by bambang oeban
ANAKKU PIDJAR BARITO
Anakku,
Pidjar Barito,
namamu mengalir
seperti sungai yang sabar,
tak tergesa menuju laut,
namun tahu arah ... sebab
setiap riak sudah diajari
makna oleh hujan
dan waktu.
Kau lahir dari pagi
yang sederhana, dari rumah
yang atapnya belajar menunduk
pada panas dan angin, dari doa
yang tak pandai berteriak, tapi
setia berdiri di barisan
paling depan.
Cita-Cita yang Sederhana Namun Jauh
Cita-citamu sederhana, katamu.
Aku tersenyum sebab kata sederhana kerap menyimpan peta paling jauh.
“Ingin keliling dunia,” ucapmu lirih,
seolah hanya ingin berjalan ke warung di ujung gang, padahal dunia adalah buku tebal yang halamannya berbahasa ribuan aksen, beraroma bandara, bercahaya lampu kota yang tak pernah tidur.
Aku belajar dari caramu memandang langit. Bukan langit yang menuntut, melainkan langit yang mengundang. Kau menatap pesawat seperti doa yang menemukan sayapnya, bukan untuk melarikan diri dari tanah, melainkan untuk memeluk bumi dari ketinggian, agar paham betapa kecilnya dendam, betapa ringannya iri, betapa perlunya rendah hati.
Pilihan Hidup dan Makna Bekerja
Anakku,
kau tak meminta istana.
Kau tak menawar takdir dengan janji berlebihan.
Kau hanya berkata:
ingin digaji sebuah kata yang jujur, tentang kerja, tentang disiplin, tentang bangun pagi dan pulang malam dengan hati yang masih utuh.
Digaji bukan sekadar angka, melainkan tanda bahwa hidup bisa bertukar adil:
- waktu diberi makna,
- tenaga dihormati,
- mimpi tidak ditertawakan.
Maka kau memilih langit sebagai kantor, dan Cathay Pacific sebagai sandaran hidupmu.
Bukan karena nama besar semata, melainkan karena disiplin yang kau kagumi, karena rute yang memintal benua, karena seragam yang menyimpan etika, dan jadwal yang mengajari tubuhmu berteman dengan jam biologis yang berpindah-pindah. Aku mengerti, Nak.
Baca Juga:
Proses, Disiplin, dan Keberangkatan
Pilihan itu bukan kebetulan. Sejak kecil kau mengoleksi peta, menghafal kode bandara seperti puisi pendek, menghitung jarak dengan mata berbinar. Kau tahu, dunia tak datang pada mereka yang menunggu, dunia mendekat pada mereka yang berangkat.
Hongkong dan Persimpangan Dunia
Hongkong, kota yang kelak kau sebut rumah sementara. Kota yang berdiri di antara bukit dan laut, antara tradisi dan masa depan. Lampunya seperti rasi bintang yang jatuh ke telapak bumi, ramai, cepat, tegas.
Di sana, waktu bukan untuk ditangisi, melainkan untuk dikelola.
Aku membayangkan langkahmu di MTR, ritmemu menyesuaikan arus manusia, wajahmu belajar netral, tidak sombong oleh capaian, tidak ciut oleh tantangan. Kau akan tinggal di ruang yang ringkas, namun jendela hatimu luas. Kau akan belajar bahwa hidup yang tertata tak selalu luas lantainya, tetapi lapang sikapnya.
Nilai Hidup yang Dibawa
Anakku,
kau akan berjumpa bahasa yang tak kau lahirkan, adat yang tak kau susui, rasa yang tak tumbuh di halaman rumah.
Jangan takut.
Kau membawa bekal paling penting: sopan, sabar, dan ingin belajar. Tiga hal itu adalah visa yang jarang ditolak.
Keliling dunia, bukan berarti lupa pulang.
Setiap lepas landas mengajarkan rindu, setiap mendarat mengingatkan asal.
Kau akan tahu, tanah kelahiran adalah suara ibu yang tak pernah memanggil keras namun selalu terdengar.
Pelajaran dari Langit
Di ketinggian sepuluh ribu meter, kau akan menatap awan seperti lembaran kosong. Di sana, kau menulis ulang dirimu: bukan sebagai anak yang ditinggal rumah, melainkan manusia yang memperluas rumahnya.
