Adab Santri : Prihatin, Penempa Jiwa Para Santri (Belajar Dari Kyai Kholil)

Senin, 26 Juli 2010 16:45 Taufiq Nurhayadi E-mail Cetak PDF

Sebagian murid Kiai Kholil yang mudah dikenal saat ini, antara lain KH Hasyim Asy’ari, pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Beliau juga dikenal sebagai pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di seluruh dunia. KH Hasyim Asy’ari juga tercatat sebagai Pahlawan Nasional. Cucu KH Hasyim Asy’ari, yaitu Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah mantan Ketua PB NU dan Presiden RI ke-3.
KH R As’ad Syamsul Arifin (Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo Asembagus, Situbondo), juga murid Kyai Kholil. Begitu juga KH Wahab Hasbullah (Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang), yang juga pernah menjabat sebagai Rais Aam NU (1947 – 1971). Muridnya yang lain adalah KH Bisri Syamsuri (Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang), KH Maksum (Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Al-hidayah Rembang, Jawa Tengah), KH. Bisri Mustofa (Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang- Raudlatuth Tholibin /Dikenal sebagai mufassir Al Quran).
……………….

Untuk mencapai martabat setinggi itu, Kyai Kholil melaluinya dengan perjuangan berliku. Ia berguru di beberapa pondok pesanteren di Indonesia, dengan melalui kehidupan yang memprihatinkan. Selama di pesantren, Kholil terkenal sebagai santri yang rajin dan sabar. Beliau menjalani hidup yang memprihatinkan, karena memang beliau nyantri dengan hidup mandiri, tanpa ada yang membiayai.
Sekitar tahun 1850-an, Kholil muda menimba ilmu dari Kiai Muhammad Nur di Pesantren Langitan Tuban. Kemudian nyantri di Pesantren Cangaan, Bangil, pasuruan. Dari sini pindah lagi ke Pesantren Keboncandi, Pasuruan. Selama di Keboncandi, Kholil juga belajar pada Kiai Nur Hasan yang masih familinya di Sidogiri, yang berjarak sekitar 7 kilometer dilakoni setiap hari. Selama perjalanan Keboncandi-Sidogiri ia membaca Surah Yaasin sampai khatam berkali-kali. Selama di Keboncandi ia memburuh batik dan dari hasil memburuh batik inilah yang ia gunakan untuk biaya hidup dan belajar selama di Keboncandi.
Ketika belajar di Pesantren Banyuwangi yang mempunyai kebun kalapa yang sangat luas, Kholil muda menjadi buruh memetik kelapa dengan upah 80 pohon mendapat 3 sen. Semua hasil memetik kelapa disimpan di dalam peti, lalu di persembahkan pada Kyai.
Untuk biaya makan sehari-hari, Kholil santri menjalani kehidupan prihatin. Terkadang mengisi bak mandi, mencuci pakaian dan piring. Kholil santri sering menjadi juru masak kebutuhan teman-temannya. Dari kehidupan prihatin itu Kholil santri mendapat makan cuma-cuma.
Sesudah cukup di pesantren itu, gurunya menganjurkan Kholil untuk melanjutkan belajarnya ke Makkah. Uang dalam peti yang dahulu dihaturkan kepada kyai diserahkan kembali pada Kholil sebagai bekal belajar di Makkah.
………………..
Selama dalam perjalanan ke Makkah, Kholil selalu dalam keadaan berpuasa dan mendekatkan diri kepada Allah. Siang hari membaca Al-Qur’an dan shalawat, malam hari wirid dan taqarub kepada Allah.
Setibanya di Makkah, Kholil segera bergabung dengan teman-temannya dari Jawa. Banyak para Syaikh yang Kholil datangi. Dan kebiasaan hidup sederhana dan prihatin tetap dijalankan seperti waktu di pesantren Jawa. Kholil sering makan kulit semangka. Sedangkan minumannya dari air zamzam. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Kyai Kholil bekerja mengambil upah sebagai penyalin kitab-kitab yang diperlukan oleh para pelajar. Begitu dilakukannya terus menerus selama empat tahun di Makkah.
Dalam situasi prihatin seperti itu bahkan mereka bertiga, yaitu: Syeikh Nawawi al-Bantani, Kiyai Muhammad Kholil al-Maduri dan Syeikh Saleh as-Samarani (Semarang), mampu menyusun kaedah penulisan huruf Pegon. Huruf Pegon ialah tulisan Arab yang digunakan untuk tulisan dalam bahasa Jawa, Madura dan Sunda. Huruf Pegon tidak ubahnya tulisan Melayu/Jawi yang digunakan untuk penulisan bahasa Melayu.
…………………
Perjalanan penuh keprihatinan, dilandasi tekad kuat ini yang menempa beliau dalam mengarungi ilmu, hingga akhirnya menjadi ulama besar. Maka bagi kita para penempuh jalan menuju Allah, keprihatinan adalah kawan seperjalanan yang mengingatkan kita untuk terus sabar, tabah, tawakal dan tetap istiqamah di jalan Allah, apapun yang terjadi.

Terakhir Diperbaharui pada Sabtu, 01 Januari 2011 02:37

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *