Alvin Bin Adam: Tersurat – Tersirat

Alvin Bin Adam berdakwah dengan musik reggae, berambut gimbal dan mengenakan topi warna-warni
Alvin Bin Adam menyampaikan dakwah melalui musik reggae, menghadirkan pesan iman dan kemanusiaan di luar pakem visual yang lazim.

Oleh Bambang Oeban

Mengukur Manusia dari Bungkus

Di negeri pertiwi ini,
segala sesuatu lebih dulu
kerapkali diukur dari bungkus.

Dari sampul, dari kulit, dari gaya rambut,
dari panjang celana,
dari jenis topi menempel di kepala,
bukan dari getar niat di dada.

Hadeeeh ….

Maka jangan heran,
jika ada ustadz berambut gimbal panjang,
lebih cepat dicurigai
daripada koruptor licin
berdasi rapi sekaligus berpeci.

Baca Juga: JERIT HATI SENIMAN

Siapa Alvin Bin Adam?

Namanya Alvin Bin Adam.
Nama yang terdengar biasa saja,
tidak berteriak langit,
tidak pula menyaru malaikat.

Bin Adam—
anak dari kemanusiaan,
anak dari salah dan benar
yang terus berkelahi
dalam diri manusia.

Ia berdiri di panggung kecil.
Kadang di sudut kampung,
kadang di emperan kota,
kadang di ruang maya
yang lebih bising dari pasar ikan.

Rambut gimbalnya panjang,
hampir menyentuh tanah,
seolah ingin berkata:

“Aku tetap membumi,
meski kepalaku menghadap langit.”

Di kepalanya bertengger topi merah, kuning, hijau—
warna reggae,
warna perlawanan,
warna harapan yang tidak pernah rapi.

Sebagian orang berbisik:
“Ini ustadz atau penyanyi bar?”

Sebagian lagi berdehem sambil mengelus ego:
“Dakwah kok begini amat?”

Ah, di negeri yang gemar menghakimi,
pertanyaan sering lebih cepat
daripada niat memahami.

Baca Juga: ANAKKU PIDJAR BARITO

Ingatan Tahun 2001

Alvin memilih reggae,
bukan karena ingin tampak beda,
tetapi karena irama itu
pernah menyelamatkan jiwanya
di masa ketika hidup terasa
terlalu keras untuk dijalani dengan marah.

Reggae tidak berteriak.
Ia bergoyang pelan
sambil menyelipkan perlawanan.

Ia tidak menghardik.
Ia mengajak.
Seperti doa.

Tahun 2001-an,
hidup belum secepat notifikasi hari ini.
Orang masih sempat menatap langit
tanpa harus memotretnya.

Musik didengar,
bukan dipotong.
Makna dikunyah,
bukan ditelan mentah.

Alvin berpijak di sana—
di kenangan ketika iman
belum dikemas seperti iklan,
ketika Tuhan belum terlalu sering
dipakai sebagai caption pembenar.

Ia tahu zaman sudah berlari,
tapi tidak semua orang harus ikut sprint.
Ada yang bertugas menjaga ingatan,
agar manusia tidak lupa
bahwa pelan juga bagian dari jalan.

Baca Juga: MAUT DAN ETIKA SASTRA KITA

Kecurigaan Kolektif

Di Indonesia,
menjadi ustadz
ada seragam tak tertulisnya.

Ada standar visual.
Ada cetakan sosial.

Jika kau keluar dari cetakan itu,
kau siap dicetak ulang
oleh komentar,
oleh nyinyir,
oleh dalil setengah matang
yang dipakai seperti pentungan.

Alvin tahu risiko itu.
Menjadi seniman saja sudah dicurigai,
apalagi seniman yang berdakwah
tanpa mengubah rambutnya
demi kenyamanan publik.

“Tobat itu dari hati,
bukan dari salon,”

katanya suatu hari,
sambil tersenyum—
senyum orang yang sudah berdamai
dengan salah paham.

Ia tidak meminta semua orang setuju.
Ia hanya meminta satu hal:
kesempatan untuk didengar
sebelum diadili.

