahan dan citra, kisah ini mengajarkan kita bahwa nilai dan integritas jauh lebih penting daripada penampilan dan benda. Kita tak hanya butuh orang tua yang mampu membelikan anting, tapi juga orang tua yang mampu mengajarkan anaknya apa arti hidup yang benar.

Maka, wahai para orang tua, bila anak kita meminta sesuatu yang tampaknya wajar, mari bertanya pada hati nurani kita:

Baca Juga: Mengenal Masa Kecil Umar bin Abdul Aziz

Apakah ini akan membentuk karakternya, atau justru melemahkan jiwanya?

Karena anting bisa di beli, tapi jiwa yang adil dan kuat hanya bisa di wariskan dari keteladanan hidup.

Oleh: Ki Pekathik