Abdurrahman Bin Auf: Pedagang Dermawan Yang Dijamin Surga

Abdurrahman Bin Auf: Pedagang Dermawan Yang Dijamin Surga
Abdurrahman Bin Auf: Pedagang Dermawan Yang Dijamin Surga
Abdurrahman Bin Auf: Pedagang Dermawan Yang Dijamin Surga
Abdurrahman Bin Auf: Pedagang Dermawan Yang Dijamin Surga

Abdurrahman bin Auf: Pedagang Dermawan yang Dijamin Surga – Dalam sejarah Islam, nama Abdurrahman bin Auf ﷺ selalu hadir sebagai simbol kedermawanan, keteguhan iman, dan kejayaan yang tidak membuat lalai.

Ia adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga (al-‘Asyratul Mubassyarin), namun kehidupannya tidak pernah lepas dari kesederhanaan dan pengabdian. Kisah hidupnya menjadi teladan yang hidup bagi siapa pun yang ingin menggabungkan keberhasilan dunia dengan keselamatan akhirat.

Masa Muda dan Keislaman Abdurrahman Bin Auf

Abdurrahman bin Auf lahir dengan nama asli Abdul Ka’bah di Mekah, dari Bani Zuhrah, suku yang sama dengan Aminah binti Wahb, ibunda Rasulullah ﷺ. Ia tumbuh sebagai pemuda yang cerdas, jujur, dan memiliki jiwa dagang sejak dini.

Sebelum masuk Islam, ia sudah dikenal sebagai pedagang muda yang sukses dan disegani.

Ketika Islam mulai disebarkan secara sembunyi-sembunyi oleh Rasulullah ﷺ, Abdurrahman termasuk di antara delapan orang pertama yang memeluk Islam melalui dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Rasulullah ﷺ kemudian mengganti namanya menjadi Abdurrahman, yang berarti “hamba Tuhan Yang Maha Pengasih”.

Baca Juga:

Zubair Ibnul Awwam: Singa Allah dari Generasi Awal Islam

Zubair Ibnul Awwam: Singa Allah dari Generasi Awal Islam https://sabilulhuda.org/zubair-ibnul-awwam-singa-allah-dari-generasi-awal-islam/

Keislamannya membuatnya harus menghadapi tekanan hebat dari kaumnya. Namun ia tetap teguh. Ia ikut berhijrah dua kali: pertama ke Habasyah (Ethiopia) dan kemudian ke Madinah bersama Rasulullah ﷺ.

Hijrah dan Awal Kehidupan di Madinah

Sesampainya di Madinah, Rasulullah ﷺ melakukan pemersaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Abdurrahman dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ Al-Anshari, seorang hartawan Madinah. Sa’ad dengan tulus menawarkan separuh hartanya kepada Abdurrahman, bahkan menawarkan salah satu dari dua istrinya untuk dinikahi. Namun Abdurrahman menolak dengan halus dan berkata:

“Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu. Tunjukkan padaku di mana pasar.”

Itulah kalimat legendaris Abdurrahman bin Auf yang menggambarkan kemandirian dan semangatnya dalam berusaha. Ia kemudian memulai bisnis kecil-kecilan di pasar Bani Qainuqa’.

Berkat kejujuran, keterampilan, dan keberkahan dari Allah, usahanya berkembang pesat. Tak lama kemudian, ia menjadi salah satu saudagar terkaya di Madinah.

Kedermawanan Tanpa Batas

Meski kekayaannya melimpah, hati Abdurrahman bin Auf tidak pernah terikat pada dunia. Ia menganggap kekayaan sebagai titipan dan sarana untuk menolong sesama serta meraih ridha Allah.

Beberapa contoh luar biasa dari kedermawanannya:

1. Dalam Perang Tabuk, ia menyumbangkan 200 uqiyah emas (sekitar 3,5 kilogram emas) ke tangan Rasulullah ﷺ.

2. Ia pernah menyumbangkan 500 ekor kuda dan 1.500 unta untuk kebutuhan jihad fi sabilillah.

3. Ketika Madinah dilanda kelaparan, ia membagikan 700 ekor unta sarat muatan makanan dan barang dagangan kepada masyarakat.

4. Dalam wasiatnya, ia memberikan 50.000 dinar emas untuk para pejuang Perang Badar yang masih hidup.

5. Ia juga menyumbangkan harta kepada istri-istri Nabi ﷺ setelah wafat beliau, sebanyak 400 dinar emas untuk masing-masing, sebagai penghormatan kepada Ummahatul Mukminin.

Tak heran jika Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“Abdurrahman bin Auf adalah orang kaya, dan ia akan masuk surga dengan merangkak.”

(HR. Al-Hakim, shahih)

Ketika di tanyakan maksud dari “merangkak”, di jelaskan bahwa itu karena hisab kekayaannya yang sangat banyak. Maka Abdurrahman pun menangis dan bersungguh-sungguh menyedekahkan hartanya agar bisa masuk surga tanpa hisab.

