ANTARA BOLEH DAN TIDAK BOLEH…

“buk… Ibu…. “

“Buk…. “ Teriak Zukhruf di ruang tengah yang sedang mencari keberadaan ibunya. “Apa sih kok teriak-teriak.“ Ucap seorang lelaki dari belakang Zukhruf. “Ibu mana bang? “ Tanya Zukhruf kepada abangnya yang bernama Ibnu. “Kurang tahu, tadi sih ibu keluar, katanya mau arisan tapi tidak tahulah abang.“ Ucap bang Ibnu sambil duduk di kursi yang berada di ruang keluarga tersebut. “Oh… Masih lama tidak ya bang?“ Tanya Zukhruf lagi. “Abang tidak tahu dek…“ ucap Ibnu gemas dengan adiknya ini. “Ozh ya sudahlah, aku ke kamar dulu ya bang.“ ucap Zukhruf  diangguki oleh abangnya dan beranjak pergi menuju kamarnya.

      “tok… Tok… Tok….“ suara ketukan pintu dari arah luar kamar Zukhruf, membuatnya buyar dari lamunan  berbagai pikiran-pikiran diotak kecilnya. “sebentar….“ ucap Zukhruf sambil beranjak dari duduknya dan membukakan pintu tersebut. “Eh ibu… Ada apa buk?“ tanya Zukhruf langsung. “Tidak apa-apa, ibu hanya ingin tanya tadi katanya kamu mencari ibu ya?“ tanya sang ibu memastikan. “Iya buk…, “ jawab Zukhruf singkat. “Kenapa? “tanyanya lagi ibu yang penasaran.

“Ada yang ingin Zukhruf bicarakan sama ibu.. Tapi ibu jangan marah ya..” ucap Zukhruf memasang muka melasnya. “Iya… Ada apa?“ tanya sang ibu dengan nada halusnya dan wajah penasaran. “Emmm Kita masuk ke kamar aku dulu yuk buk.“ ajak Zukhruf yang di angguki oleh ibunya.

      Setelah masuk ke kamar, mereka memilih duduk di balkon kamar Zukhruf. “Buk. “ panggil Zukhruf memecahkan keheningan setelah beberapa saat. “Iya ada apa? “ jawab sang ibu dengan lembut nan halus. “Aku boleh minta sesuatu tidak buk..? “tanya Zukhruf kepada sang ibu. “Em.. Adek mau minta apa?, kok sampai takut-takut begitu? “ tanya ibu yang penasaran karena sifat anaknya yang tidak seperti bisanya ini. “Sebenarnya kan buk, aku kan sekarang sudah kelas enam SD, nah aku SMP-nya ingin melanjutkan ke pondok pesantren. Apakah aku boleh buk…?” tanya Zukhruf sambil menunduk takut. “Jangan ya sayang, Kamu di SMP dekat-dekat sini saja, malah sudah ada banyak yang ingin daftar SMP di situ, temanmu juga pada di situ, nggak usah masuk pesantren ya sayang, “ tolak sang ibu dengan nada yang halus.

        “Tapi buk, Aku ingin mondok? “ucap Zukhruf sambil menahan air matanya agar tidak menetes, Zukhruf ingin menangis karna tidak diperbolehkan oleh ibunya untuk melanjutkan sekolahnya di pesantren. “Sayang nurut ya apa kata ibu.“ ucap sang ibu sambil mengelus-elus kepala Zukhruf dengan lembut.

_____________________________________________

         “tapi buk…. Aku Cuma ingin itu diturut in sama ibu… Aku hanya ingin mondok buk, aku tidak mau sekolah di luar buk…. Aku ingin pergaulanku dijaga buk,…. “ucap Zukhruf yang sudah meneteskan air matanya. “ya sudah kamu jangan menangis dulu, coba nanti ibu bicarakan ini kepada ayah ya sayang….. Jangan menangis lagi… “ucap ibunya sambil memeluk anaknya yang sedang menangis, jujur saja ibunya tak tega melihat anaknya menangis.

