Sabilulhuda, Yogyakarta: Anak Adalah Cerminanan Dari Orang Tuanya – Pernahkah kita memperhatikan bagaimana anak kecil itu dapat meniru setiap gerak-gerik dan tingkah laku dari orang tuanya? Mulai dari cara berbicara, tertawa, hingga kebiasaan yang sepele seperti menggulung lengan baju atau memainkan ponsel.
Ternyata, hal ini bukanlah hanya kebetulan saja. Anak anak memang di ciptakan dengan kemampuan yang luar biasa untuk meniru dan belajar dari lingkungannya. Di dalam dunia sains, hal ini dijelaskan melalui konsep mirror neuron atau neuron cermin.
Neuron cermin adalah sejenis sel saraf di otak yang membuat seseorang itu bisa belajar hanya dengan mengamati perilaku orang lain. Neuron ini aktif bahkan sejak bayi itu baru lahir. Jadi, ketika seorang anak yang melihat ayahnya tersenyum, ibunya berbicara dengan lemah lembut.
Atau malah sebaliknya, anak tersebut melihat kemarahan dan kebiasaan yang buruk dari orang tuanya, semua itu akan terekam oleh otak anaknya. Maka tak heran jika pepatah lama mengatakan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” begitu tepat. Anak memang mencerminkan perilaku dari orang tuanya.
Peran Orang Tua Dalam Membentuk Pola Otak Anak
Para ahli pediatri (dokter anak) dunia menegaskan pentingnya stimulasi yang tepat pada masa awal kehidupan. Dari 0 sampai 2 tahun, orang tua sebaiknya menjauhkan anaknya dari gawai. Karena otak mereka sedang berkembang pesat, dan butuh pengalaman yang nyata.
Baca Juga:

Karakteristik Anak Generasi Alfa & Cara Mendidik Di Era Serba Gadget https://sabilulhuda.org/karakteristik-anak-generasi-alfa-cara-mendidik-di-era-serba-gadget/
Dengan melihat wajah orang tuanya, mendengar suaranya secara langsung, merasakan sentuhan, dan bermain dengan benda-benda yang nyata. Semua itu dapat membantu dalam membentuk jutaan sambungan antar neuron di otak.
Sebaliknya, jika sejak bayi orang tua sudah menyuguhi layar gawai, maka otak anak hanya akan bekerja dalam dua dimensi yaitu datar dan terbatas. Akibatnya, kemampuan sosial, bahasa, dan emosi bisa berkembang lebih lambat.
Maka, saat anak mulai banyak menggunakan gawai di usia 2 hingga 5 tahun, sebaiknya orang tua membatasinya maksimal 30 menit sampai 1 jam per hari, dengan orang tua mendampinginya. Pendampingan ini penting sekali agar anak dapat memahami bahwa teknologi adalah alat, bukan sebagai pengganti interaksi manusia.
Teladan Adalah Bahasa Yang Paling Dipahami Oleh Anak
Anak-anak tidak hanya meniru perilaku yang baik saja, tapi juga perilaku dari kebiasaan buruk oran tuanya. Jika orang tua meminta anak untuk mengurangi penggunaan gawai, sementara mereka sendiri masih sibuk dengan ponselnya, anak akan bingung.
Mereka belajar dari contoh secara langsung, bukan dari kata-kata. Oleh karena itu, orang tua perlu menjadi teladan langsung, misalnya dengan menyimpan gawai saat waktu keluarga, makan bersama tanpa layar, dan berbicara dengan tatapan mata.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa setiap ajaran harus disampaikan sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kesukaan pada anak. Di era digital seperti sekarang ini, anak-anak memang menyukai hal-hal visual, audio, dan interaktif.
Maka, mendidik dengan cerita nabi atau kisah inspiratif dalam bentuk video atau animasi Islami bisa menjadi pilihan asalkan orang tua tetap mendampingi dan mengarahkan anaknya tersebut.
Anak Belajar Dari Apa Yang Kita Lakukan
Anak bukan hanya sebagai pendengar nasihat, tapi juga menjadi pengamat yang ulung. Mereka menyerap apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan setiap harinya. Maka, sebelum menuntut anak tersebut menjadi baik, tanyakan pada diri kita: “sudahkah kita menampilkan kebaikan itu di hadapan mereka?”
Menjadi orang tua memang bukan tugas yang mudah. Tapi dengan kesadaran bahwa setiap perilaku kita sedang direkam oleh “neuron cermin” anak, kita akan lebih berhati-hati dan penuh kasih sayang dalam bersikap. Karena pada akhirnya, anak adalah cerminan dari orang tuanya, dan dari kita juga, mereka belajar bagaimana menjadi manusia.
Baca Juga: PRINSIP DALAM MENDIDIK ANAK