Negara demi negara akan menambah kosakata hatimu, namun satu bahasa akan kau simpan paling dalam bahasa terima kasih.
Anakku Pidjar Barito,
aku tak meminta kau menjadi hebat. Aku hanya berharap kau menjadi jujur pada pilihanmu, tekun pada pekerjaanmu, dan lembut pada manusia yang kau temui.
Jika suatu hari lelah menumpuk di pundakmu, ingat:
lelah adalah tanda bahwa kau bergerak, bukan tersesat.
Cathay Pacific bukan sekadar maskapai bagimu, ia adalah sekolah tentang ketepatan, tentang keselamatan, tentang tanggung jawab yang tak boleh abai.
- Di sana, kesalahan kecil bisa menjadi pelajaran besar.
- Di sana, kerja tim adalah napas.
- Di sana, profesionalisme bukan jargon, melainkan kebiasaan.
Aku tahu, ada hari ketika jadwal memelintir rencana, ketika cuaca menguji sabar, ketika penumpang membawa cerita masing-masing: yang cemas, yang gembira, yang berduka.
Di hadapan mereka, kau akan belajar menjadi tenang. Tenang bukan berarti dingin, melainkan hadir sepenuhnya.
Hongkong akan mengajarkanmu cara berdiri di persimpangan dunia. Kau akan melihat Timur dan Barat saling menatap, kadang bersitegang, kadang berpelukan dalam transaksi.
Dari sana, kau belajar bahwa kebenaran sering berwajah jamak, dan kebijaksanaan tumbuh dari mendengar.
Baca Juga:
Empati dan Kemanusiaan
Anakku,
keliling dunia bukan soal stempel paspor. Ia adalah latihan empati.
Ketika kau melihat kemiskinan di satu kota dan kemewahan di kota lain, jangan biarkan hatimu mengeras. Biarkan ia mengerti, bahwa hidup tidak dibagi rata, namun kepedulian bisa dibagi tanpa batas.
Pulang dengan Cerita
Jika suatu malam kau menatap Victoria Harbour dan cahaya memantul seperti doa yang patah-patah, ingatlah rumah. Ingat dapur kecil dengan aroma pagi, ingat suara yang memanggil namamu tanpa syarat. Rindu bukan untuk melemahkan, ia adalah jangkar agar kau tak hanyut.
Aku akan menyebut namamu dalam doa-doa singkat, bukan agar kau selalu selamat, itu sudah kuharap, melainkan agar kau tetap rendah hati ketika dunia membuka pintunya. Sebab pintu yang terbuka lebar kadang membuat orang lupa menunduk.
Anakku Pidjar Barito,
cita-citamu sederhana, namun jalannya menyeberangi samudra. Kau ingin bekerja, digaji, berkeliling dunia: tiga hal yang jika dijalani dengan benar akan membentuk karakter, bukan sekadar karier.
Kelak, jika kau kembali dengan cerita-cerita kecil tentang kopi bandara, tentang senyum singkat di kabin, tentang pagi yang datang dari arah berbeda, aku akan mendengarkan tanpa menyela. Sebab setiap ceritamu adalah bukti bahwa mimpi yang dirawat tak pernah sia-sia.
Pergilah, Nak.
Langit menunggumu dengan aturan-aturannya. Dunia menantimu dengan pelajarannya. Hongkong menantimu dengan ritmenya. Dan rumah, akan selalu menunggumu dengan kesederhanaan yang sama, namun dengan bangga yang bertambah. Terbanglah dengan hati yang utuh, mendaratlah dengan jiwa yang tumbuh.
Jika suatu saat kau bertanya
apa arti hidup yang sesungguhnya, ingat ini: hidup adalah berangkat dengan tujuan, menjalani dengan tanggung jawab, dan pulang dengan cerita yang membuatmu lebih manusia.
Anakku, Pidjar Barito …
namamu akan kubisikkan pada angin, agar ia menjaga sayapmu. Namamu akan kutitipkan pada waktu, agar ia bersahabat dengan langkahmu. Dan pada setiap lepas landasmu, aku akan berkata dalam diam: selamat menjemput dunia, dan jangan lupa, kau selalu punya rumah untuk kembali.
Dari Desa Singasari
Jumat, 12 Des 2026
13.23