       Setelah beberapa hari kemudian Zukhruf menanyakan hal itu lagi kepada sang ayah tapi, ayah sama saja menolak untuk menuruti keinginanku. “kenapa semua orang melarangku untuk melanjutkan sekolah di pondok pesantren,padahal aku sudah menginginkannya dari dulu. Tapi ayah dan ibu selalu bilang kamu masih terlalu kecil sayang. Sekarang apa buktinya, aku sudah beranjak dewasa tapi orang tuaku melarang untuk aku melanjutkan sekolah di pondok pesantren. “Ucap Zukhruf yang sudah meneteskan air matanya sejak awal berbicara.

     “sayang… Dengarin dulu alasan kami melarang kamu untuk melanjutkan sekolah di pondok., kami hanya tidak mau kamu jauh dari kami, dan jika kamu sakit siapa yang ingin merawatmu? trus  kalau kamu tidak punya teman dan kamu menangis, siapa yang akan enemanimu.? “ucap ibunya. akan tetapi Zukhruf tetaplah Zukhruf, yang sudah menginginkan apa-apa harus dituruti walau dikabulkannya lama, akan tetapi Zukhruf tetap menunggunya dengan sesabar mungkin. “buk… Di sana kan ada banyak orang jadi mana mungkin aku tidak mempunyai seorang teman buk, dan jika aku sakit kan di sana juga banyak orang yang dapat memberi bantuan buk… “ucap Zukhruf lagi. “sayang dengar in apa kata ibu dan ayah dulu ya, turut in dulu ya.? “ucap ibunya dengan lembut akan tetapi Zukhruf tetap masih memilih jalannya menuju kebaikan.

         Setelah beberapa saat kemudian Zukhruf sudah tidak tahan lagi dan ia meninggalkan kedua orang tuanya dan juga kakaknya yang masih berada di ruang keluarga, menuju ke kamarnya dan mengunci kamarnya agar ia dapat menenangkan dirinya untuk beberapa saat. “Ayah… Ibu… “panggil Ibnu kepada kedua orang tuanya. “Apa sayang…. “ucap sang ibu dengan nada yang amat halus. “kenapa sih kok adik tidak diturut in saja kan kasihan adik, sekarang masalahnya malah jadi begini. Pasti dia tidak mau keluar kamar dan tidak mau makan. “ucap Ibnu panjang lebar.

         “Ibnu… Kamu seharusnya membela kita, kok kamu malah membela adik kamu sih, ini itu untuk kebaikan adik kamu tapi kamu malah tidak mengerti. “ucap ayahnya yang sudah amat pusing memikirkan anaknya. “tapi…. Ayah sama ibu juga harus mengetahui bahwa tiap orang itu memiliki keinginan dan memiliki jalan mereka sendiri untuk sukses. Padahal mondok itu suatu hal yang bagus dan juga baik, salatnya terjaga, ilmu agamanya bagus apalagi sih yang harus ditakutkan, itu hak seorang anak untuk memilih di mana ia akan meneruskan sekolah, dan setiap anak itu memiliki pikirannya sendiri, jadi menurutku Ayah dan Ibu tidak boleh terlalu mengekang keinginan Zukhruf. “ucap Ibnu lalu berjalan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih mencerna perkataan anak lakinya ini.

       Setelah beberapa saat kemudian, apa yang dikatakan ibnu ternyata benar. Adiknya tidak mau membukakan pintu kamar dan keluar. Tapi saat ini ibunya mencoba merayu Zukhruf agar membuka kan pintu kamarnya, dan alhasil sekarang Zukhruf mau keluar kamar karena kata ibunya, sekarang Zukhruf boleh meneruskan sekolahnya ke pondok yang diinginkannya. Dan setelah beberapa bulan kemudian Zukhruf pun sudah memasuki pondok pesantren dan ia sudah memiliki teman yang amat baik kepadanya. Dan sekarang ia menjadi seorang santri yang tauladan kepada sang pengasuh pondok dan yang lain.***

(EVA)