Apakah benar aku tak pantas untuk berteman dengan siapa pun?
Apakah benar aku ini tak pantas berteman dengan mereka ataupun kamu?
Kalau aku ini pantas mendapatkan itu semua, , lantas mengapa banyak orang yang membenciku?
Kata mereka, aku ini pembohong. Tak pantas berteman dengan kamu yang seolah-olah mereka anggap bidadari surga. Wajar saja aku tak pantas, secara kamu itu sholihah, cantik, tinggi, hafalanmu melebihi hafalanku, dan juga kamu sudah berpengalaman tinggal di pesantren. Berbanding terbalik denganku. Aku tak secantik kamu, tak sepintar dirimu, dan hafalanku tak sebanyak sepertimu. Bahkan aku pun belum berpengalaman tinggal di pesantren. Walaupun aku jauh dari pandangan baik sepertimu, aku juga masih punya hati dan perasaan seperti mereka.
Ya… benar, aku insecure dengan semua itu. Hingga pakaian yang aku kenakan pun, mereka memberi nilai buruk ketika aku bersisian denganmu. Hal itu karena pakaianku dan pakaianmu, tak senilai harganya. Pakaianmu, jauh lebih bagus dan lebih mahal dariku. Walaupun begitu, pakaian yang sederhana ini juga punya nilai. Pakaian yang terkadang mereka anggap murah dan lusuh ini adalah hasil jerih payah orang tuaku. Mereka tidak pernah tahu perjuangan itu, dan mereka hanya bisa menghargai seseorang dari penampilan luarnya saja.
Alhamdulillah sejauh ini, aku masih kuat menghadapi semua itu. Namun ada beberapa hal yang masih belum bisa aku lupakan. Yaitu tentang keberadaanku yang tidak layak tinggal di pesantren, dan keadaan diriku yang tidak memiliki kepantasan untuk berteman dengan mereka. Sebab mereka tak selevel denganku. Bahkan dimata mereka seribu kebaikanku tak mampu menutupi satu kesalahanku. Benar, memang benar, aku tak pantas ada di penjara suci ini. Mana mungkin seorang pendosa sepertiku pantas ada di tempat yang suci semacam ini. Tapi aku disini semata-mata hanya ingin bisa memperbaiki dan merubah diri untuk menjadi lebih baik lagi.
Setiap orang itu bisa berubah, seperti halnya diriku. Aku sedang berusaha menjadi lebih baik. Tak ada yang tak mungkin kalau kita mau berusaha. Ya Allah… sakit rasanya ketika ditengah usahaku, disemua cobaan dan ujian yang harus kuhadapi, disaat aku butuh kamu sebagai kawan tempatku berbagi cerita, canda tawa, juga air mata, terlihat lebih akrab dengan yang lain. Karena disini, hanya kamu orang yang paling dekat dan mengenal luar dalam akan diriku. Sedangkan kini, kamu sudah mulai akrab dengan mereka dan melupakanku. Memang bukan hakku melarangmu untuk dekat dengan siapa pun. Aku hanya berusaha mempertahankan supaya kita tetap dekat seperti dulu.
Sepertinya tak mudah memintamu untuk selalu setia berada di sisiku. Kamu mau aku melepasmu, maka telah kulakukan berbagai cara untuk mengurangi jarak di antara kita. Supaya jika nantinya aku dan kamu dibandingkan dengan semua kekurangan ku, maka aku berharap itu tidak menyakitkan lagi.
Namun aku sadar bahwa jarak ini tak bisa aku buat semakin jauh. Karena menjauhimu adalah hal tersulit yang tak mungkin dan tak akan pernah bisa aku lakukan. Sangat sakit rasanya jika dibeda-bedakan dengan orang yang dekat dengan kita. Memang ini sudah menjadi takdirku untuk memulai melepaskanmu dan mengikhlaskanmu untuk dekat dengan mereka. Selamat jalan kawan, jangan lupakan aku yang selalu menjadi beban untukmu. Semoga kamu lebih bahagia bersama mereka. Pesanku, tolong jangan pernah lelah untuk berbuat baik dan jangan pedulikan aku lagi. Karena hanya itulah yang terbaik untukku dan kamu. Karena aku, seorang pendosa yang tak pantas berteman dengan bidadari surga. Terima kasih atas kebaikanmu yang telah banyak membawa perubahan baik untuk diriku. ***
(Yuni)











