Abdullah Bin Abbas Lautan Ilmu Umat Islam

Abdullah Bin Abbas Lautan Ilmu Umat Islam
Abdullah Bin Abbas Lautan Ilmu Umat Islam

Oleh: Ki Pekathik

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang paling berilmu dan dihormati. Ia adalah putra dari Abbas bin Abdul Muththalib, paman Rasulullah ﷺ, sehingga Abdullah adalah sepupu langsung Nabi.

Lahir tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah, Abdullah di besarkan dalam lingkungan kenabian yang penuh cahaya wahyu, kebijaksanaan, dan akhlak mulia.

Sejak kecil, Ibnu Abbas menunjukkan kecerdasan luar biasa dan semangat belajar yang mengagumkan. Beliau sering menyertai Nabi ﷺ, menghafal apa pun yang di dengarnya, dan senantiasa berdoa agar diberi pemahaman mendalam terhadap agama.

Rasulullah ﷺ sendiri pernah mendoakan Ibnu Abbas secara khusus:

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

“Ya Allah, berilah dia pemahaman dalam agama dan ajarkan kepadanya tafsir (Al-Qur’an).”

(HR. Ahmad, no. 2669; dinilai shahih oleh al-Albani)

Doa Rasulullah ﷺ tersebut terbukti. Abdullah bin Abbas tumbuh menjadi lautan ilmu (حَبْرُ الأُمَّة), ahli tafsir terkemuka, dan guru bagi para sahabat setelah wafatnya Nabi ﷺ.

Masa Kecil Yang Dekat Dengan Nabi ﷺ

Sebagai anak kecil, Ibnu Abbas sering berada di sisi Rasulullah ﷺ. Ia di kenal sangat sopan, cerdas, dan cepat tangkap. Dalam salah satu hadits, beliau meriwayatkan ajaran agung yang langsung ia dengar dari Nabi ﷺ ketika ia masih kecil:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ ﷺ يَوْمًا، فَقَالَ:

“يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ…”

“Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu…” (HR. Tirmidzi no. 2516; hasan shahih)

Hadits ini mencerminkan betapa serius Nabi ﷺ mendidik anak-anak, dan betapa istimewanya posisi Ibnu Abbas dalam hati beliau.

Baca juga:

Abdullah Bin Umar Pemuda Zuhud, Pewaris Ilmu Dan Keteladanan

Abdullah Bin Umar Pemuda Zuhud, Pewaris Ilmu Dan Keteladanan https://sabilulhuda.org/abdullah-bin-umar-pemuda-zuhud-pewaris-ilmu-dan-keteladanan/

Kecintaannya kepada Ilmu

Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, Ibnu Abbas masih berusia belasan tahun. Namun semangatnya untuk mencari ilmu tidak surut. Ia berguru kepada hampir seluruh sahabat senior. Dalam sebuah riwayat, ia berkata:

“Jika aku mendengar ada sahabat Nabi ﷺ yang memiliki hadits yang belum aku ketahui, aku datangi rumahnya, dan aku menunggu di depan pintunya sampai ia keluar.”

Suatu ketika, sahabat Anshar yang lebih tua berkata kepadanya, “Kenapa engkau lakukan ini, padahal engkau adalah keluarga Nabi?” Ibnu Abbas menjawab dengan rendah hati, “Ilmu tidak datang kepadamu, tetapi engkau yang harus datang kepada ilmu.”

Semangatnya ini membuahkan hasil. Dalam waktu yang tidak lama, para tabi’in dan sahabat muda lainnya mulai belajar darinya. Ia di kenal sebagai al-Bahr (lautan ilmu), dan Tarjuman al-Qur’an (penafsir Al-Qur’an).

Kedalaman Tafsirnya

Abdullah bin Abbas di kenal sebagai rujukan utama dalam tafsir Al-Qur’an. Ia memiliki pemahaman mendalam karena hidup dalam lingkungan turunnya wahyu. Beliau sering menjelaskan konteks turunnya ayat (asbabun nuzul), makna kosa kata, hingga hikmah dari ayat-ayat tersebut.

Misalnya dalam menafsirkan ayat:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً ۖ

(Dan peliharalah dirimu dari fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antara kamu saja…)

(QS. Al-Anfal: 25)

Ibnu Abbas menjelaskan bahwa fitnah di sini adalah maksiat yang dibiarkan, lalu menimpa semua orang. Tafsir ini menjadi dasar bagi prinsip amar ma’ruf nahi munkar dalam masyarakat Islam.

Posisinya Dalam Pemerintahan

Di masa Khulafaur Rasyidin, terutama di zaman Khalifah Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan, Ibnu Abbas sering dilibatkan dalam majelis syura walaupun usianya masih muda. Umar bin Khattab pernah ditanya mengapa ia mengikutsertakan anak muda itu dalam forum ulama senior.

Abdullah Bin Abbas Lautan Ilmu Umat Islam
Abdullah Bin Abbas Lautan Ilmu Umat Islam

Lalu Umar menguji kecerdasannya di depan umum, dan Ibnu Abbas memberikan tafsiran tajam yang membuat semua orang tercengang.

Di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, beliau di jadikan duta diplomatik untuk menghadapi kelompok Khawarij, dan berhasil meredakan sebagian dari mereka dengan hujjah dan kebijaksanaan.

Zuhud Dan Kebijaksanaannya

Meski berilmu tinggi, Ibnu Abbas di kenal sebagai pribadi yang zuhud, lembut, dan dermawan. Ia banyak menangis ketika mengingat akhirat, dan hidupnya di penuhi dengan ibadah.

Suatu ketika ia berkata:

“Sesungguhnya aku tidak mengetahui satu ayat pun yang tidak aku pahami, melainkan aku menangis karena takut ditanya tentangnya di hadapan Allah.”

Ia juga berkata:

“Barang siapa membaca Al-Qur’an, maka seolah-olah ia berbicara langsung dengan Tuhannya.”

Wafatnya Lautan Ilmu

Ibnu Abbas wafat pada tahun 68 H di Thaif, dalam usia sekitar 70 tahun. Saat wafatnya, banyak orang yang menangisi kepergiannya. Dikatakan bahwa pada malam wafatnya, terlihat bintang-bintang seperti turun dan menerangi langit, seolah menandai berakhirnya masa seorang tokoh agung.

Abdullah bin Abbas meninggalkan warisan keilmuan yang sangat besar. Tafsir-tafsirnya menjadi rujukan para mufassir setelahnya, seperti Mujahid, Ikrimah, Atha’, dan juga Imam Thabari. Ia menjadi inspirasi bagi siapa pun yang mencintai ilmu dan ingin menjadi murid sejati Al-Qur’an dan Sunnah.

Teladan Bagi Pencari Ilmu

Kisah Abdullah bin Abbas adalah pelita bagi generasi muda Islam. Ia adalah bukti bahwa usia muda bukan halangan untuk menjadi ulama besar. Dengan tekad, kesungguhan, dan kerendahan hati, seorang anak bisa tumbuh menjadi pemimpin umat dalam ilmu dan hikmah.

Mari kita warisi semangat Ibnu Abbas—mencintai ilmu, menjunjung Al-Qur’an, dan menjaga warisan Rasulullah ﷺ dalam hidup kita.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالتَّقْوَى، وَارْزُقْنَا فَهْمَ كَفَهْمِ ابْنِ عَبَّاسٍ

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan para pencari ilmu dan ketakwaan, dan anugerahkan kepada kami pemahaman seperti Ibnu Abbas.