Baca Juga: BAMBANG OEBAN: TANAH PUSAKA NEGERIKU YANG MULIA

Kesalahpahaman Nasional

Kita hidup di negeri
yang sering salah fokus.

Isi kalah oleh casing.
Makna kalah oleh simbol.
Kejujuran kalah oleh tampilan saleh.

Padahal kitab suci sendiri
tidak pernah menjanjikan
bahwa kebenaran
selalu tampil rapi.

Kitab suci dibaca,
tetapi lebih sering dipajang.
Dikutip,
tetapi jarang diendapkan.

Alvin mengingatkan—
dengan musik,
dengan syair,
dengan goyangan kecil
yang mengusik keseriusan palsu:

Bahwa iman bukan kostum.
Bahwa takwa bukan properti panggung.
Bahwa Allah
tidak menilai dari sudut kamera.

Dakwah Tanpa Teriakan

Syair-syair Alvin
tidak meledak-ledak.

Ia tidak memaki.
Tidak mengancam neraka
setiap tiga baris.

Ia lebih suka bertanya:

“Kenapa kita mudah marah
atas perbedaan,
tetapi santai melihat ketidakadilan?”

Reggae mengalun.
Kata-kata menyusup.
Pesan tiba-tiba sudah sampai
sebelum kita sadar
sedang dinasihati.

Ini dakwah tanpa podium tinggi,
tanpa mimbar marmer,
tanpa jarak antara
yang bicara dan yang mendengar.

Keimanan yang Kaku

Kadang Alvin tertawa
sambil bernyanyi tentang
umat yang sibuk
mengukur surga
dengan meteran sendiri.

Tentang orang rajin ibadah
tetapi malas adil.
Tentang mulut fasih ayat
tetapi lupa
menutup lubang empati.

Humornya segar,
menggelitik,
tapi tidak kejam.

Ia tidak menghakimi,
karena ia tahu
dirinya pun sedang belajar.

Anti Keseragaman

Indonesia bukan satu nada.
Ia orkestra.

Ada gamelan.
Ada dangdut.
Ada keroncong.
Dan mengapa tidak—
reggae dakwah?

Alvin berdiri di tengah kebinekaan itu
sebagai pengingat:

Bahwa iman dan nasionalisme
tidak harus seragam.
Cinta tanah air
bisa berambut gimbal.
Kesalehan
bisa berirama reggae.

Baca Juga: DUNIA BERHENTI SEJENAK

Vertikal, Bukan Target Viral

Di zaman ketika dakwah
sering diukur dari jumlah tayangan,
Alvin memilih jalur sunyi:
vertikal.

Ia tahu,
niat yang lurus
tidak selalu trending.

Ia tidak sibuk membangun citra,
karena ia sibuk merawat hubungan—
bukan dengan follower,
tetapi dengan Yang Maha Mendengar,
bahkan ketika panggung sepi.

Menemukan Diri

Setidaknya satu hal
sudah Alvin menangkan:
ia menemukan dirinya sendiri.

Sebagai seniman.
Sebagai pendakwah.
Sebagai manusia
yang tidak mau berpura-pura
demi diterima.

Di negeri merah putih ini,
yang sering takut pada perbedaan,
keberanian semacam itu
adalah bentuk ibadah
yang jarang disadari.

Untuk yang Gemar Menilai

Mungkin, yang perlu kita periksa
bukan rambut Alvin,
bukan topinya,
bukan iramanya.

Tetapi kedalaman kita sendiri
dalam memahami makna.

Sebab agama bukan lomba busana.
Iman bukan soal kemasan.

Dan Tuhan—
jika benar-benar kita yakini Maha Melihat—
pasti lebih sibuk menimbang isi hati
daripada memeriksa gaya rambut.

Alvin Bin Adam
hanya satu dari sedikit
yang berani mengingatkan itu
dengan cara yang tidak biasa.

Dan mungkin,
di negeri yang terlalu serius
dalam menghakimi,
kita memang butuh sedikit reggae
agar iman
tidak kehilangan rasa.

Dari Desa Singasari
Selasa, 9 Des 2025
18.18