Opini  

Antara Adab Dan Culture Shock! Tradisi Pesantren Yang Viral

Ilustrasi santri menghormati guru di majelis ilmu pesantren, menggambarkan nilai adab dan tradisi keilmuan Islam klasik.
Seorang santri duduk dengan penuh hormat di hadapan gurunya di dalam majelis ilmu, menggambarkan adab dan budaya penghormatan yang menjadi ciri khas pesantren.

Antara Adab Dan Culture Shock! Tradisi Pesantren Yang Viral – Dalam beberapa hari terakhir ini, publik masih ramai membahas dengan viralnya potongan video dari sebuah TV swasta nasional yang menyorot kehidupan di pesantren. Banyak yang kemudian menilai dengan beragam pandangan, ada yang kagum, ada pula yang menganggapnya berlebihan.

Tapi sebelum kita ikut arus opini yang panas di media sosial tersebut, ada baiknya kita menempatkan persoalan ini secara objektif dan juga seimbang.

Ilustrasi santri menghormati guru di majelis ilmu pesantren, menggambarkan nilai adab dan tradisi keilmuan Islam klasik.
Seorang santri duduk dengan penuh hormat di hadapan gurunya di dalam majelis ilmu, menggambarkan adab dan budaya penghormatan yang menjadi ciri khas pesantren.

Memahami Tradisi Dan Adab Di Dunia Pesantren

Di dalam dunia pesantren, adab dan ilmu itu ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa kita pisahkan. Seperti tradisi dalam menghormati guru, menjaga suasana majelis, hingga cara berbicara di hadapan kyai.

Semuanya itu bukan hanya sebatas formalitas, tetapi mejadi bagian dari tarbiyah (pendidikan moral) yang sudah diwariskan turun-temurun oleh para ulama pendahulunya.

Imam Syafi’i, misalnya, beliau pernah menceritakan bagaimana pada waktu itu ketika berada di majelis Imam Malik. Beliau menceritakan bahwa tak ada seorang pun yang berani bersuara keras.

Bahkan untuk membalik halaman kitab pun mereka harus melakukan dengan sangat pelan agar suara buku itu tidak mengganggu kekhusyukan majelis tersebut.

Ketika Tradisi Pesantren Bertemu Dunia Modern

Namun, ketika tradisi yang begitu luhur ini di tampilkan di ruang public yang modern, melalui televisi atau media sosial, maka tak heran jika muncul culture shock. Masyarakat umum yang tidak terbiasa dengan tata krama khas pesantren mungkin mereka menjadi merasa heran, atau bahkan salah paham.

“Kok segitunya?” atau “Kenapa harus begitu?”, pertanyaan ini adalah reaksi yang wajar dari mereka yang melihat dari luar konteks.

Baca Juga:

Ilustrasi kyai menepuk lembut kepala santri di halaman pesantren dengan latar masjid dan nuansa hangat warna kuning keemasan, melambangkan kearifan Islam Nusantara.

Pesantren Dan Kearifan Islam Nusantara Di Tengah Logika Modern https://sabilulhuda.org/pesantren-dan-kearifan-islam-nusantara-di-tengah-logika-modern/

Di sinilah pentingnya ada yang menjembatani pemahaman antara dua dunia yang berbeda. Di dunia pesantren itu memiliki nilai adab dan tata cara yang sudah mengakar ratusan tahun. Nah, sedangkan di dunia modern lebih terbiasa dengan keterbukaan, egalitarianisme, dan ekspresi bebas.

Maka ketika kedua-duanya itu bertemu tanpa adanya penjelasan yang tepat, gesekan tentu sulit kita hindari.

Antara Penghormatan Dan Berlebihan Di Mana Batasnya?

Namun, satu hal yang perlu kita catat bahwa kita dalam menjaga adab itu bukan berarti kita menuhankan manusia. Tradisi menghormati guru seharusnya tetap berada dalam koridor yang sewajarnya saja dan tidak melanggar dari aturan agama.

Saat penghormatan itu berubah menjadi tindakan yang berlebihan. Seperti membagikan sesuatu dengan cara yang tidak pantas atau menampilkan simbol-simbol penghormatan yang secara ekstrem, maka nilai keindahan adab itu justru dapat memudar.

Padahal agama sendiri itu adalah untuk menyempurnakan akhalak bukan malah sebaliknya

Saatnya Semua Pihak Berkaca Dan Berbenah

Kasus viral ini seharusnya menjadi bahan evaluasi kita bersama. Bagi pihak pesantren, pentingnya untuk tetap menjaga tradisi namun juga peka terhadap cara dunia luar itu melihatnya. Sementara bagi masyarakat umum, ada baiknya kita belajar memahami konteks sebelum menilai.

Tidak semua yang tampak aneh di mata kita ini berarti salah, bisa jadi itu adalah bentuk kearifan yang belum kita pahami.

Akhirnya, mari kita belajar bagaimana cara menyeimbangkan antara menjaga adab dan bersikap secara proporsional. Sebab, sebagaimana pepatah lama mengatakan, “Segala sesuatu yang berlebihan tidak pernah membawa kebaikan.”

Baca Juga: Wamenag: Santri Laksana ‘Sayap Burung’, Ilmu dan Akhlak Harus Seimbang