Berita  

Aktivitas Gunung Merapi Masih Tinggi, Lava Luncur hingga 1,9 Km

Peta aktivitas Gunung Merapi dari MAGMA Indonesia menunjukkan status Level III (Siaga) per 30 Oktober 2025.
Tangkapan layar laman MAGMA Indonesia menampilkan posisi Gunung Merapi dengan status Level III atau Siaga pada Kamis, 30 Oktober 2025.

Sabilulhuda, Yogyakarta – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih menunjukkan intensitas tinggi. Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) periode pengamatan 29 Oktober 2025, gunung yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu masih berada pada Level III atau Siaga.

Kondisi Cuaca Dan Visual Gunung

Selama periode pengamatan, cuaca di sekitar Merapi bervariasi antara cerah hingga mendung. Suhu udara tercatat berkisar antara 17,4 hingga 25,3 derajat Celsius, dengan kelembaban udara 79,6–99,4 persen dan tekanan udara 873,3–918 mmHg. Angin umumnya bertiup tenang ke arah barat dan timur.

Secara visual, puncak di Gunung Merapi tampak jelas meskipun sesekali tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal, mencapai ketinggian 50 hingga 100 meter di atas puncak.

Aktivitas Kegempaan Dan Guguran Lava

BPPTKG juga mencatat ada sejumlah aktivitas kegempaan yang cukup signifikan. Tercatat 1 kali awan panas guguran, 74 kali guguran lava, 65 gempa hybrid atau fase banyak, serta 1 gempa tektonik jauh.

Baca Juga:

Awan panas guguran memiliki amplitudo maksimum 16 mm dengan durasi 172,57 detik, sementara guguran lava tercatat dengan amplitudo 2–26 mm dan durasi hingga 231,71 detik.

Dari hasil pengamatan secara visual, teramati 10 kali guguran lava mengarah ke sektor barat daya yang meliputi Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak, dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.900 meter dari puncak.

Rekomendasi Dan Himbauan

BPPTKG menegaskan bahwa potensi bahaya saat ini masih berupa guguran lava dan awan panas guguran (APG) di sektor selatan barat daya, mencakup Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km.

Sementara pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol hingga 5 km.
Selain itu, lontaran material vulkanik akibat letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.

BPPTKG juga mengingatkan kepada masyarakat agar tidak beraktivitas di kawasan yang berpotensi bahaya dan tetap waspada terhadap kemungkinan awan panas guguran maupun lahar terutama saat hujan turun di sekitar lereng Merapi.

Pemantauan Terus Dilakukan

Data pemantauan menunjukkan suplai magma ke permukaan masih berlangsung. Kondisi ini dapat memicu munculnya aktivitas guguran atau awan panas baru di area berbahaya. BPPTKG menyampaikan, jika terjadi peningkatan signifikan pada aktivitas vulkanik, maka status Merapi akan segera dievaluasi kembali.

Masyarakat dihimbau untuk terus mengikuti perkembangan informasi resmi dari PVMBG melalui situs magma.esdm.go.id atau kanal media sosial resmi BPPTKG.