Cinta Tanpa Restu Part 3

Cinta Tanpa Restu
Diangkat dari Kisah Nyata Oleh: Ki Pekathik

Diangkat dari kisah nyata

Oleh: Ki Pekathik

Menyatukan Perbedaan Pandangan Hidup yang Bertolak Belakang

Disuatu sore di padepokan tempat Aditya tinggal, aroma sabun herbal merebak dari laboratorium sederhana yang disekat kayu bekas palet. Di balik sekat itu, terhampar alas tidur tipis tempat Aditya dan istrinya, Linda, melewati malam-malam awal pernikahan mereka.

Aditya, seorang laki-laki yang tenang, keras dalam prinsip tetapi lembut dalam tindakan. Ia tumbuh dari luka terbuang dari cinta dan hidup yang bertahun-tahun. Mengajarkannya bahwa bahagia bukanlah tentang memiliki, melainkan tentang mensyukuri yang ada.

Sementara Linda, perempuan cerdas dan penuh semangat, datang dari kehidupan yang jauh berbeda. Ia pernah menjalani pernikahan sebelumnya dengan seorang pengusaha kaya. Hidup di kota besar dengan segala kemewahan membuatnya terbiasa dengan standar hidup yang tinggi.

Mereka mencintai satu sama lain. Tapi sejak awal, mereka tahu bahwa cinta saja tidak cukup. “Mas Aditya,” Linda berkata suatu malam, tubuhnya bersandar lelah di dinding laboratorium, “aku ingin hidup seperti orang kebanyakan.

Ya kerja, ya healing, traveling, belanja, pakai berpakaian mengikuti mode, berkumpul dengan sahabat, punya tabungan… ya, hidup yang normal.”

Aditya diam sejenak, menatap lampu temaram yang digantung di langit-langit. “Apa tujuanmu melakukan semua itu, Linda?” tanyanya pelan.

“Karena semua itu… bisa membuat kita bahagia,” jawab Linda yakin. “Dengan uang, kita bisa jalan-jalan, beli kebutuhan, biayai pendidikan anak-anak, bisa bantu orang lain juga. Bukankah itu hidup yang layak? Aku enggak kuat kalau harus hidup sesederhana ini terus.”

Aditya tersenyum. Bukan senyum mengejek, tapi senyum yang penuh pengertian. “Jadi kamu sepakat, bahwa semua orang ingin mencari kebahagiaan?”

“Ya,” jawab Linda mantap.

Pelajaran Makna Bahagia Dari Aditya

Aditya menatap ke arah pintu laboratorium yang terbuka sedikit. Dari celahnya, suara anak-anak asuhnya terdengar mereka sedang tertawa, mungkin bermain petak umpet sebelum tidur.

“Setiap pagi,” ujar Aditya, “hatiku berbunga-bunga lihat mereka. Anak-anak tukang rongsok dan anak jalanan itu bangun, wudu, shalat, lalu masak bareng. Sarapan seadanya, lalu berangkat sekolah dengan semangat.

Baca Juga:

Dulu mereka hidup tanpa harapan, sekarang mereka punya mimpi.” Ia menghela napas. “Mengapa kita buang-buang waktu mengejar kata ‘bahagia’ yang abstrak, sambil menolak kebahagiaan yang nyata di depan mata?”

Angin bertiup pelan, menerbangkan suara riuh tawa anak-anak yang berlarian di ruang depan padepokan, di antara sekat rak buku dan kursi tamu padepokan yang sudah reyot rusak dipaku sana sini. Namun di sudut lain, di ruangan lab, suasana berbeda: lebih hening, lebih dalam.

Di sana duduk Aditya, mengenakan kemeja lusuh favoritnya, dikelilingi beberapa anak asuh yang mulai beranjak remaja.

“Ayah,” panggil Kemal, bocah berusia 15 tahun dengan rambut ikal dan mata tajam, “kalau aku mimpi jadi pedagang, tapi aku nggak punya uang, apa itu berarti mimpiku salah?”

Aditya tersenyum, sambil menepuk pundak Kemal penuh. “Bukan mimpinya yang salah, Mal. Mungkin jalannya saja yang masih butuh waktu untuk kau temukan. Kadang mimpi itu seperti rumah bisa dibangun pelan-pelan, satu bata, satu harapan.”

