Air Mata Haru Bu Rini untuk Amma

Air Mata Haru Bu Rini untuk Amma
Air Mata Haru Bu Rini untuk Amma

(Sebuah kisah nyata yang menyentuh dari sebuah PAUD di lereng Merapi)

Air Mata Haru Bu Rini untuk Amma – Di suatu pagi yang cerah di lereng Merapi, Bu Rini sibuk menyiapkan bekal kecil untuk anak-anak di Panti Asuhan Sabilulhuda yang mau berangkat sekolah ke PAUD salah satunya Amma.

Rumah mungilnya yang menjadi bagian dari Panti Asuhan Pak Dayat, terasa hangat oleh canda anak-anak asuhnya. Pagi itu, hatinya terasa berat, matanya sembab. Bukan karena kelelahan, melainkan karena satu hal: Amma.

Amma, Bocah Kecil Yang Berbeda

Amma, bocah 4,5 tahun, adalah anak asuh yang baru beberapa hari berangkat sekolah di PAUD. Sejak kecil, Amma menunjukkan kepribadian yang berbeda. Ia sangat tertutup, sulit tersenyum pada orang baru, dan nyaris tak pernah berbicara jika tidak ditanya.

Namun Bu Rini tahu, ada sesuatu yang istimewa dalam diri Amma. Amma diasuh P Dayat dan Bu Rini sejak usia 2 bulan dan amat dekat melebihi anak kandung Bu Rini.

“Dia sangat cerdas,” batin Bu Rini. “Tapi… kenapa seperti menutup diri dari dunia?”

Saat Amma Mulai Di Kucilkan

Setiap pagi, Amma adalah anak yang paling semangat bersiap ke sekolah sekalipun belum berseragam seperti teman teman lainnya. Karena keterbatasan belum ada dana untuk membelikan Amma seragam. Ia selalu memakai pakaian rapi, mencium tangan Bu Rini dan Pak Dayat sebelum melangkah ke PAUD.

Tapi sesampainya di sekolah, ia menjadi sosok yang berbeda diam, murung, tak percaya diri.

Ketika guru mengajak anak-anak bernyanyi, Amma duduk memeluk lutut. Saat lomba mewarnai digelar, Amma hanya mengguratkan satu warna dan menyerahkan kertasnya dengan kepala tertunduk. Dalam lomba menyusun balok, ia selalu terakhir.

Baca Juga:

kisah nyata 1: Lumba-lumba Kesukaanmu Adalah Pelukan Terindahku

kisah nyata 1: Lumba-lumba Kesukaanmu Adalah Pelukan Terindahku https://sabilulhuda.org/kisah-nyata-1-lumba-lumba-kesukaanmu-adalah-pelukan-terindahku/

Anak-anak lain mulai menjauh. “Amma nggak bisa apa-apa,” kata seorang anak. “Dia aneh,” celetuk yang lain. Dan Amma, mendengar semua itu, hanya menunduk, menggenggam jemarinya yang mungil erat-erat.

Bu Rini tak tahan melihatnya. Di ruang guru, ia berusaha menahan air mata. Tapi hatinya runtuh saat mendengar gurunya sendiri berkata, “Bu, saya rasa Amma memang anak yang introvet dan kurang mampu… mungkin memang butuh kelas khusus.”

Kalimat itu seperti sembilu bagi Bu Rini. Ia tahu Amma bukan anak yang ‘kurang mampu’. Amma hanya menyimpan luka yang belum bisa ia ceritakan.

Air Mata Malam Bu Rini

Malam harinya, setelah semua anak tidur, Bu Rini duduk diam di teras. Pandangannya kosong, matanya berkaca. Ia memutar ulang setiap momen di kepalanya bagaimana Amma menyukai buku, bagaimana ia bisa menyebutkan bentuk geometri dengan benar.

Bagaimana ia menyusun puzzle dengan cepat saat tidak ada yang memperhatikannya.

Pak Dayat, suaminya yang penuh kasih, duduk di sebelahnya. Ia tahu istrinya sedang memendam sesuatu.

“Ada apa, Bu?” tanya Pak Dayat pelan.

Bu Rini tak langsung menjawab. Air matanya mengalir perlahan.

“Amma…,” ia berkata dengan suara gemetar. “Dia itu anak yang sangat pintar, Mas… Tapi kenapa semua orang melihat dia sebaliknya? Di sekolah, dia dikucilkan. Bahkan gurunya sendiri mulai menyerah. Amma itu… seperti bunga yang tumbuh di tempat gelap. Dia tidak tahu bagaimana cara berbunga.”