Keberanian dan Keteguhan di Medan Perang

Abdurrahman bin Auf bukan hanya dermawan di pasar, ia juga pejuang tangguh di medan perang. Ia ikut dalam hampir semua peperangan bersama Rasulullah ﷺ, termasuk Perang Badar, Uhud, Khandaq, dan Tabuk.

Dalam Perang Badar, ia menjadi salah satu pasukan utama yang ikut menyumbang kemenangan besar umat Islam. Dalam Perang Uhud, ia terluka parah dan kehilangan beberapa gigi depannya. Tapi itu tidak menghalangi semangat jihadnya.

Di masa Rasulullah ﷺ sakit, beliau menunjuk Abdurrahman untuk memimpin shalat beberapa kali, suatu isyarat kehormatan. Bahkan pada masa khalifah Umar bin Khattab, ia termasuk dalam dewan syura enam orang yang di tunjuk untuk memilih khalifah pengganti.

Kebijaksanaan dan Kepribadian

Abdurrahman bin Auf terkenal dengan kelembutan hati, sikap rendah hati, dan kebijaksanaan dalam setiap keputusan. Meski termasuk orang terkaya di kalangan sahabat, ia tetap hidup sederhana. Makanannya sering kali hanya roti kering dan air.

Ia tidak silau dengan kekuasaan. Ketika di tawarkan menjadi khalifah setelah Umar bin Khattab wafat, ia menolak dan malah mengusulkan Utsman bin Affan sebagai khalifah, karena melihat Utsman lebih tepat dari sisi kelembutan dan kesesuaian karakter dengan umat saat itu.

Ia di kenal tidak pernah menumpuk harta untuk dirinya sendiri. Bahkan ketika ada iring-iringan unta dagangannya masuk ke Madinah, seluruh isi kafilah itu sering kali langsung di bagikan.

Wafatnya Sang Dermawan

Abdurrahman bin Auf wafat pada tahun 32 H, saat berusia lebih dari 70 tahun. Ia di makamkan di Baqi’, Madinah, dengan kehormatan besar. Dalam riwayat, Ali bin Abi Thalib berkata saat mengantar jenazahnya:

“Pergilah, wahai Abdurrahman. Engkau telah mendapatkan dunia dan tidak tertipu olehnya. Engkau tinggalkan dunia namun ia tidak menyibukkanmu.”

Harta warisan Abdurrahman bin Auf sangat besar, namun yang lebih besar adalah jejak kebajikan yang di tinggalkannya. Ia meninggalkan ribuan dinar emas, ladang-ladang, rumah, dan binatang ternak.

Tetapi yang menjadi bekalnya ke akhirat adalah setiap tetes keringat yang ia gunakan untuk membela agama Allah dan setiap keping emas yang ia sedekahkan demi orang-orang miskin, yatim, dan perjuangan Islam.

Pelajaran dari Abdurrahman bin Auf

1. Kekayaan Tidak Bertentangan dengan Ketakwaan

Abdurrahman bin Auf membuktikan bahwa menjadi kaya bukanlah halangan menuju surga. Yang penting adalah sikap terhadap kekayaan itu sendiri: apakah ia di gunakan untuk menumpuk kesombongan atau untuk kemaslahatan umat.

2. Kemandirian dalam Hidup

Kisah permintaannya kepada Sa’ad bin Rabi’ agar hanya di tunjukkan pasar adalah simbol semangat hidup mandiri dan pantang bergantung pada orang lain.

3. Keseimbangan antara Dunia dan Akhirat

Ia tetap aktif berdagang namun tidak melupakan ibadah, jihad, dan tanggung jawab sosial. Inilah teladan hidup seimbang yang perlu di tiru oleh kaum Muslimin zaman ini.

4. Kepemimpinan yang Tidak Haus Kekuasaan

Meski punya kekayaan dan pengaruh, Abdurrahman bin Auf tidak pernah mencalonkan diri menjadi pemimpin. Ia justru mendukung yang paling layak dan adil, demi kebaikan umat, bukan demi ambisi pribadi.

Penutup

Abdurrahman bin Auf adalah contoh nyata seorang sahabat yang berhasil menggabungkan dunia dan akhirat. Ia kaya, namun tidak rakus. Ia pemimpin, namun tidak haus jabatan. Ia dermawan, namun tidak pamer. Ia pejuang, namun tetap lembut dan bijak.

Kisah hidupnya adalah pelajaran bagi kita bahwa keberhasilan duniawi bukan penghalang menuju ridha Allah, selama itu di raih dan di gunakan dengan benar. Dalam setiap dinar yang ia infakkan, dalam setiap langkah yang ia tempuh untuk berdagang maupun berjihad, terpatri semangat: “Semua ini hanya titipan, dan akan kembali kepada-Nya.”

Semoga Allah meridhai Abdurrahman bin Auf dan menjadikan kita mampu meneladani akhlaknya. Aamiin.

Referensi:

Ibn Hajar al-Asqalani, Al-Iṣābah fī Tamyīz al-Ṣaḥābah

Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah

Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Raheeq al-Makhtum

Hadis-hadis shahih dari Bukhari, Muslim, dan lainnya.

Baca Juga: Jabal Uhud Saksi Bisu Perang Uhud

Oleh: Ki Pekathik