Anak-anak lain ikut nimbrung. Sambil berbisik diantara mereka Dinda ingin jadi penulis, Rafi ingin punya bengkel sendiri, dan Tika, gadis kecil berumur 9 tahun, dengan polos berkata, “Aku mau jadi seperti Bunda Linda. Lembut, tapi kuat.”

Linda yang berdiri tak jauh, membawa sekeranjang jajanan ala kadarnya, mendadak terdiam. Pipinya merona. Ia tak menyangka anak-anak mulai melihatnya seperti sosok ibu. Sejak dua bulan terakhir tinggal di padepokan, ia banyak mengamati penderitaan anak anak terlantar yang harus berjuang hidup tanpa orang tua.

Menyiapkan kebutuhan  sekolah sendiri, mencuci baju masak bahkan mengurusi anak lain yang masih balita seperti mengurusi adik kandung sendiri.

“Bunda Linda,” sapa Dinda saat itu di tengah ruang belajar, “kalau nanti aku lulus, boleh peluk Bunda dulu sebelum peluk Ayah Aditya?”

Linda menahan senyum dan air mata yang menggenang. Ia jongkok di hadapan Dinda, memeluk gadis itu hangat. “Boleh, Sayang. Bunda bangga padamu, apapun hasilnya nanti.”

Padepokan kini bukan hanya tempat tinggal. Ia telah berubah menjadi rumah singgah yang hangat. Setiap pagi, suara gelas-gelas dan piring terdengar bersahutan dengan celoteh ringan anak-anak. Ketika Linda menyeduh teh, selalu ada yang dengan sukarela membantu bahkan jika hanya untuk mengaduk telur dadar atau mencuci piring.

“Bunda,” panggil Tika lagi suatu pagi, “kalau Bunda nikah sama Ayah Aditya… kita semua resmi jadi anak-anak Bunda ya?”

Mata Linda dan Aditya saling bertemu. Ada senyum getir tapi penuh harap. Mereka belum membicarakan itu dengan jelas, tapi kasih yang mengalir sudah mulai menenun benang-benang keluarga di antara mereka.

Hari-hari di padepokan terus berlalu, sederhana tapi penuh kehangatan. Disamping menjadi  tempat tinggal, juga menjadi ruang tumbuh, ruang menyembuhkan, dan ruang mencinta. Anak-anak yang dulunya pendiam, kini terbuka. Yang dulunya sering bertengkar, kini saling menjaga.

Dan setiap mereka memanggil “Ayah…” atau “Bunda…” ada getar dalam dada Aditya dan Linda getar kasih saying  yang bukan karena darah, tapi karena pilihan hati. Sebuah keluarga sedang di lahirkan di antara doa-doa pagi dan mimpi-mimpi kecil yang tumbuh di bawah bangunan sederhana itu.

Linda menunduk. Suaminya tidak sedang menghakimi, hanya sedang mengajak melihat dari sisi yang lain. Tapi Linda merasa, ia tetap tidak bisa, karena luka masa lalunya juga membuatnya takut hidup kekurangan.

Ketakutan itu seperti bayangan yang selalu mengikutinya, mengingatkan pada kehampaan di balik kemewahan dan kekosongan yang ia rasakan setelah perceraian. Ia pernah punya segalanya, tapi merasa tak punya apa-apa. Ironisnya, kini ia merasa takut kembali ke titik itu, bahkan ketika ia berada di sisi pria yang paling ia cintai.

Love Without a Blessing part 1

Linda, My Treasure Is a Soft Heart and a Fiery Mind Part 2 https://sabilulhuda.org/linda-my-treasure-is-a-soft-heart-and-a-fiery-mind-part-2/

Perpisahan Sementara Awal Kebangkitan

Beberapa hari kemudian, Linda berkata, “Mas, izinkan aku tinggal sementara di kontrakan. Aku tetap setia padamu, tapi… aku butuh ruang untuk merasa hidup seperti yang kumau. Aku ingin kamu bangkit, memulai usahamu. Kamu kan punya banyak riset, kenapa di sia-siakan?”

Aditya mengangguk. Ia tahu Ini tentang Linda yang mencoba melarikan diri dari ketakutan terbesarnya bukan tentang Linda yang tidak sabar atau Linda yang tak menghargai pengorbanan. “Baik, Linda. Demi cintaku padamu, aku penuhi keinginanmu.

