Ambar Polah Nyala Kesadaran (Puisi Peringatan 7 Tahun Kepergian Ambar Cahyono)

Oleh: Ki  Pekathik

18 november 2025

Di bawah langit lembab yang berselimut kabut,

namamu, Ambar Cahyono, kembali disebut.

Orang mengenalmu sebagai Ambar Polah —

karena langkahmu tak pernah diam,

dan hidupmu adalah perjalanan manusia biasa

menari di antara seni dan kemanusiaan.

Engkau memilih kayu dengan doa,

mengukirnya dengan rasa,

menghidupkan batang mati menjadi rumah penyadaran

menyulap sisa menjadi makna.

Serbuk kayu yang beterbangan di udara

adalah saksi bisu:

bahwa tanganmu menorehkan nilai,

sedang berzikir dalam rupa-rupa karya.

Ketika malam jatuh di pinggir kota,

dan anak-anak jalanan tertidur di bawah lampu remang,

kau datang — tanpa sorot kamera, tanpa tepuk tangan.

Kau ajari mereka menggambar dunia

dengan keberanian menjadi manusia

Wis gak popo dicoba terus wae.

Kau katakan dengan lembut:

“Seni bukanlah panggung,

melainkan cermin jiwa yang mengenali dirinya.”

Maka mereka pun tumbuh,

dengan warna dan nada yang kau titipkan.

Ada yang jadi pematung, ada yang jadi guru musik,

ada pula yang tetap berjalan di jalan kecilmu —

menjadi manusia yang menghidupkan manusia lain.

Di bengkel kayu yang kini sunyi,

bau damar masih bercampur dengan kenangan.

Palu dan pahat diam,

menyimpan gema suaramu:

“Kayu itu hidup —

asal kita menyentuhnya dengan cinta.”

Begitulah engkau memandang dunia.

Manusia bagimu pun sama:

setiap jiwa punya urat,

punya arah,

asal tak dipotong oleh keserakahan.

Dalam bisnismu pun engkau jujur seperti pohon.

Setiap papan jati yang keluar dari gudangmu

adalah doa yang dipahat dengan tangan bersih.

Kau pernah berkata:

“Kayu tahu siapa yang ikhlas dan siapa yang culas.”

Dan kami tahu —

Baca Juga: Ambar Polah Nyala Kesadaran

kau selalu berada di sisi yang pertama.

Di perjalanan hidupmu ada anak istrimu,

kamu politikus yang lembut tetapi teguh,

yang tahu bahwa cintamu bukan hanya pada mereka,

tetapi juga pada bangsa, pada anak-anak kecil,

pada kehidupan yang ingin kau luruskan

dengan pahat, lagu, dan lakon teater.

Kau menulis “Kusni Kasdut” bukan sekadar nyanyian,

tetapi jerit nurani rakyat kecil yang disulap menjadi harapan.

Lagu-lagumu bukan hiburan,

melainkan pembangkitan jiwa yang nyaris padam.

Tujuh tahun sudah waktu berjalan,

namun langkahmu masih bergetar di tanah ini.

Orang-orang menyebutmu “Bapak Ambar” —

sang penyala jiwa,

yang mengajarkan bahwa seni untuk menyembuhkan

Seni untuk menyalakan kesadaran kemanungsan

Bukan sebatas dipentaskan dan dipamerkan,

Bengkelmu kini menjadi ruang pamer,

penuh foto dan karya yang masih hangat oleh semangatmu.

Di setiap serat kayu ada sabarmu,

di setiap pahatan ada doamu,

di setiap dinding,

ada gema suaramu yang berkata:

“Pekerjaan ini jangan cuma cari makan,

tapi cari makna.”

Ambar Polah —

kau telah menjelma ajaran tanpa kitab,

pesantren tanpa pagar.

Dari kayu kau ajarkan kelembutan,

dari seni kau ajarkan ketulusan,

dari hidupmu kau ajarkan

bahwa manusia sejati bukan yang kaya harta,

melainkan yang kaya jiwa.

Dan bila kini kau telah berpulang,

kami tahu, engkau tak benar-benar pergi.

Kau hanya berpindah tempat —

dari dunia yang fana

ke dalam dada kami yang tak ingin lupa.

Kami menunduk, untuk mengenang langkahmu

yang sederhana tetapi meninggi dalam makna,

bukan untuk menyembahmu,

Dan kami berjanji,

tak akan membiarkan api itu padam.

Karena seperti katamu dulu:

“Kalau aku mati, jangan tangisi tubuhku.

Tangisilah bila kalian berhenti berkarya.”

Maka hari ini,

kami berkumpul di bawah bayang trembesi,

membaca Al-Fatihah untukmu,

menyebut namamu dalam zikir kayu tarian nyanyian dan udara.

Engkau telah menjadi cahaya yang tak padam,

nyala yang menembus waktu,

menjadi saksi bahwa seni adalah doa,

dan kemanusiaan adalah kanvas yang harus terus dilukis

dengan hati yang tak pernah letih mencinta.

Ambar Cahyono — Ambar Polah,

engkau hidup di setiap tangan yang bekerja dengan jujur,

di setiap jiwa yang tak menyerah pada gelap,

di setiap karya yang membuat Tuhan tersenyum.

Karena engkau telah mengajarkan kami

bahwa seni adalah jalan pulang,

dan manusia adalah karya agung yang harus dijaga.