Pak Dayat terdiam. Ia menarik napas dalam, lalu berdiri dan masuk ke kamar. Ia melihat Amma yang sudah tidur dengan memeluk boneka kecil kesayangannya. Wajahnya damai, tapi ada garis-garis kesedihan yang tersimpan dalam mimpinya.

Dengan lembut, Pak Dayat mengelus kepala Amma.

“Kamuuu… anak ayah yang baik,” bisiknya lirih. “Ayah bangga dengan Amma. Suatu saat kamu akan membuat kami bangga, Ayah sangat yakin itu, Nak. Ayah doakan kamu tumbuh dengan akhlak yang baik dan penuh prestasi di masa depan… Yang penting kamu tetap berusaha, ya, Nak.”

Air mata Pak Dayat jatuh, menyentuh rambut Amma yang lembut. Sejenak, Amma menggeliat dalam tidurnya, seolah merespon belaian itu. Lalu ia kembali tenang.

Bu Rini yang berdiri di balik pintu, menyaksikan semua itu dengan hati yang remuk dan penuh haru. Ia mengusap dadanya yang sesak, lalu berbisik pada suaminya, “Terima kasih, Mas… Semoga Allah mendengar doa kita untuk Amma.”

Perubahan Yang Perlahan Tumbuh

Hari-hari berikutnya, Bu Rini mulai mendampingi Amma lebih intensif. Ia tak pernah memaksa Amma untuk menjadi seperti anak lain. Ia hanya duduk di sampingnya, membacakan cerita, bermain balok bersama, atau sekadar memeluk saat Amma merasa kecil.

Perlahan, Amma mulai berubah. Ia mulai berani menyanyi pelan ketika tidak ada orang. Ia mulai tersenyum kecil ketika menggambar. Ia bahkan mulai menyapa satu-dua temannya meski masih dengan suara yang sangat lirih.

Bu Rini tak mengharapkan perubahan besar. Ia tahu luka batin tak bisa disembuhkan dalam semalam. Tapi setiap senyum kecil dari Amma adalah kemenangan.

Pita Prestasi Yang Tak Didapatkan

Suatu hari, saat lomba menggunting bentuk gambar mobil kembali digelar, Amma memotong gambar mobil dengan semaunya dan tidak bersemangat. Potongannya sembarangan tidak serapi teman temannya yang menyelesaikan tugas dari bu guru dengan baik tapi tidak dengan Amma.

Ketika pengumuman pemenang disampaikan semua mendapat pita penghargaan. Ada yang mendapat 5 pita, 4 pita, 3 pita, ada yang satu pita. Kemudian di foto satu persatu dengan hasil tugas dan penghargaan pita prestasinya.

Tetapi ama dengan cemberut bertanya kenapa aku tidak di beri pita, tapi amma tetap berusaha senyum Ketika di foto bersama hasil tugasnya yang berantakan. Foto prestasi kerja anak pun komplit dikirimkan pada Bu Rini.

Tapi Bu Rini tidak kecewa, karena hari itu Amma selesai menggunting gambar. Dan itu adalah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ketika semua anak pulang, Amma menghampiri Bu Rini dan menunjukkan gambar itu.

“Ibu, mobil ini Amma kasih buat Ibu… Karena mobil Amma hanya seperti ini tidak di beri pita oleh bu guru,” katanya pelan.

Bu Rini tak bisa menahan tangisnya. Ia peluk Amma erat-erat.

“Amma… kamu juga sedang belajar berkarya, Nak. Dan Ibu akan selalu ada di sini untuk menyemangati kamu.”

Bunga Kecil Yang Mulai Mekar

Hari berikutnya Amma tetap semangat karena setiap malam pak Dayat selalu bertanya:

“Amma sudah sekolah ya? harus semangat berusaha, yang penting hati ama senang. Kelak Amma akan jadi hebat melebihi teman temanmu, ayo berangkat dengan senyum”.

Hari itu ia sudah berani mengangkat tangan ketika di tanya. Ia sudah bisa bermain dengan teman-teman. Dan ia sudah bisa tertawa lepas ketika bermain lompat tali.

Pak Dayat suatu malam berdoa lebih lama dari biasanya. Di akhir doanya ia berbisik: “Terima kasih, Ya Allah… Engkau telah membimbing bunga kecil kami mulai mekar.”

Dan di kamar kecil di sisi rumah, Amma tertidur dengan tenang, memeluk buku gambarnya yang penuh pelangi. Dalam tidurnya, ia bermimpi terbang tinggi dengan sayap kecil yang tumbuh dari kasih sayang, doa, dan air mata orang-orang yang percaya padanya.

Semoga hidup Amma kelak di penuhi prestasi dan kebahagiaan Amin.

Baca Juga: Kemensos dan Kementerian PPPA Bentuk Tim Lindungi Perempuan dan Anak

Oleh: Ki Pekathik