
Abdullah Bin Mas’ud Cahaya Ilmu Dari Lembah Mekkah – Dalam lembaran-lembaran sejarah Islam yang gemilang, terdapat nama-nama besar yang mengukir jejak tak terhapuskan dalam penyebaran dan pemahaman agama Allah.
Salah satu di antara mereka yang bersinar terang adalah Abdullah bin Mas’ud. Sahabat Nabi Muhammad SAW ini bukan hanya sekadar seorang individu yang hidup di masa keemasan Islam. Melainkan pilar penting yang menyumbangkan warisan ilmu, kebijaksanaan, dan keteladanan yang tak ternilai harganya.
Kisah hidupnya adalah cerminan ketekunan, keikhlasan, dan dedikasi seorang hamba Allah yang memilih jalan kebenaran di tengah tantangan dan rintangan.
Awal Kehidupan Dan Pertemuan Dengan Cahaya Kenabian
Abdullah bin Mas’ud, nama lengkapnya Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil bin Habib Al-Hudzali, lahir di Mekkah pada masa jahiliyah. Ia berasal dari kabilah Hudzail, sebuah kabilah yang dikenal karena kefasihan bahasanya.
Sejak kecil, ia telah menunjukkan tanda-tanda kecerdasan dan ketekunan. Namun, nasibnya sebagai seorang penggembala kambing dan kehidupan yang sederhana tampaknya tidak menjanjikan masa depan yang gemilang dalam pandangan masyarakat Mekkah saat itu.
Titik balik dalam hidup Abdullah bin Mas’ud terjadi ketika ia bertemu dengan Nabi Muhammad SAW sebelum masa kenabian yang terang-benderang. Kisah pertemuan ini diriwayatkan dengan indah. Suatu hari, Abdullah yang sedang menggembala kambing-kambing milik Uqbah bin Abi Mu’ith, didatangi oleh Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar yang sedang dalam perjalanan.
Baca Juga:

Mus’ab bin Umair Sang Duta Pertama Islam Dan Pelopor Hijrah https://sabilulhuda.org/musab-bin-umair-sang-duta-pertama-islam-dan-pelopor-hijrah/
Mereka meminta susu dari kambing-kambing yang digembalakannya. Abdullah menjawab bahwa kambing-kambing itu bukan miliknya dan ia tidak berhak memberikannya. Kekaguman Nabi Muhammad SAW pada kejujuran dan amanah Abdullah muda begitu mendalam.
Nabi kemudian meminta izin untuk mengambil susu dari seekor kambing betina yang belum diperah. Dengan izin Abdullah, Nabi SAW mengusap punuk kambing itu dan susu pun keluar dengan berlimpah, lalu mereka minum.
Setelah itu, Nabi Muhammad SAW mengusap kembali punuk kambing tersebut dan susu pun berhenti mengalir. Peristiwa ini meninggalkan kesan mendalam bagi Abdullah, sebuah mukjizat kecil yang menggetarkan hatinya.
Tak lama setelah kejadian itu, ketika dakwah Islam mulai bergema, Abdullah bin Mas’ud termasuk golongan awal yang memeluk Islam. Ia menjadi salah satu dari ‘As-Sabiqun al-Awwalun’, orang-orang yang pertama kali menyatakan keimanannya.
Keislamannya bukan tanpa risiko. Seperti para sahabat awal lainnya, ia menghadapi penindasan dan penganiayaan dari kaum Quraisy yang menentang ajaran baru ini. Namun, tekadnya untuk berpegang teguh pada kebenaran tidak pernah goyah.
Kedekatan Dengan Nabi Dan Kehausan Akan Ilmu
Setelah memeluk Islam, Abdullah bin Mas’ud menjelma menjadi salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Ia sering kali mendampingi beliau dalam berbagai kesempatan, menjadi pelayan beliau, dan bahkan disebut sebagai “pemegang sandal dan siwak Nabi”.
Kedekatan ini memberinya akses langsung pada sumber utama ajaran Islam. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan haus akan ilmu, ia menyerap setiap perkataan, perbuatan, dan persetujuan Nabi SAW.
Salah satu keistimewaan Abdullah bin Mas’ud adalah kegigihannya dalam mempelajari Al-Qur’an. Ia di kenal sebagai salah satu Qari’ (pembaca Al-Qur’an) terbaik di antara para sahabat. Diriwayatkan bahwa ia mempelajari lebih dari 70 surat Al-Qur’an langsung dari lisan Nabi Muhammad SAW.
Suaranya yang merdu saat membaca Al-Qur’an sangat disukai oleh Nabi. Suatu ketika, Nabi SAW pernah meminta Abdullah bin Mas’ud untuk membacakan Al-Qur’an. Ketika ia sampai pada ayat, “Maka bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu?” (QS. An-Nisa: 41).
Nabi SAW menangis. Ini menunjukkan betapa dalamnya penghayatan Abdullah bin Mas’ud dalam membaca dan memahami kalamullah.