Kita cari kontrakkan eksklusif seperti yang kamu inginkan aku masih punya uang untuk itu” akhirnya mereka dapat kamar kost eksklusif di kota jogja, sedangkan Aditya tetap tinggal di padepokan yang sesekali menyambangi  Linda.

Malam itu di kost  keluarga yang di tempati Linda, hujan turun pelan, seolah ikut menenangkan dunia yang terlalu gaduh bagi hati yang lelah. Di atas lantai keramik yang dingin, Linda duduk bersandar pada dinding, memeluk lututnya sendiri. Sinar lampu temaram menerpa wajahnya yang basah oleh air mata.

Di tangannya, sebuah kertas berisi laporan penjualan sabun bulan ini naik dua kali lipat sejak bulan lalu. Di layar ponselnya, pesan masuk dari pelanggan yang puas, testimoni haru dari seorang perempuan yang merasa lebih percaya diri setelah memakai sabun buatan mereka. Harusnya Linda bahagia. Tapi hatinya hampa.

Ia menatap ke luar jendela, ke langit yang tak punya warna. “Kenapa aku merasa kosong, ya?” bisiknya pada dirinya sendiri. Tiba-tiba tangisnya pecah di samping karena  sepi tidak ada Aditya, tapi karena ia merasa kehilangan sesuatu yang tak bisa ia sebutkan.

Sebuah kehidupan yang pernah ia bayangkan—rumah yang hangat, kebersamaan yang utuh, dan cinta yang tak harus dibagi dengan luka dan pengorbanan. Tapi kini, semuanya terasa seperti proyek penyelamatan: menyelamatkan usaha, menyelamatkan semangat, menyelamatkan suami, menyelamatkan cinta yang terus diuji.

Linda tahu, ia mencintai Aditya. Tapi apakah cinta cukup untuk menghidupi batin yang sekarat pelan-pelan?

Selang sebulan akhirnya Aditya memutuskan untuk memulai memproduksi hasil risetnya yaitu sabiun kecantikan. Dia datangi Linda “Boleh aku pinjam cincin kawinmu? Untuk modal. Kita mulai dari sabun kecantikan, ya?”

Beberapa hari sebelumnya, di kamar kos eksklusif  Linda, Aditya duduk dalam diam. Di depannya, selembar tisu putih dan sebuah kotak kecil dari beludru yang nyaris usang.

Ia membuka kotaknya, pelan. Di dalamnya, sepasang cincin kawin sederhana berwarna emas kusam. Tangannya gemetar saat menyentuhnya.

Ia menarik napas panjang. Hatinya berdebar tak karuan. Ini Ini tentang janji yang pernah ia ucapkan dengan penuh keyakinan. “Aku akan menjagamu, menafkahimu, mendampingimu…” Kalimat itu menggema seperti gema kosong di dinding hatinya sendiri bukan soal harga cincin..

Tangannya melambat. Ia menatap cincin itu lama-lama, seolah berharap mendapat izin dari semesta. Dalam keheningan, ia bergumam, “Apakah ini caraku menepati janji… atau justru mengingkarinya?”

Sunyi mengalir di antara detik dan keraguan. Tapi kemudian, Aditya menggenggam kotak itu erat, karena ia tak punya pilihan lain. Kalau hidup mereka akan di selamatkan, maka biarlah janji itu ikut berjuang bersama mereka, menjelma pengorbanan yang hidup.

Ketika Linda melihat Aditya mengulurkan tangan, meminta cincin kawinnya, jantungnya seperti berhenti sejenak. Dunia terasa beku.

Ia mengangguk pelan, tapi dalam dadanya, badai berkecamuk. Tangan kirinya gemetar saat melepas cincin itu. Ia memejamkan mata, merasakan dinginnya udara menyentuh kulit yang selama ini di peluk logam janji suci.

Saat cincin itu berpindah ke tangan Aditya, Linda menahan napas. Ada rasa pedih, ada rasa takut… dan ada setitik harapan kecil. Seolah ia baru saja menyerahkan bagian dari jiwanya untuk ditukar dengan masa depan yang belum pasti.

Tapi Linda percaya satu hal: kalau cinta adalah rumah, maka mereka sedang membangunnya dari puing-puing harapan, bukan dari kemewahan, tapi dari keberanian untuk saling menggenggam… bahkan saat dunia tak memberi jaminan.

Read: Kemensos dan Kementerian PPPA Bentuk Tim Lindungi Perempuan dan Anak