Bukan hanya dalam hafalan dan tilawah, Abdullah bin Mas’ud juga di kenal sebagai ahli tafsir Al-Qur’an. Pemahamannya yang mendalam terhadap konteks turunnya ayat-ayat (asbabun nuzul) dan maknanya menjadikannya rujukan utama bagi para sahabat lain.
Ia sering berkata, “Demi Allah, tidak ada satu ayat pun dalam Kitabullah yang turun melainkan aku tahu tentang siapa ayat itu turun dan di mana ia turun.”
Kiprah Di Medan Jihad Dan Pengajaran
Abdullah bin Mas’ud tidak hanya unggul dalam bidang ilmu, tetapi juga seorang pejuang yang gigih di jalan Allah. Ia turut serta dalam berbagai peperangan penting, seperti Perang Badar, Uhud, dan Khandaq. Meskipun postur tubuhnya kecil dan kurus, semangat jihadnya tak pernah padam.
Dalam Perang Badar, ia adalah orang yang menemukan dan membunuh Abu Jahl, musuh Islam yang paling keras kepala, meskipun ia harus memenggalnya di tengah-tengah kerumunan tentara musyrikin.
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, Abdullah bin Mas’ud terus mendedikasikan hidupnya untuk menyebarkan ilmu. Ia diutus oleh Khalifah Umar bin Khattab ke Kufah, Irak, untuk menjadi guru dan qadi (hakim).
Di sana, ia mendirikan madrasah (pusat pengajaran) dan menjadi mercusuar ilmu bagi generasi tabi’in. Ribuan murid belajar darinya, mengambil ilmu Al-Qur’an, Hadits, dan fiqih.
Kufah kemudian menjadi salah satu pusat keilmuan Islam terbesar, dan banyak ulama besar yang lahir dari didikan Abdullah bin Mas’ud, seperti Alqamah bin Qays dan Masruq bin Al-Ajda’.
Metode pengajarannya terkenal detail dan penuh dengan penekanan pada pemahaman yang mendalam. Ia sering mengulang-ulang pelajaran agar murid-muridnya benar-benar memahami. Ia juga sangat menekankan pentingnya amal saleh dan ketakwaan dalam menuntut ilmu. Baginya, ilmu tanpa amal adalah seperti pohon tanpa buah.
Keutamaan dan Kedudukan di Mata Sahabat
Abdullah bin Mas’ud memiliki kedudukan yang sangat tinggi di mata para sahabat. Nabi Muhammad SAW sendiri memuji keilmuan dan akhlaknya. Beliau pernah bersabda,
“Barangsiapa yang ingin membaca Al-Qur’an seperti ketika ia di turunkan, hendaklah ia membaca sebagaimana yang di baca oleh Ibnu Ummi Abd (nama panggilan untuk Abdullah bin Mas’ud).” Ini adalah pujian tertinggi yang menunjukkan kemahiran Abdullah dalam membaca Al-Qur’an.
Khalifah Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan juga sangat menghormati Abdullah bin Mas’ud. Umar pernah berkata, “Dia adalah sebuah wadah ilmu yang penuh.”
Sedangkan Utsman, meskipun ada perbedaan pendapat terkait pengumpulan mushaf Al-Qur’an, tetap mengakui keilmuan dan ketakwaan Abdullah bin Mas’ud.
Wafat Dan Warisan Abadi
Abdullah bin Mas’ud wafat di Madinah pada tahun 32 Hijriyah, pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Ia di makamkan di Baqi’, sebuah pemakaman bersejarah di Madinah. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam, tetapi warisan ilmunya tetap abadi.
Hingga hari ini, ratusan bahkan ribuan hadits diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud. Pendapat-pendapat fiqihnya menjadi rujukan penting bagi madzhab-madzhab hukum Islam. Ketekunannya dalam mempelajari Al-Qur’an, keikhlasannya dalam beramal, dan dedikasinya dalam menyebarkan ilmu adalah inspirasi bagi umat Islam sepanjang masa.
Abdullah bin Mas’ud adalah contoh nyata seorang sahabat yang tidak hanya hidup di bawah naungan kenabian, tetapi juga menjadi penerus obor ilmu dan hidayah. Kisah hidupnya mengajarkan kita bahwa kedudukan seseorang di sisi Allah tidak di ukur dari harta atau kedudukan duniawi.
Melainkan dari keimanan, ketakwaan, dan seberapa besar ia memberikan manfaat bagi agama dan sesama. Ia adalah cahaya ilmu dari lembah Mekkah yang menerangi jalan bagi generasi-generasi setelahnya, seorang teladan yang takkan lekang oleh zaman.
Baca Juga: Kisah Sahabat Nabi yang Penuh Makna dan Hikmah dalam Kehidupan Sehari-hari
Oleh: Ki Pekathik













